Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts

Friday, May 14, 2010

Mahasiswa Uncen Palang Kampus Sambil Berdemo

Kampus Uncen milik orang asli Papua, sudah tentu kesempatan untuk mendapatkan pendidikan juga harus di berikan kepada mereka . Kenyataan ini mengalami kendaia, tuntutan mahasiswa cuma satu, kembalikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan.

OCTHO- Mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua berdemo ke kampus sekaligus mereka memalang kampus mereka, terkait penerimaan mahasiswa baru di kampus Uncen yang menurut mereka lebih di dominasi oleh orang non-Papua, Jumat (14/05) kemarin.

Benyamin Gurik, Kordinator aksi mengatakan bahwa kampus Uncen adalah kampus orang asli Papua, oleh karena itu penerimaan mahasiswa baru harus lebih berpihak kepada anak-anak aslis Papua itu sendiri. “Kampus ini milik orang asli Papua, oleh karena itu penerimaannya harus berpihak kepada orang asli Papua,“ tegasnya.

Lebih lanjut menurut Gurik, visi dan misi Uncen sudah jelas, bahwa ingin memberdayakan anak-anak asli Papua, oleh karena itu harus di wujud nyatakan komitmen itu.

Gurik juga mengatakan bahwa, sistem penerimaan mahasiswa baru yang bersifat online tidaklah memihak kepada orang asli Papua, karena tidak banyak orang asli Papua yang paham akan dunia teknologi, dalam hal ini dunia internet. Selain itu juga banyak orang asli Papua yang hidupnya di daerah-daerah pedalaman, pesisir dan pegunungan, sudah tentu tidak terdapat fasilitas internet di sana.

Kebijakan kampus yang membuka pendaftaran mahasiswa baru dengan system Online sudah tidak relevan, dan tidak pas untuk anak-anak asli Papua, kami kira manajemen kampus memahani persoalan ini, pungkas mereka saat menyampaikan pendapatnya.

Setelah secara bergantian masa menyampaikan orasi, akhirnya mereka diterima oleh pembantu rektor satu, Festus Simbiak bersama dengan beberapa dekan fakultas di ruang Auditorium. Dalam arahanya pembantu rector satu mengatakan bahwa tuntutan yang di sampaikan oleh mahasiswa akan di bicarakan dengan pihak kampus, dalam hal ini kepada rektor juga.

“Kami sudah tentu akan mengakomodir tuntutan ini, nanti kita akan lihat sama-sama di akhir pengumuman. Tungguh saja hingga ada hasil yang jelas,” urainya menjelaskan.

Setelah pembantu rector satu menjelaskan terkait tuntutan mereka, dengan tentang masa membubarkan diri. “Kami akan kawal dan tunggu sampai ada hasil penerimaan mahasiswa yang di umumkan secara resmi,” tegas salah satu pendemo kepada media ini. (oP)



headerr

Baca Selengkapnya......

Sunday, January 17, 2010

Quo Vadis Pendidikan dan Guru

Prolog

OCTHO-
Kemana arah pendidikan dan guru di negeri ini, pertanyaan yang patut untuk dijawab. Sungguh aneh, ironis bahkan menyedihkan itu sebuah ungkapan yang pantas diberikan saat mengamati jalannya pendidikan dari tahun ke tahun. Tepat yang dikatakan Eko Prasetyo, Penulis buku “Orang Miskin dilarang Sekolah”, bahwa sekolah adalah ladang bisnis yang paling mengiurkan. Pengamat pendidikan, pengambil kebijakan, bahkan para pakar pendidikan selalu memafaatkan moment bergensi itu.

Guru-guru sangat diharapkan menjadi sapi perah yang terus menerus memerah anak murid dengan pengajaran gombal dan berbagai pungutan liar. Guru layaknya seorang tuan, serta siswa sebagai budak yang tidak ada harga dirinya. Sangat mustahil, budak dan tuan akan bersatu, apalagi makan semeja. Tuan akan memperlakukan budak semaunya. Bahkan budak itu bisa disuruh untuk mencium kakinya.

Keputusan Ujian Nasional (UN) yang telah ditetapkan kurang lebih lima (5) Tahun lalu oleh pemerintah Pusat, tentu menjadi bumerang bagi siswa. Guru hanya menjadi tameng, yang menyedihkan, guru dipaksakan untuk meluluskan siswa-siswinya dengan berbagai cara, termasuk cara-cara ilegal dan bejat sekalipun. Padahal, kualitas dan kuantitas guru tidak begitu menjanjikan sesuai dengan tuntutan yang ada dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2003).

Buntut dari pengambilan kebijakan yang sepihak dari Pemerintah Pusat, tentu akan berdampak pada pengambilan kebijakan dari satuan pendidik disetiap kota, yang berujung pada keterbelengguan siswa sebagai generasi muda yang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman. Siswa dan guru dibuat sama-sama kalang kabut oleh pemerintah Pusat. Tapi apa boleh kata, mereka hanya bagian terkecil dari penyelenggaraan pendidikan di negeri ini, yang telah menjadi korban.

Lulus murni (baca: 100%) dengan hasil yang sangat memuaskan di setiap kota, dengan perjuangan yang sungguh di luar rasa kemanusian adalah hal yang wajar. Lihat saja, di setiap kota di Negeri ini banyak lulusan yang harus menjadi penggaguran, semua ini lantas karena tidak memiliki kecakapan hidup (Life Skill Education) hal ini sudah tentu berimbas pada bertambahnya jumlah penggaguran di negeri ini. Yang lama kelamaan dapat menimbulkan tercipatnya suatu konflik horizontal.

Jika demikian, apa yang pemerintah pusat hasilkan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional yang telah nyata-nyata kontra di Negeri ini. Sudah tentu ini menjadi pekerjaan rumah buat para pengambil kebijakan di negeri ini. Evaluasi yang mendalam terkait persoalan ini sudah tentu harus dilakukan. Karena Ujian Nasional, sudah bukan menjadi jawaban untuk merubah wajah pendidikan di negeri ini.

Lantas karena berbagai persoalan dan ketidakadilan yang berlaku di negeri ini, tentu berimbas pada ketidakpercayaan generasi muda, kalau sekolah dan pendidikan formal tentu membawah perubahan di masa depan. Keraguan para pendidik-pun demikian, karena Ujian Nasional sama sekali tidak pernah memihak kepada mereka.

