ALIANSI MAHASISWA PAPUA (AMP)
SIARAN PERS
(JAKARTA, SENIN 08 November 2010) - Menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama di Jakarta, ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) akan melakukan aksi demo secara damai dan mulai long march dari kantor Walhi, Jln. Tegal Parang Utara, No. 14 hingga kantor PT Freeport Indonesia, Plaza 89, Kuningan Jakarta, (09/11) mendatang.
Menurut ketua umum Aliansi Mahasiswa Papua, Rinto Kogoya, bahwa tujuan demo ini adalah meminta Amerika Serikat, dalam hal ini Presiden Barack Hussein Obama bertanggung jawab terhadap segala permasalahaan yang terjadi di tanah Papua, terutama masalah status Politik Bangsa Papua yang tidak jelas hingga kini.
“Amerika Serikat memiliki kepentingan sehingga menganeksasi Papua secara paksa ke dalam wilayah teritorial Indonesia melalui pelaksanaan PEPERA yang cacat hukum dan moral di tahun 1969. Sebagian besar rakyat Papua menolak hasil PEPERA tersebut,” katanya.
Sementara itu, Viktor Kogoya dari Aliansi Mahasiswa Papua mengatakan bahwa Amerika Serikat juga bertanggung Jawab terhadap kerusakaan lingkungan dan hutan yang terjadi di tanah Papua, karena menurutnya banyak perusahaan raksasa dari Amerika Serikat yang menanamkan investasinya di tanah Papua tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang bagi masyarakat setempat.
“Bukti paling nyata adalah operasi tambang PT Freeport McMoran Copper & Gold Inc yang telah merusak lingkungan dan hutan milik suku Amugme dan Kamoro di Timika, Papua. Saat ini mereka merasa terancam hidup di tanah kelahiraan mereka sendiri.
Kami tidak ingin karena kepentingan ekonomi Amerika Serikat dan pemerintah Indonesia, justru rakyat Papua yang di korbankan. Ini tentu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan antara pemerintah dan masyarakat Papua,” jelas Viktor.
Sementara itu, Oktovianus Pogau juru bicara Aliansi Mahasiswa Papua meminta Amerika Serikat bertanggung Jawab terhadap segala bentuk pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang terjadi di tanah Papua, karena telah menjalin hubungan kerja sama yang baik, bahkan turut melatih aparat Militer Indonesia (Kopassus).
“Bukti pelanggaran HAM yang di lakukan aparat Militer Indonesia dapat di lihat melalui dua buah video penyiksaan yang beredar di Internet beberapa waktu lalu. AMP minta AS segera menghentikan kerja sama Militer dengan pemerintah Indonesia, karena banyak rakyat Papua yang di siksa secara tidak manusiawi oleh aparat Militer Indonesia,” jelas Oktovianus.
Dua buah video penyiksaan ini di publikasikan oleh Asian Human Rights Commission (AHRC) yang berdomisil di Bangkok melalui situs Youtube. Beberapa hari kemudian, setelah pertemuaan dengan Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Menko Polhukam Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto di depan wartawan membenarkan adanya anggota Militer yang menjadi pelaku penyiksaan dua orang warga sipil yang di duga sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Oktovianus juga mengatakan bahwa UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (red: termasuk Papua Barat) telah gagal total, karena itu pemerintah Amerika Serikat di minta segera menghentikan bantuaan dana Otsus untuk Papua melalui pemerintah Indonesia.
“Pendonor dana Otsus paling besar untuk Papua adalah Amerika Serikat, karena itu kami minta Amerika Serikat segera hentikan bantuan dana tersebut, karena jelas-jelas Otsus telah gagal total di tanah Papua,” tambahnya.
Rakyat Papua telah tiga kali mengembalikan UU Otsus Papua kepada pemerintah pusat melalui Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) di Jayapura, namun nyatanya hingga saat ini Otsus masih berlaku di tanah Papua. “Ini menjadi pertanyaan, sebenarnya siapa yang menikmati dana Otsus itu? Jika rakyat Papua menikmati dana Otsus itu, kenapa mereka masih menjadi warga masyarakat yang paling miskin di Indonesia.