Yang jadi persoalan, kalau banyak siswa-siswa dan guru-guru di negeri ini tidak betah menjalani dan menikmati pendidikan di negeri, siapa yang mau di alahkan. Apakah mau salahkan siswa-siswa yang telah nyata-nyata menjadi korban. Atau apakah harus menyalahkan para guru-guru yang hak dan kewenangannya telah nyata-nyata dilacuri oleh pemerintah pusat? Kita akan jawab bersama-sama dengan uraian di bawah ini.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<


Secara jujur, saya orang yang paling malas dengan kegiatan pulang pergi ke sekolah. Saya Kadang-kadang, bahkan hampir sering alpa, bolos, dan juga beralasan yang cukup banyak untuk tidak masuk. Saya tidak tahu, mengapa harus demikian? Padahal jarak sekolah dengan tempat tinggal saya sangat-sangat dekat (baca: 20m). Bukan berarti, saya tidak ingin mendapatkan pengetahuan di sekolah.

Setelah diperingatkan, baru kadang-kadang saya menulis sebuah surat sakit atau izin, itupun hanya alasan menutup kedok semata. Memang kata teman-teman, guru-guru, bahkan kepala sekolah mengklaimnya sebagai tindakan yang sungguh sangat “aneh”. Tapi itulah saya. Bagi saya menjadi orang aneh, adalah hal yang luar biasa. Karena La Roucefoucauld, kadang orang-orang anehlah yang membawah perubahan untuk dunia.

Saya lebih senang habisin waktu di rumah sambil internetan. Dimana mendapatkan informasi baru, sahabat baru, bahkan dapatkan sebuah dunia baru. Internet tidak pernah membelenggu, memperbudak, bahkan “membunuh” saya seperti pendidikan dan sekolah yang kadang “membunuh” dan “memperbudak”. Internet memberikan segala kebebasan untuk saya berekspresi. Baginya, apa yang dipunyainya, adalah kepunyaanku.

Awal mula saya kenal dengan dunia internet, ada sebuah nasihat yang diberikan oleh seorang guru komputer pada saya saat itu (baca: 4 tahun lalu). Dan bagi pribadi saya, nasehat ini adalah awal untuk saya melangkah, dan menjadi yang terbaik.

“dunia internet itu seperti sebuah pisau, tergantung yang mempergunakan pisau itu. Kalau pisau itu digunakan untuk hal-hal negatif, maka sangat berbahaya untuk kehidupannya. Tetapi kalau pisau itu digunakan secara baik dan cermat, maka akan memberikan sebuah manfaat yang sangat luar biasa”. Yah, memang demikian, itulah dunia internet.

Nasihat ini menjadi pelita untuk saya pribadi, bagaimana dapat menjadi orang yang serba hati-hati mempergunakan internet. Dan saya sangat senang, bisa diterima menjadi seorang sahabat dunia baru (baca: internet) yang bisa membuat dan menjawab segalanya. Saya paham, mana yang pantas untuk dipelajari, dan mana yang tidak pantas untuk dipelajari. Mana yang akan bermanfaat untuk perkembangan saya, dan mana yang akan menghancurkan hidup saya. Semua itu adalah sebuah pilihan hidup.

Selain internetan, saya juga lebih senang di rumah sambil baca buku yang dapat memotifasi dan memberikan pengetahuan kepada saya. Buku adalah jendela dunia, pernyataan ini sunguh sangat tepat. Dengan membaca buku, kita bisa mengelilingi dunia, walau hanya sebatas hayalan pengetahun belaka.

Saya selalu berpikir, perpustakaan mini yang ada di rumah sudah tentu akan menjadi guru terbaik saya. Guru yang memberikan segala informasi dan pengetahun. Perpustakaan mini itu adalah sahabat terbaiku. Sahabat yang mengajari saya tentang relitas keberadaaan dunia. Perpustakan ini sungguh telah memberikan sebuah pemahaman kepada saya, kalau datang ke sekolah bukanlah satu-satunya jalan untuk menjadi orang sukses. Sekolah bukan segalanya untuk membentuk karakter. Yah, memang semua itu sangat betul.

Saya lebih senang menjadi orang yang tidak munafik. Mempelajari dan memahami jahat dan buruknya dunia. Kehidupan haruslah demikian. Saya tidak senang dengan hal-hal jahat di dunia ini, tetapi mempelajari apa itu hal-hal jahat yang ada di dunia adalah kesenangannku. Dan buku dan internet mengajari semua akan hal itu. Dan pilihan itu ada pada kita, tindakan apa yang dapat kita lakukan dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman itu.


Ke sekolah Itu Habisin Waktu

Saya selalu ingat, kata beberapa orang terkenal bahwa “Time Is Money” yang artinya waktu adalah uang. Pejabarannya, waktu dapat bermanfaat untuk menghasilkan sebuah uang. Termasuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang dapat bermanfaat di masa depan nanti. Jadi, waktu sangat penting bukan? Hal ini sungguh menyadarkan saya tentang pentingnya mempergunakan waktu dengan baik.

Bagi saya pribadi, ke sekolah hanya akan menghabiskan segalanya. Termasuk menghabiskan waktu belajar, waktu tidur bahkan sampai pada menghabiskan waktu untuk berpikir panjang, termasuk memikirkan masa depan.

Saya lebih senang tidur, dari pada harus ke sekolah. Karena ketika saya tertidur, saya sedang memikirkan hal-hal besar apa yang akan saya buat. Tapi ketika saya ke sekolah, belum tentu saya berpikir yang besar, bahkan bukan tidak mungkin hal-hal konyol akan saya pikirkan, bahkan belum lagi kalau guru-gurunya pada konyol semua.

Habisin waktu di sekolah dengan tidak menghasilkan apa-apa bagi saya adalah kesalahan terbesar. Apa lagi, kalau waktu-waktu itu tidak di isi dengan pelajaran yang dapat membuat saya dan teman-teman pandai secara “rapot”. Apa itu pandai secara rapot? Itulah penyerapan pengetahun yang nyata, karena berbagai pengajaran dan doktrin pemerintah Pusat melalui buku teks pelajaran yang kadang dinilai sebagai ajang bisnis.

Saya selalu menyesal, kenapa waktu saya sering kali dihabiskan di sekolah tanpa mendapatkan apa-apa? Apalagi kalau teman-temannya pada bandel semua, disertai dengan gerak-gerik pencarian jati diri yang selalu berlebihan. Ini sebuah realita pada bangku pendidikan. Mungkin kata banyak orang, ini merupakan masa-masa pubertas. Masa untuk mengenal siapa dirinya.

Waktu untuk hidup, digunakan untuk mempelajari segalanya, termasuk mempelajari jahat dan buruknya dunia. Tuhan tidak pernah bersabda, bahwa matahari yang diciptakannya hanya untuk orang baik, namun orang jahat-pun mendapatkan kesempatan untuk menikmati panas teriknya matahari. Tapi yang perlu disadari, tidak menjadi pelaku kejahatan di dunia ini adalah pilihan terbaik.

Kata kasarnya, KE SEKOLAH ITU MENGHABISKAN WAKTU. Yah, memang benar, karena fakta di lapangan berbicara demikian. Jadi, alangkah baiknya belajar di rumah disertai memahami betul buruk dan jahatnya dunia ini, termasuk dunia pendidikan, dari pada menjadi penjahat sekolah, dan penikmat pendidikan yang berhasil dengan tidak memiliki kualitas Sumber daya manusia yang menjanjikan.


Kadang Guru Bersikap Konyol


Maaf kalau saya mengklaim guru-guru dengan kata konyol, karena memang fakta berbicara demikian. Saya tidak tahu, apa mereka tahu ketika mereka sedang bertindak secara konyol, atau mereka sedang bertindak mengarah kepada kekonyolan diri sendiri. Tapi pada intinya, mereka sadar kalau tindakan mereka itu sungguh konyol.

Ironis, telah disadari, tapi tidak pernah merubah diri. Membelunggu diri sendir, ini kalimat tepat untuk mereka para guru. Menjadikan diri menjadi guru yang konyol adalah pilihan hidup, dan pilihan itu tidak pernah dipilihkan oleh orang lain, namun bersumber dari keputusan diri pribadi.

Apa sebab saya klaim mereka konyol? Saya tahu, memang kesejahteraan mereka seringkali diabaikan. Tapi bukankah, keputusan untuk menjadi seorang guru, adalah suara sanubari hati yang patut dipertanggung jawabkan kepada Tuhan. Jangan jadikan profesi guru sebagai tempat pelarian yang paling aman karena tidak ada lapangan pekerjaan. Semoga tidak ada guru yang berpikir demikian. Kalau ada yang berpikir demikian, harus sadar dengan insaf, karena agama melarang seseorang untuk berdusta. (2)

Karena berbicara konteks seorang guru, berarti berbicara mengenai segala tugas, tanggung jawa, penderitaan, dan kesusahan yang akan dihadapi. Ini lebih kepada mereka, sehingga mereka selalu disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, saya katakan yah, memang sangat tepat. Presiden bisa memerintah Negara, dokter bisa merawat pasien, pilot bisa membawah pesawat, hanya karena tangan dingin dari para guru.

Kekonyolan para guru yang pertama, sering dan sering terlambat ke sekolah. Waktu diabaikan, hal ini sudah tentu. Ketika mereka terlambat ke sekolah, otomatis siswa yang ingin mendapatkan suatu pengetahun menjadi korban. Saya tidak tahu apa pergumulan dan persoalan yang sedang dihadapi, tetapi bukankah mereka harus insaf dengan tugas utama mereka, dimana “memanusiakan manusia”, kata Paulo Freire.

Kekonyolan yang Kedua. Sering menunda wakut untuk mengajar. Sudah terlambat datang, kemudian saat siswa-siswi melaporkan tentang hal ini, sering disuruh tunggu di ruang kelas. “kalian tunggu di ruang kelas, nanti ibuguru/pakguru masuk. Kira-kira 20 Menit lagi yah” ini pernyataan yang selalu diucapkan para guru. Padahal tidak demikian, hampir 1 jam bercerita dengan teman-teman guru di kantor sampai habisin waktu mengajar, lagi-lagi siswa menjadi korban.

Kekonyolan ketiga, guru kadang bersikap otoriter. Pendidikan harus membebaskan, bukan membelenggu. Pendidikan haruslah menjadikan anak-anak sebagai individu yang menikmai kehidupan, bukan sebagai individu yang layak untuk ditawan, layaknya seorang budak. Seharusnya semua praktisi pendidikan, baik guru, kepala sekolah, sampai pada pejabat dinas pendidikan harus membaca beberapa buku yang di tulis oleh Paulo Freire, tentang pendidikan pembebasan. Karena buku-buku tersebut akan menjadi cerminan dalam mendidik dan mengarahkan siswa-siswi.

Kekonyolan yang keempat, guru selalu menjadikan dirinya Tuhan kedua, alis tidak memiliki kesalahan sama sekali. Sungguh ironis, ketika guru dengan berbagai cara biadab untuk membenarkan dirinya dari sebuah kesalahan. Anak-anak yang didik, memunyai mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan pikiran untuk berpikir, tetapi anak-anak didik selalu dianggap sebagai pribadi yang tidak berarti dengan segala kesalahan guru yang selalu dibenarkan, walaupun kenyataannya salah.

Guru selalu bertindak sebagai pribadi yang benar. Tindak lanjut dari pada kritikan atau protes yang dilakukan seorang anak terhadap guru, berimbas pada nilai rapot yang kadang jelek. “kamu boleh mengkritik saya didalam kelas saat ini, tetapi lihat saja nanti dalam nilai rapot kamu” ucapan Ini yang sering kali dikatakan oleh guru yang beranggapan sebagai Tuhan kedua. Mungkin malu kali.

Mungkin hanya beberapa kekonyolan guru yang bisa saya paparkan diatas, mewakil banyak kekonyolan guru lainnya. Tidak bisa dipungkir lagi, kadang kekonyolan ini-lah yang membuat saya dan generasi muda saat ini malas untuk pergi ke sekolah. Dan saya sadar ini adalah sebuah tindakan spontanitas yang sangat masuk diakal. Dan saya yakin, banyak anak-anak yang memiliki idealisme yang sama seperti saya, tapi saya juga bingung, apa yang membuat mereka tidak bertindak sampai saat ini. Atau mungkin, ada juga yang telah bertindak. Kalau ada, mungkin kita sepaham.

Saya dalam hal ini tidak berdiri sebagai seseorang hakim yang menghakim kesalahan para guru yang telah mengajari saya, namun hanya berdiri sebagai seseorang yang mengarahkan kepada sebuah pembetulan agar insaf dan sadar dengan perbuatan para guru yang sedikit tidak “berbudaya”. Kalian dalam segala waktu, cuaca, situasi tetap selalu menjadi pahlwan tanpa tanda jasa.


Sekolah Mencari Nilai Bagus

Saya salah satu orang yang paling benci dengan nyontek. Bahkan paling tidak suka kompromi dengan seorang guru yang ucapan katanya manis-manis dibibir untuk memperbudak pribadi saya. Mungkin ada maunya kali, kalau ada seorang guru yang bertindak demikian itu yang kadang saya pikirkan.