Rakyat Papua merasa Otsus bukanlah solusi, namun Otsus menjadi kutuk yang membuat orang Papua semakin terancam,” tegas Oktovianus.
Ia juga mengharapkan bahwa kedatangan Obama pada tanggal 9 hingga 10 November nanti bukan saja membina hubungan kerja sama yang baik dengan pemerintah Indonesia, namun Obama lebih serius memperhatikan konflik dan krisis kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua, seraya mengambil tindakan kongkrit tuntuk mengatasinya.
“Kami berharap Barrack Obama bisa melakukan kunjugan ke tanah Papua selain mengunjungi Jakarta, agar Ia bisa mengetahui pasti terkait persoalaan yang sedang di hadapi masyarakat disana,” tambah Oktovianus.
Mengakhiri komentarnya, Oktovianus mengatakan bahwa tuntutan rakyat Papua saat ini hanya satu, yakni; minta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan referendum seperti yang pernah di lakukan di Timor Leste pada tahun 1999 silam.
“Biarkan kami menentukan nasib kami sendiri, apakah tetap ingin ikut dengan Negara ini, atau justru ingin membentuk Negara sendiri,” paparnya singkat.(***)
Monday, November 08, 2010
Amerika Serikat Bertanggung Jawab Terhadap Konflik di Tanah Papua
Tuesday, October 12, 2010
SIARAN PERS
KOALISI MAHASISWA PEDULI PELANGGARAN HAM PAPUA
Untuk Segera Diterbitkan
Negara Indonesia bertanggung jawab atas penembakan warga sipil yang terjadi Baliem, Kabupaten Wamena, Provinsi Papua pada tanggal 4 Oktober 2010, pukul 08.00 Wit. Dan termasuk segala pelanggaran berat HAM yang sudah sering terjadi tanah Papua sejak Papua di integrasikan pada tanggal 1 Mei 1963.
Insiden penembakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian (KP3 Bandar Udara Wamena) merupakaan bukti nyata negara tidak bisa melindungi dan mengayomi masyarakat Papua. Bahkan kami bisa mengatakan, Negara tidak ingin hidup berdampingan secara damai dan aman dengan masyarakat Papua.
Insiden ini menewaskan satu orang warga sipil dan beberapa lagi mengalami luka-luka berat. Mereka adalah anggota PETAPA di Wamena. Ini merupakaan tindakan tidak terpuji, sekaligus merupakaan murni tindakan kejahataan manusia (pelanggaran berat HAM) yang di lakukan aparat Militer Indonesia.
Sebelum terjadi penembakan di Wamena, beberapa waktu lalu juga terjadi penembakan oleh anggota Brimob Detasemen C Manokwari di Provinsi Papua Barat terhadap warga sipil setempat. Peristiwa ini menyebabkan dua warga sipil tewas, dan satu mengalami luka-luka berat. Aparat Militer di tanah Papua memang sangat jahat dan kejam.
Insiden penembakan di Wamena bermula dari penyitaan topi PETAPA (penjaga tanah adat Papua), dan sejumlah uang Rp 40.000.000, yang berujung pada korban nyawa manusia yang tak berdosa. Berawal dari adu mulut antara masyarakat dan aparat kepolisiaan, dan pengejaran oleh polisi, dan akhirnya terjadi penembakan tersebut.
Hal ini di lakukan tanpa tembakan peringataan, maupun berusaha menggunakan cara-cara damai. Dalam peristiwa ini Ismail Lokobal (34) meninggal seketika, karena tiga peluru bersarang di dadanya. Kemudian Amos Wetipo (42) tertembak di kepala, Frans Lokobal (36) tertembak di bagiaan pinggang. Tragedi ini berlangsung pukul 08.00 Wit.
Seharusnya pemerintah Indonesia melalui aparat Militer melindungi, mengayomi, dan menjaga masyarakat di tanah Papua, bukan justru membunuh mereka dengan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi. Jika Negara tidak punya niat baik untuk membangun dan menjaga masyarakat Papua, sudah tentu dampaknya akan berbahaya bagi keutuhaan Negara kesatuan republic Indonesia.