Mungkin kata beberapa orang saya sedikit berprestasi di luar sekolah, namun jangan kaget kalau beberapa nilai sekolah saya sedikit “bobrok”. Malu juga sih! tetapi memang kenyataan demikian, apa boleh buat. Saya insaf dengan kemampuan dan kelebihan saya, kalau tidak bisa, apa mau dipaksakan? Tetapi paling semua kita akan paham, siapa yang salah dalam konteks ini. Karena Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bukanlah solusi untuk memanusiakan manusia.

Model pendidikan di Indonesia adalah model pendidikan yang aneh. Salah satu keanehan itu bisa dilihat dari siswa-siswi yang berlomba-lomba dengan berbagai cara halal maupun tidak halal untuk mendapatkan nilai bagus. Demikian halnya dengan guru, mereka akan mengusahakan berbagai cara, halal maupun tidak halal untuk membantu siswa-siswinya agar berhasil dengan nilai tinggi.

Pendidikan di Benua Eropa (baca: Jerman, Perancis, Belanda) serta beberapa Negara maju lainnya tidak demikian. Bukankah bangsa dan siswa-siswi yang ada di Indonesia harus bercermin dari cara belajar dari Negara-negara berkembang demikian. Makanya jangan heran, kalau Negara ini (baca: Indonesia) tidak pernah berkembang dan maju.

Nyontek dikalangan siswa, adalah sebuah aktivitas yang lumrah. Lagian bagi mereka, kalau nyontek sudah tentu akan mendapatkan sebuah nilai yang bagus. Imits ini telah tertanam dari generasi ke generasi, karena model pendidikan yang harus menuntut dan memaksa seorang siswa untuk menjadi sempurna.

Ada seorang kakak kelas pernah berkata begini. “saya ini sekolah di sekolah yang sangat bermutu, ternyata pengamatan saya dalam beberapa bulan saat saya baru masuk, semua anak-anak yang ada dalam ruangan kelas memakai metode nyontek untuk mendapatkan nilai yang bagus. Saya pribadi yang tidak biasa dengan hal ini, harus ikut terjun kedunia nyontek, karena malu kalau nilai jelek terus, nanti teman-teman dorang bicara apa”. Ini katanya.

Pendidikan dengan model mencari nilai bagus, menjadikan siswa sebagai pribadi yang “tolol”. Bahkan guru dijadikan sebagai pribadi yang momok dalam satuan pendidik. Mengapa guru tidak mencari cara lain agar siswa tidak jenuh, kemudian kebiasaan suka nyontek bisa dijauhkan dari hadapan anak-anak. Saya tidak tahu apa sistem pendidikan mendesak demikian, ataukah sistem buku mata pelajaran yang harus menuntut demikian.

Tetapi setidaknya perlu dipahami, hal itu bukanlah solusi untuk menjawab mutu dan kualitas pendidikan. Baik mutu dan kualitas siswa yang menerima pelajaran, maupun guru yang memberikan pelajaran. Standar nilai bagus untuk naik kelas atau lulus, menjadikan mental siswa bobrok, bahkan tidak berbudaya..


Sekolah Mencari Ijazah


Siapapun kalau ditanya, apa guna bersekolah, maka dengan optimisnya akan menjawab untuk mencari ijasah. Yah, memang betul kita semua bersekolah untuk mencari sebuah ijasah. Yang kata beberapa orang, ijasah itu dapat bermanfaat untuk kelanjuatan karir dan profesi kita pada kehidupan masa depan.

Ijasah sendiri adalah sebuah kertas pengesahan yang dikeluarkan dinas penididkan setempat, yang mana menyatakan bahwa seorang siswa dinyatakan telah resmi selesai dari satuan jenjang pendidiakan tertentu. Baik selesai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Mendapatkan ijasah itu tidak mudah. Memang kenyataan, Karena harus melewati bangku pendidikan selama 12 Tahun, kalau ditambah lagi dengan Taman Kanak-kanak (TK) berarti hampir 14 Tahun. Tetapi yang mudah, kadang proses untuk menemukan ijasah itu, karena dilewati dengan berbagai cara-cara ilegal tadi.

Orang berpikir akhir dari pendidikan adalah ijasah, membuat mereka tertutup dengan fungsi dan makna pendidikan yang sebenarnya. Coba bayangkan, bayangan ijasah menjadikan mereka sebagai orang awam. Kadang bagi mereka, ijazah dan pengetahuan, lebih penting mendapatkan ijazah.

Sekolah seharusnya dipahami sebagai proses untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan seutuhnya, yang mana nantinya dapat berguna untuk menunjang berbagai karir kita melalui pengetahuan yang kita miliki. Sekolah identik dengan pengetahuan, maka tidak pantas ketika kita ke sekolah kemudian melakukan berbagai hal “biadab” untuk mendapatkan itu.

Karena yang ada dipikiran, hanyalah ijasah. Maka berbagai cara tidak halal yang dimaksudkan tadi akan berlangsung dalam sebuah proses pendidikan. Seharusnya sekolah di pahami sebagai tempat untuk pembentuk segala karakter, moral dan etika seorang siswa. Karakter seseorang, dapat menentukan berhasil dan tidak seseorang. Termasuk dalam karir yang diklaim hanya menggunakan sebuah ijasah.

Namun kalau mau diamati secara seksama kebanyakan sekolah di negeri tidak pernah mengedepankan pembentukan karakter, moral dan tingkah laku. Hal ini memang sukar dipahami, apa sebab demikian? Mungkin karena tidak ada penghargaan untuk mereka, atau seluruh siswa yang ada di sebuah sekolah ingin mencari jati diri, yang katanya dapat menambah kepercayaan dirinya. Ataukah, atau saya tidak tahu apa penyebabnya.

Saya pribadi selalu mencari jati diri dengan melakukan berbagai prestasi gemilang yang bisa mendapat pengakuan dari orang. Misalanya, saya sering menulis, saya sering internetan (bahkan pernah membawahkan seminar) bahkan ada beberapa pekerjaan mulia lainnya.

Tapi itulah, model mencari ijasah yang telah ditetapkan sejak lama, membuat banyak siswa-siswi yang ikut terhipnotis dengan program itu. Yang akhirnya berimbas pada kebobrokan mental, karakter siswa saat-saat ini. Tidak apa, hanya waktu yang akan menjawa semua itu. Siapa yang serius dan siapa yang hanya isen-isengan.