Kami minta, lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) yang berdomisil di dunia Internasional seperti; Amensty International maupun Human Rights Watch (HRW) perlu melakukan investigasi menyeluruh terkait pelanggaran berat HAM yang di lakukan oleh Negara terhadap masyarakat adat di tanah Papua. Negara Indonesia harus membuka diri dari intervensi lembaga-lembaga hak asasi manusia internasional.
Kita mengiginkan Papua menjadi tanah damai, tetapi jika Negara melalui aparat kepolisian melakukan tindakan terpuji yang dapat menimbulkan konflik, kami kira percuma kita degungkan jargon Papua tanah damai. Kedamaiaan hanya akan terwujud, jika Negara sadar dan mengakui masyarakat adat di tanah Papua punya hak untuk hidup dan berkembang.
Jakarta, 7 Oktober 2010
Kordinator Umum
Vincentsius Lokobal
Tuesday, March 10, 2009
Ketika Saya Berani Memulai Menulis

OCTHO- Saya tidak tahu, apa jadinya diri saya saat ini, kalau saja saya tidak pernah memberanikan diri untuk memulai sesuatu hal baru, terutama menulis. Karena bukan mudah, seseorang bisa berkembang dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya.
Kala itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kebiasaan saya yang sering membaca beberapa Koran local, dan artikel di Internet membuat saya “terhipnotis” dengan dunia tulis menulis. Walaupun bayangan, cara dan beberapa petunjuk untuk cara menulis yang baik tidak pernah saya temui dari buku-buku penunjang, maupun melalui pengajaran yang para guru berikan.
Saya hidup di Papua, wilayah yang sedikit terisolasi dengan dunia luar. Tentu ini akan memberatkan diri saya untuk maju dan berkembang. Bayangkan saja, kota tempat saya tinggal tidak akan ditemukan satu-pun perpustakaan buku tempat kita membaca. Tetapi semua itu, tidak pernah memudarkan semangat saya untuk tetap berkembang.
Saya ingat satu pesan guru bahasa Indonesia, dimana kalimat ini mengubah segala pola pikir saya untuk tidak menjadi yang terbelakang. “banyak pengetahuan karena sering membaca, mendengar radio dan menonton TV, bukan ukuran kita dinilai sebagai orang hebat, tetapi semua itu akan menjadi hebat, ketika kita mampu menggagaskannya melalui sebuah tulisan”, urai ibu guru yang di ikuti dengan beberapa kata nasihat.
Saya termenung, dengan beberapa kata emas yang ibuguru saya lontarkan. Bagi saya pribadi, mungkin malaikat telah berpesan kepada beliau untuk menyampaikan ini kepada saya. Dan saya sendiri memahami betul, bahwa kadang saya tidak berani untuk tuangkan gagasan maupun ide saya melalui sebuah tulisan pendek, yang bisa di baca oleh orang lain.
Dengan tekad yang kuat, saat itu saya berpikir bahwa tidak ada jalan lain untuk menjadi orang hebat, selain berani memulai, dalam hal ini berani memulai untuk menulis. Dengan balpoint di tangan, saya-pun menggoreskan beberapa gagasan pokok, di sertai penguraian yang sangat-sangat singkat. Alangkah senangnya, saat saya berani memutar otak untuk berani memulai menulis dan menuangkan ide.
Kebiasaan membaca disertai dengan penguraian pendek melalui selembar kertas buku, terus-menerus saya lakukan, walaupun tidak sesempurna tulisan orang dewasa. Kebiasaan ini terus-menerus terpupuk di keseharian saya, sehingga sayapun memiliki banyak buku catatan harian. Tidak lain, fungsi buku catatan harian sendiri, sebagai cerminanan kehidupan saya di keseharian saya.
Sampai pada puncak sedikit kemapanan saya dalam dunia tulisa menulis, saya berpikir jauh untuk “berani memulai” mengirim tulisan saya untuk di muat di Koran local tempat saya tinggal. Memuat sebuah tulisan atau opini di sebuah Koran bukanlah hal muda. Karena berkaitan dengan prinsip jurnalisme yang harus ekstra ketat.
Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, beberapa kali saya mengirim tulisan ke beberapa media local di tempat saya untuk di muat. Namun seiring berjalannya waktu, tidak ada satu-pun tulisan yang di muat. Jujur, saya sangat kecewa karena perlakuan redaktur media cetak dimana tidak pernah menghargai saya sebagai seorang “anak-anak” yang baru berani memulai menulis.
Namun kekecewaan itu, lagi-lagi tidak pernah memudarkan semangat saya untuk tetap menulis dan menulis. Beberapa opini maupun tanggapan saya tentang lingkungan sekolah, bahkan sampai pada kebiasaan anak-anak muda selalu di pampang di Mading (majalah sekolah).
Hari awal lahirnya semangat saya muncul, ketika tulisan saya mengenai pro dan kontra Ujian Nasional berhasil menghiasai salah satu Koran ternama di tempat kami. Dan saya berpikir, itulah awal di mana saya melangkah untuk menjadi yang terbaik. Sangat gembira suasana hati saya pada saat itu. Dan awal tulisan saya di muat di media cetak saat itu, ketika saya duduk di kelas 3 SMP di semester awal.
Dua kata “berani memulai” hal ini bisa saya sebut ketika tulisan saya berhasil di muat di Koran local tempat saya tinggal. Sejak saat itu, karena beberapa redaktur media masa telah mengenal saya, sebagai penulis “anak-anak” yang rajin mengirim tulisan, maka sampai saat ini telah banyak sekali tulisan saya yang di muat di media tempat saya tinggal. Selain Koran, beberapa tabloid juga sempat memuat tulisan saya.
Ketika saya berkumpul bersama-sama dengan teman-teman yang ingin belajar akan dunia tulis menulis, saya selalu tekankan untuk mereka berani memulai. Dimana dalam hal ini berani memulai untuk menulis. Karena sedikit kelebihan saya tentang tulis menulis, saya sangat senang. Karena bisa di kenal oleh siapapun, termasuk beberapa orang besar di tempat saya.
Dan saat ini juga, saya jadi Pemred di Buletin sekolah yang terbit setiap bulan. Selain itu, sering memberikan ceramah tentang menulis pada beberapa teman-teman sekolah saya yang masih sedikit lemah dan kurang akan dunia tulis menulis.
Satu motto hidup yang selalu saya pegang, “kekurangan dan kelemahan, bukanlah hambatan dan halangan untuk saya tidak berkembang, melainkan itu adalah cambukan yang mendorong saya untuk lebih bersemangat dan menunjukan kualitas diri saya”.
Senang bisa menjadi seorang penulis muda, walaupun berbagai kekurangan dan ketidaktahuan selalu dan selalu menghantui diri saya. Kehidupan adalah pilihan, pilihan hidup kita akan baik ketika berani memulai dengan berbagai hal-hal yang positif dan kehidupan kita akan buruk, ketika berani memulai hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat.
Semua tulisan saya bisa di lihat di web blog pribadi saya www.pogauokto.blogspot.com yang semuanya terpampang “murni” buah karya saya. Saya juga sangat senang dengan dunia teknologi saat ini, bisa menjadikan saya pandai dengan beberapa tanggapan yang selalu para pembaca layangkan ke blog pribadi saya. Senang juga, kalau teman-teman dari Pelatihan Menulis HOKI bisa mengunjungi dan memberikan tanggapan tentang segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki.
Menulis itu tidak ada sulit, menulis itu tidak ada yang sukar, menulis itu tidak ada yang memberatkan. Kesulitan, kesukaran dan keberatan itu dirasakan oleh kita, ketika kita tidak pernah memberanikan diri kita untuk berani memulai, dalam hal ini berani memulai untuk menulis.