Epilog


Kenyataan berbicara demikian, kalau sekolah itu tidak mendidik dan membangun. Konteks awalnya tujuan sekolah memang untuk mendidik dan membangun. Ada beberapa hal yang membuat pendidikan terkatung-katung, sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan harapan semua orang, itu satu diantaranya.

Maka perlu dipertanyakan pada diri semua kita, kira-kira penting atau tidak kita bersekolah. Karena kenyataan di lapangan menunjukan, kalau pendidikan tidak menjawab sebuah kebutuhan, tetapi kadang tambah mempersulit kehidupan.

Buat apa sekolah, kalau kenyataannya pendidikan tidak mendidik seseorang untuk menjadi seorang manusia. Pendidikan harus menjadian yang didik manusia. Bukan menjadikannya sebagai budak, bahkan sampai menjadi binatang.

Buat apa sekolah, kalau semua guru selalu dan selalu bertindak konyol. Bukankah dengan kekonyolan itu, telah turut menjadikan siswa sebagai objek yang tidak layak mendapatkan sebuah pengajaran. Bukankah ini sebuah pembodohan yang dilakukan para guru untuk tetap menjadikan siswa-siswi menjadi manusia yang tidak berhasil.

Buat apa sekolah? kalau ke sekolah hanya menghabiskan waktu. Menghabiskan waktu, sama saja dengan menyia-nyiakan kehidupan yang Tuhan Allah anugerahkan kepada manusia. Waktu harus diisi dengan berbagai hal yang dapat menunjang seseorang menjadi manusia, bukan menjadi manusia yang tidak berguna.

Buat apa sekolah? kalau ke sekolah hanya mencari nilai bagus. Apalagi kalau untuk mendapatkan nilai bagus, semua hal dilakukan, baik itu yang berbau dosa maupun tidak berbau dosa. Tuhan bisa di setankan, setan bisa di Tuhankan. Ini memang kenyataan.

Buat apa sekolah? Kalau sekolah hanya untuk mencari ijasah, yang dinilai dapat memberikan keberhasilan di masa depan. Bukankah ijasah hanyalah kertas yang dapat membuat seseorang menjadi tidak berarti, dengan ketidak mampuaannya beberapa saat kedepan.

Perenungan panjang buat semua kita. Apakah konteks fungsi utama sekolah yang sebenarnya telah nyata, ataukah hayalan semata wayang. Fungsi dan tujuan utama pendidikan harus kembali ke konteks utama, yaitu membuat manusia atau yang didik menjadi manusia yang berbudaya dan berbangsa.

Mungkin ini sebuah pekerjaan rumah buat mereka yang menetapkan sistem pendidian di Negara ini. Pekerjaan rumah buat mereka yang ikut ambil andil dalam kebijakan pendidikan yang ada. Dan pekerjaan rumah buat para guru yang sering mengajari anak-anak dengan sedikit “bobrok”. Akhirnya ini juga catatan buat anak-anak didik yang selama ini menjadi budak dari sistem pendidikan yang sangat konyol.

Kalau sistem pendidikan di negeri ini bisa dibenahi dengan menciptakan sistem yang lebih berkualitas, kenapa tidak harus? Kalau sistem pendidikan di negeri ini dirubah untuk menjadikan guru sebagai subjek yang berprestasi, kenapa tidak harus demikian. Kalau sekolah tidak mendidik dan mengajar, apa salahnya beralih kependidikan informal yang dinilai lebih berbudaya dan memberikan pemahaman yang lebih..

Mungkin hanya waktu yang akan menjawab semua itu. Karena kata Alkitab untuk segala sesuatu ada waktu. Berarti akan ada waktu dimana sistem pendidikan dibenahi ke sistem pendidikan yang lebih baik, akan ada waktu untuk para guru diperhatikan lebih serius, dan akan ada waktu juga untuk menjadikan siswa-siswi yang telah lama menjadi korban untuk menjadi penguasa, yang dapat memampukan orang lain dari generasi ke generasi.

Ini mungkin sebuah uraian yang menjadi harapan dari generasai dahulu kala bahkan generasi tahun-tahun ini, yang masih jadi korban dari system pendidikan nasional. Kita tinggal tunggu, kapan semua ini bisa berakhir. Dan kita juga tinggal tunggu, kapan waktu Tuhan.

*Catatan Kekecewaan terhadap guru dan Sistem Pendidikan Nasional




headerr

Baca Selengkapnya......

Friday, January 15, 2010

Guru Harus Mempunyai Hati Untuk Membangun Pendidikan di Papua

OCTHO- Berjalannya Otsus, nasib pendidikan di Papua masih tetap sangat memprihatinkan. Disini seorang guru harus beperan aktif untuk sebuah kemajuan, diantaranya memberikan hatinya untuk anak-anak didik.

Pendidikan di Papua, terutama di daerah pegunungan begitu memprihatinkan, salah satunya akibat oknum guru yang tidak pernah memberikan hatinya secara sungguh-sungguh untuk mendidik anak-anak Papua yang tidak berdaya. Ini harus menjadi perhatian yang serius dari seluruh komponen, baik pemerintah maupun masyarakat setempat.

Hal ini di tegaskan Pisai Wea, Tokoh Intelektual masyarakat Pegunungan tengah sekaligus anggota dewan di Kabupaten Puncak Jaya ketika di hubungin JUBI, Jumat, (15/01) kemarin.

Menurutnya pendidikan di Papua bisa maju, jika seorang guru betul-betul komas vitmen untuk membangun anak-anak Papua dan punya hati untuk merubah wajah pendidikan Papua yang telah lama buruk.

“pengamatan saya, belum ada guru yang punya hati untuk membangun pendidikan di Papua, jika ada hanya bisa di hitung dengan jari” pungkasnya.

Lebih lanjut menurutnya bahwa seorang guru harus tahu, bahwa mengajar dan mendidik anak-anak Papua adalah tugas mulia yang amalnya begitu besar.

“meraka yang mengajar dan mendidik anak-anak Papua akan mendapat amal yang besar dari pencipta, itu harus di ketahui seorang guru,” tegasnya optimis.

Harapannya, dengan dan Otsus yang sekian banyak, pendidikan di Papua bisa mengalami perubahan, serta memberikan kesejahteraan yang layak kepada guru-guru agar mereka betah untuk mengajar di daerah pedalaman.

“Saya optimis, wajah pendidikan di Papua akan berubah, jika guru-guru lebih di perhatikan, serta alokasi dana Otsus untuk pendidikan tepat pada sasaran,” tegas anggota dewan termuda dari fraksi PKDI ini Optimis. (op)

Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire

Baca Selengkapnya......

Monday, December 07, 2009

Johanis Adii, S.Pd: Bertekad Meningkatkan SDM di Kabupaten Deiyai

OCTHO- Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Deiyai sudah merupakan tanggung jawab bersama, karena apa jadinya daerah ini dalam beberapa waktu mendatang ditentukan oleh tekad, komitmen, serta kerja sama yang baik dari semua komponen masyarakat dan pemerintah daerah.

Menyadari akan pentingnya peningkatan SDM di Kabupaten Deiyai, kami telah bertekad penuh untuk memperhatikan secara serius jalur pendidikan. Dimana dengan visi yang kami usung, “Membangun Pendidikan dari Desa ke Kota” hal ini untuk kepentingan masyarakat setempat yang memang pemekaran hadir untuk mereka.

Hal ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd, saat ditemui media ini di Bandara Udara Nabire, Selasa (08/12) kemarin.

Lebih lanjut menurutnya, bahwa visi yang telah mereka usung tidak akan tercapai, apabila tidak ada kerja sama yang baik dari masyarakat. “saya selaku kepala dinas, sangat berharap masyarakat bisa mendukung segala program yang kami buat untuk kemajuan pendidikan di Kabupaten Deiyai, hal ini juga untuk masa depan Kabupaten Deiyai yang lebih baik lagi,” jelasnya.

“dalam tahun 2010 setelah anggaran ada, kami bertekad membangun pendidikan, karena segala rancangan maupun progam untuk meningkatkan SDM di Kabupaten Deiyai telah kami susun. Semua itu memerlukan tenaga, biaya serta waktu yang tidak bisa kita remehkan,” terangnya.

Adapun beberapa progam utama yang akan menjadi acuan kerja dinas pendidikan untuk meningkatkan SDM di Kabupaten Deiyai. Pertama; membuka tempat-tempat belajar anak-anak usia dini, lebih di kenal dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kedua; jalin kerja sama dengan FKIP Uncen di Jayapura untuk membuka kelas perguruan tinggi di Kabupaten Deiyai, kami khususkan hanya Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Diploma tiga (D3) untuk beberapa jurusan yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. Dan ada beberapa lagi program utama yang akan menjadi sebuah target pembangunan menuju SDM yang menjanjikan. Semua ini untuk meningkatkan SDM di Kabupaten Deiyai, dalam menanti sebuah pembangunan.

“untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tahun 2009 ini kami telah mengirim beberapa anak untuk menyelesaikan strata dua (S2) mereka di pulau jawa, setelah mereka selesai, kami berharap mereka bisa pulang, dan kembali membangun daerah mereka. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, masih banyak anak-anak yang kami biayai untuk melanjutkan pendidikannya hingga selesai,” pungkasnya.

Selain itu dalam membangun pendidikan di Kabupaten Deiyai, ada dua distrik yang akan menjadi perhatian dari kami. “ada dua distrik yang jauh dari kota, yaitu distrik Kopiraya dan Distrik Bouwobado, kedua distrik ini akan menjadi perhatian yang serius dari kami. Hal ini juga untuk meningkatkan SDM di kedua daerah ini,” tandasnya.

Selain itu kami juga berharap agar segala infrastruktrur yang berkaitan dengan pendidikan di Deiyai dapat di segera di bangun, agar ada semangat kerja yang tinggi dari setiap staf yang di berikan kepercayaan untuk mewmbangun pendidikan di daerah ini. “displin yang tinggi dari setiap staf juga sangat di butuhkan, agar terwujud apa yang menjadi kebutuhan pendidikan masyarakat di daerah ini,” pungkasnya.

“kami sangat berkomitmen untuk menata birokrasi pendidikan yang baik, agar apa yang menjadi tujuan utama kita dalam meningkatkan SDM di Kabupaten Deiyai dapat terwujud, sehingga masyarakat yang menjadi objek dari pada pemekaran dapat merasakan manfaatnya” tandas beliau akhiri komentarnya.



headerr

Baca Selengkapnya......

Monday, December 01, 2008

Pendidikan di Sugapa Sangat Memprihatinkan

Kepala Sekolah dan Guru Dalangnya

NABIRE- Terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal serta berkompoten disuatu daerah adalah kunci utama majunya daerah itu. Tidak ada jalan lain yang dapat kita tempuh untuk mewujudkan SDM yang handal, selain melalui jalur pendidikan. Sehingga dengan ini, pendidikan perlu mendapatkan perhatian yang begitu serius dari setiap lembaga yang mengaturnya, yang diperhatikan bukan siswa saja, namun semua satuan pendidik yang mengurus itu perlu di pantau serius oleh pemerintah daerah baik guru, kepala sekolah, bahkan sampai pada masyarakat yang menjadi pelaku pendidikan itu sendiri.

Dimana dalam hal ini saya melihat pendidikan di kampung halaman saya (red, sugapa) sangat-sangat buruk dan memprihatinkan, lebih menggenaskan lagi yang merusak pendidikan di daerah ini adalah para guru dan kepala sekolah sendiri, memalukan, kata ini yang bisa saya gambarkan pada ketidakbecusan mereka dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) daripada generasi Papua yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang Ilmu Pengetahuan.

Hal ini di ungkapkan Linus Bagau, salah satu Inteleq asal suku Moni beberapa saat lalu di ketika di temui Koran Papua Post Nabire (PPN) Jumat (29/10) menanggapi dilematisasi carut-marutnya Pendidikan di sugapa (red, Intan Jaya). Yang sebagaimana hal ini disaksikan oleh dirinya melalui kasad matanya sendiri saat turun lapangan beberapa saat lalu.

“guru-guru yang telah menjadi pegawai negeri dan di tempatkan oleh pemerintah Paniai di sugapa, pada umumnya tidak punya hati untuk mengajar, dimana mereka hanya punya hati untuk menerima uang, padahal ketika mereka melamar untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sumpah janji mereka keluarkan untuk bagaimana tetapi setia dan taat kepada tugas yang pemerintah embani kepada mereka.

Hal ini terbukti, dimana guru-guru yang bertugas disana lebih senang lalu lalang di kota-kota besar seperti Kabupaten Paniai maupun Kabupaten Nabire bagai orang yang tidak punya tugas dan tanggung jawab daripada tinggal berlama-lama di tempat tugas untuk mengajar siswa yang kadang jenuh dan membosankan karena sedikit ketidaktauan mereka. Selain itu, banyak guru-guru yang lari ke Kabupaten Paniai untuk menuntut jabatan politik yang lebih tinggi lagi daripada hanya menjadi guru biasa. Inikan sebuah fakta yang lucu, dimana menjadi guru hanyalah sebuah job mengisi kekosongan mereka” tegasnya.