Sumber Gambar : www.fldom.org/images/Hand%20Writing.jpg
Sunday, February 22, 2009
Menulis Itu Merubah Peradabaan

Dari sekian banyak peserta PMOH (salah satu pelatihan menulis Online), saya sendiri yang mungkin masih duduk di bangku pendidikan sekolah menengah atas (SMA). Saat awal saya ingin mendaftarkan diri untuk ikut pelatihan menulis dari PMOH, sudah timbul keraguan. Dimana saya selalu berpikir, bahwa mana mungkin saya bisa menyesuaikan dengan para peserta yang sudah lebih mapan dari aku.
Satu tekad saya, belajar dari kekurangan dan ketidaktahuan. Prinsip itu yang saya pegang, sehingga saya beranikan diri untuk mendaftar PMOH. Dalam beberapa kesempatan, sayapun meragukan diri dan kemampuan saya. Dimana menyadari banyak kekurangan dan ketidaktauan saya tentang dunia tulis menulis.
Saya pernah suatu kali menulis sebuah karya tulis yang sangat sederhana kemudian dikirim ke salah satu penulis kawakan yang telah jajal dunia dengan karya tulisnya. Apa katanya ketika saya meminta bantuan padanya untuk mengedit tulisan itu. Yang mana dengan komentarnya itu, sedikit “membunuh” semangat saya.
“Bisakah kamu tulis lagi naskah ini dengan cara bercerita? Naskah ini baru
memasukkan data-data, secara kering, tanpa kutipan, tanpa cerita. Orang
akan susah mengeditnya. Ini belum berupa "masakan" namun hanya "hasil
belanjaan." Naskah yang bagus adalah naskah masih olahan. Bukan semua
bahan mentah baku kumpul. Terima kasih.” Singkat namun menusuk komentarnya.
Siang itu saya bingung, harus menulis bagaimana lagi. Sudah semua cara kulakukan untuk menulis sebuah karya tulis sehebat mungkin. Tapi kok masih di anggap sebagai bahan “belanjaan”. Jujur saya sempat bingung membaca komentar itu.
Dengan peristiwa diatas, saya baru sadari bahwa menulis tidak semudah kita membalik telapak tangan. Ada saat kita di kritik karena ketidakmampun kita, ada saat kita di kritik karena kekurangan kita, dan ada saat kita di kritik karena ketidakberdayaan kita.
Satu harapan saya, akan menjadi penulis handal yang dapat menjadi terang bagi tanahku Papua. Saya bersykur dan sangat senang, bisa mendapat binaan dan tuntunan dari PMOH, semoga harapan dan cita-cita saya tercapai. Menulis adalah merubah peradaban dunia, terlebih khusus Papua tempat saya tinggal.
Sumber Gambar :http://i234.photobucket.com/albums/ee131/rullylamusu/Writing3.gif
Friday, October 24, 2008
Hidup Itu Menyenangkan
TEMAN-TEMAN tau nggak, tadi saya gembira sekali disekolah. Entah apa penyebabnya. Kegembiraan dan kebahagiaan itu muncul begitu saja. Bukan karena guru pelajaran bahasa Indonesia nggak masuk, bukan juga karena nggak terlambat masuk sekolah, terlebih bukan karena nggak ngantuk dikelas (maaf bongkar kebooh nihh)
Tapi tau nggak, apa penyebabnya? Ingat persisi, 2 hari lalu saya baru menyelesaikan sebuah artikel. Bertepatan dengan semakin dekatnya PILKADA di daerah kami. Artikel itu berisi tentang beberapa kesalahan dan kebobrokan pemerintah daerah dan KPUD ditempat saya dalam persiapan menyambut pesta demokrasi (kayak jago politik aja)
Sempat saya kirim artikel itu ke sebuah Koran di tempat kami, alangkah kagetnya, paginya tulisan saya telah berhasil dimuat. Tapi sayangnya tidak semua dimuat (bersambung) karena kebanyakaan. Ketika pulang sekolah siangnya saya sempat di telvon oleh beberapa teman saya karena kekaguman mereka terhadap tulisan itu (bukan sombong lho)
Secara pribadi, saya baru anak kemarin yang baru kenal dunia tulis menulis rasanya sangat senang. Bukan sekali saja tulisan saya dimuat seperti itu, udah banyak sekali tulisan yang dimuat. Namun saya merasa, bahwa tulisan itu lebih objektif, lebih mengena, lebih memberi pemahaman di tengah situasi yang semakin memanas.