Selain itu, Kepala sekolah maupun guru yang bertugas di sana tidak transparan dalam penggunaan dana operasional. Padahal dana pendidikan yang di turunkan oleh Pemerintah Pania tidak sedikit jumlahnya, sehingga hal ini perlu di tanyakan dengan baik-baik, kira-kira kemana dana-dana pendidikan seperti itu. Padahal, kalau dana itu digunakan dengan baik-baik maka bukan tidak mungkin bisa membangun beberapa ruang kelas yang layak, selain itu bisa juga membangun perpustakaan kecil dan fasilitas sekolah yang lainnya.

Namun, sudah sekian tahun dana pendidikan dikucurkan, toh nasib pendidikan di daerah ini tidak berubah. Ruang kelas yang saya lihat dulu, tetap begitu-begitu terus, kemudian mutu dan kualitas pendidikan tidak di tambah dengan adanya penambahan beberapa buku pelajaran. Kapan mau adanya perubahan dan peningkatan pendidikan di daerah ini padahal Pemekaran Kabupaten Intan Jaya sedikit lagi akan menjadi kenyataan, terangnya dengan wajah yang sedih.

“yang mengabdi untuk daerah diatas khususnya dalam hal pendidikan dengan serius adalah para guru tamatan SMA/SMK dan sederajat lainnya. Mereka walaupun bukan pegawai negeri sipil, toh mereka punya hati untuk tanah diatas. Dimana mereka memberkan semua yang mereka punya, tanpa menuntut. Ini baru kita bisa namakan seorang pahlawan yang mengabdi tanpa tanda jasa. Contohnya dapat kita lihat di Agisiga, dimana guru-guru yang di berikan kepercayaan dengan bayaran yang cukup tinggi oleh pemerintah paniai melalaikan semua itu, sehingga beberapa guru honorer tamatan SMA/SMK dan sederajat lainya yang lebih serius mengajar,” tambahnya.

Harapan saya Kepada Pemerintah Paniai, bagaimana untuk meningkatkan mutu pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM) di sugapa pemda harus lebih jeli dalam menempatkan guru di daerah Sugapa. Berikan tanggung jawab kepada mereka yang memang betul-betul punya hati untuk mengajar generasi muda diatas dari pada kepada mereka yang sama sekali tidak punya hati untuk mengajar. Ketika hal ini di tanggapi dengan serius, maka bukan tidak mungkin akan tercipta manusia-manusia dengan tingkat sumber daya manusia yang dapat bersaing dengan orang-orang di daerah luar Papua, terang bagau mantap. (oktovianus pogau)



Baca Selengkapnya......

Friday, November 07, 2008

Catatan Hari Pendidikan Nasional

Pendidikan di Indonesia saat ini carut marut, walaupun beberapa putra daerah di Indonesia bisa menunjukan kelebihan mereka dengan menyumbang beberapa emas di Olimpiada beberapa saat lalu. Beranjak dari keprihatinan itu saya menyuarakannya dengan menulis sebua tulisan, yang kirannya dapat direnungkan. sekedar Info, Tulisan ini pernah di muat di Harian Papua Post Nabire, beberapa saat lalu. silakan lanjutin bacanya.

Tanggal 2 Mei adalah hari Pendidikan Nasional. Hari dimana lahirnya pendidikan di Indonensia. Tanggal 2 Mei dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasonal bertepatan dengan hari lahirnya salah satu tokoh pendidkan kita yaitu Ki Hajar Dewantar dengan nama asli: Raden Mas Soewardi.

Mengulas sedikit tentang perjuangan untuk memajukan pendidkan di bumi Indonesia, beliau sempat mendirikan salah satu taman siswa pada 3 Juli 1992 untuk sekolah kerakyatan di Yogyakarta. Kemudian beliau juga sempat menulis berbagai artikel yang intinya memprotes berbagai kebijakan para penjajah (belanda) yang kadang membunuh serta menghambat tumbuh dan berkembangnya pendidikan di Indonesia.

Hingga salah satu artikel "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli : Als ik eens Nederlander was) yang pernah dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker tahun 1913 adalah salah satu artikel yang mengubah paradigma banyak orang terlebih khusus para penjajah bahwa orang Indonesia khususnya penduduk pribumi membutuhkan pendidikan yang layaknya sama dengan para penguasa dan kalangan berduit.

Bertolak dari usaha, kerja keras serta pengorbanan dirinya melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Pergerakan Nasional. Bahkan yang lebih menggembirakan dirinya di anggap sebagai bapak Pendidikan untuk seluruh orang Indonesia, penghormatan itu terbukti dengan ditetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Untuk mewujudkan dan membangun dunia pendidikan di Indonesia yang sedang diusahaknnya dalam penjajahan para penjajah belanda beliau memakai semoboyan “tut wuei handayani” semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya "ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa”. Semboyan ini masih dipakai dalam di dunia pendidikan kita hingga era reformasi ini. Bahkan dengan semboyan itu telah sedikit mengubah warna pendidikan kita di Indoenesia saat ini.


Meninjau Perkembangan Pendidkan di Era Reformasi

Banyak orang senang dan bahagia, terlebih khusus para penggila, pencinta dan pelaku pendidikan di seluruh Indonesia ketika memasuki era reformasi. Saat kekuasaan presiden Soeharto yang kurang lebih berkuasa selama 32 tahun tumbang pada tahun 1997 akibat pergerakan mahasiswa Indonesia mendasari lahirnya era reformasi. Era yang dikatakan sebagai era perubahan, era yang bisa semua orang berbicara serta era yang dikatakan sebgai era pembaharuan. Berarti pendidikan juga harus mengalami perubahan.

Mereka berharap dan berpikir diera ini segalanya akan berubah. Problematika pendidikan yang terjadi saat Presiden Soekarno memimpin di era orde lama (1945-1965) dan Problematika pendidikan yang terjadi saat masa kepemimpinan Presiden Soeharto di era orde baru (1965-1985) serta masa kepemimpinan beberapa presiden setelah kedua pemimpin diatas memerintah bisa segera teratasi yang tentunya sesuai dengan cita-cita dan tujuan pendidikan kita.