Kalau mau dibilang dari hasil tulisan itu, tidak ada sepersenpun yang saya dapatkan (bukan berarti menagih lhoooo) namun ketika ide, gagasan, argument saya tersampaikan ke public bagi saya itu suatu kegembiraan yang sangat luar biasa. Dimana emosi, beban, serta pergumulan pengamtan saya bisa tersalurkan.
Jangan salah lhoo, orang yang banya ide tetapi tidak pernah keluarkan ide bisa saja orang itu gila. Makanya jangan heran kalau lihat beberapa perampok dan maling di pejara adalah lulusan sarjana. Semua itu bukan karena keinginan mereka, tetapi karena tidak tersalurkannya ide dan gagasan mereka dalam suatu ajang atau kegiatan.
Bagi saya menulis adalah obat yang paling mujarab. Dimana menulis tidak membuat kita kecewa, tidak membuat kita dendam, tidak membuat kita jengkel. Percaya tidak percaya coba aja kalau amarah dan dendam kita disimpan terus menerus apa jadinya. Bagi saya menulis itu membebasakan, menulis itu membangkitkan, menulis itu mengubah peradabaan.
Jadi pertanyaan, kenapa tidak semua orang suka menulis. Saya ingat persisi tulisan saya yang pertama kali, saat itu kelas dua SMP. Dimana dimading sekolah guru bahasa Indonesia kami memasang sebuah topic menarik untuk kami tulis. Saya ingat persis, topic yang diangkat pada saat itu mengenai kasus lumpur lapindo. Pada saat itu walaupun baru awal saya menulis, ibuguru saya sempat acungkan jempol dengan tulisa itu.
Mungkin itu awal mula saya tertarik dengan dunia tulis menulis. Orang yang suka menulis sadar tidak sadar butuh yang namanya penghargaan. Sayapun demikian, apabila tidak mendapat penghargan dari orang lain saya akan marah dan marah, (malu ahhhh) tapi nggak juga kok, tergantung bagaimana penilaian orang pada saya.
Teringat salah satu tulisan Yermias Degey, penulis muda dari Papua yang sempat dipublikasikan di majalah selangkah, dimana banyak membeberkan tentang pengaruh yang dapat ditimbulkan dari tulis menulis. Satu istilah penting yang di pakai dalam tulisan itu adalah mengenai “Budaya bisu”
Di Negara ini yang tidak bisu Cuma Presiden dan Jurnalis. Presiden dengan segala maunya bisa perintahkan apa saja untuk dilakukan. Mentri-mentrinya hanyalah bawahan yang taat pada segala aturan dan tata tertib yang diperintahkan oleh sang presiden. Sehingga sampai kapanpun yang namanya presiden adalah seorang pemegang kekuasaan, orang yang selalu bicara dan bicara. Zaman gini kalau mau andalkan musyawarah itu omong kosong belaka.
Yang berikutnya adalah seorang jurnalis. Saya yakin, orang jurnalis dalam hidupnya selalu bahagia dan bahagia karena selalu bersuara. Dimana bersuara mengukap dendamnya, mengukap ketidabenaran menurut kasatmatanya, mengukap banyak hal yang membebasakan dirinya.
Bukan berarti dengan tulisan ini saya memaksa para pembaca untuk menjadi jurnalis, lagian bagi saya menulis bukanlah karir yang akan saya tekuni terus menerus, melainkan tempat lari dan bersandar dirinya saya ketiak banayk goncangan.
Jadi gimana mau tetap terbelenggu dengan budaya bisu, ataukah mau keluar dari dunia itu? Tergantung pilihan kita, karena salah memilih juga dapat membuat kita tidak bahagia dalam menjalani hidup. Yang mana asyik, tetap dalam kebisuaan ataukah keluar dari budaya itu menjadi orang yang bebas. Tergantung anda.