Namun yang memprihatinkan perkembangan pendidikan diera reformasi ini tidak jauh berbeda dengan perkembangan pendidikan diera orde lama (1945-1965) maupun perkembagan pendidikan diera orde baru (1965-1985). Malahan perkembangan pendidikan di era reformasi ini lebih menggenaskan dan memprihatinkan. Bahkan di era ini banyak korban pendidikan yang berjatuhan seperti; siswa, guru termasuk para orang tua pun menjadi korban daripada pendidikan di era reformasi ini. Mengapa saya bisa katakan demikian.

Banyak anak-anak yang tidak memilik biaya hingga tidak bersekolah, banyak lulusan SMA/MA dan sederajat lainnya harus menggangur karena tidak mampu membayar biaya pendidikan bahkan banyak lulusan SMA/MA dan sederajat yang melanjutkan ke perguruan tinggi harus mengundurkan dari perkulihaan karena tidak mampu membayar biaya kuliah.

Sesuai dengan tujuan dan cita-citanya pendidikan kita haruslah mencerdaskan kehidupan bangsa. Mungkin berkembang dari kata mencerdaskan banyak orang mengartikannya dengan mengambil berbagai kebijakan yang dapat membuat pendidikan di Indonesia bisa berkembang. Salah satu caranya unutk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah mengadakan Ujian Nasional, nyatanya Ujian Nasional bukan menciptkan generasi yang cerdas namun menciptkan generasu yang rusak baik mentalnya maupun kerohaniaanya.

Siapapu tidak bisa membantah kalau Ujian Nasional telah menciptakan generasi yang rusak moralitasnya. Sebagaimana bisa kita lihat beberapa fenomena kecurangan dan kejahatan yang sering terjadi hinggat ditayangkan diberbagai media masa maupun media elektronik. Beberapa saat lalu Ujian Nasional tingkat SMA/MA dan setingkat lainnya telah diberlangsungkan namun meninggalkan bekas yang sangat memprihatinkan karena dimana-mana terjadi kecurangan yang patutnya tidak perlu terjadi.

Beberapa saat lalu tepatnya hari kamis hari terakhir Ujian Nasional bagi siswa-siswi SMA/MA, saya menyaksikan sebuah tayangan berita di salah satu TV swasta yang menayangkan kecurangan Ujian Nasional yang terjadi, hingga 17 orang guru harus berhadapan dengan aparat hingga harus diadili. Bukan kasus itu saja melainkan didaerah lainpun terjadi hal yang sama. Bahkan beberapa kepala sekolah tega menjual lembaran soal hingga mencapai jutaan rupiah. Dengan demikian inikah yang dinamakan mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesuai dengan cita-cita nasional.

“ seandainya beliau masih hidup beliau akan menangis dan meratapi melihat buruknya pendidikan di negeri ini”. Demikian salah satu kutipan artikel singkat yang ditulis oleh salah satu korespondesi situs wikimu di internet. Sedikit menyimak dan membaca artikel itu sayapun ikut sedih. Sebagaimana tidak sedih perjuangan beliau agar pendidikan di Indonesia bisa maju dan berkembagn yang sekaligus mengubah berbagai ketertinggalan yang terjadi namun, kenyataannya yang terjadi adalah keterpurukan system pendidikan.

Kita seharusnya memahmi dan menyadari bahwa berjuang dibawah tekanan, penjajahan dan ancaman bukanlah hal termudah. Namun dalam kesulitan seperti inilah yang ditunjukan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa beliau ingin adanya kemajuan pendidikan. Sehingga dalam tekanan apapun beliau tidak pernah gentar dan takut hanya demi memajukan pendidikan di negeri ini. Bertolak dari pada usaha dan kerja keras beliau seharusnya para pengambil kebijkan pendidikan di indenesia seharusnya berpikir dan mencerna bagaimana solusi yang diambil agar semua kegiatan pendidikan yang terjadi tidak membuat sedih pilunya hati bapak pendidikan kita.

Fenomena keburukan yang terjadi saat ini bukan saja masalah Ujian Nasional, namun yang terjadi juga adalah biaya sekolah dari tahun ketahun yang semakin meningkat. Saya sendiri sebagai siswa menyadari adanya lonjakan tingginya uang sekolah dari tahun ke tahun. Padahal berbagai janji manis seperti adanya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) akan membantu meringankan biaya sekolah, bahkan ada juga yang mengatakan dengan adanya dana bos maka pendidikan alhasi akan gratis. Apakah pendidikan saat ini di Indoensua gratis? Jangan mimpi bo pendidikan mau gratis. Realisasi dana pendidikan yang dialokasikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasalnya yang ke 49 bahwa 20% dari APBN dialkosikan untuk pendidikan. Namun kenyataan sampai sat ini semua itu tidak nampak.

Dengan berbagai janji manis yang sengaja dilanggar ini memberi peringatan kepada kita bagaimana nasib pendidikan Indonesia di masa depan nanti. Bagaimana nanti nasib generasi yang akan datang? Generasi yang akan datang mau dikemanakan? Bagaimana seandainya generasi yang akan datang mengikuti kesalahan para pengambil kebijakan pendidikan. Apakah ini mau dikatakan sebagai generasi yang berbobot dan generasi yang mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan cita-cita nasional yang telah tertera dalam Undang-Undang Dasar1945.

Makna Hari Pendidikan Nasional

Hari ini sebagai hari pendidikan nasional. Tidak perlu kita, terlebih khusus para pejabat pemerintahan dan pengambil kebijkana pendidikan nasional berpikir keras dengan berbagai teori dan berbagai pedoman unutk memajukan pendidikan di Indoensia. Bahkan kitapun tidak perlu sibuk mencari cara-cara dan trik-trik untuk bersaing dengan Negara lain khususnya dalam bidang pendidikan.

Dahulu kala saat orde baru para siswa-siswi dari Malaysia dan beberapa Negara tetangga lainnya yang datang dan belajar di Indonesia namun berbeda dengan saat ini para pelajar dari Indonesialah yang pergi belajar dan berguru di Negara jiran ini. “Saat ini, pelajar asing di Malaysia sudah mencapai angka 25.939 orang. Mereka datang dari berbagai negara, Uganda, Afrika Selatan, Korea Selatan, Korea Utara, India, Inggris, Vietnam, Bangladesh, Singapore, Kanada dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk negara tetangganya, Indonesia”. Demikian bunyi salah satu kutipan tulisan yang terdapat salah satu situs milik pemerintah Malaysia. Dengan membaca ini memberi perngertian pada kita kalau mereka (Malaysia) juga menaggap pendidikan di daerahnya lebih maju dan berkembang di bandingkan dengan di beberapa Negara termasuk kita negara tetangganya.

Dengan ketertinggalan pendidikan serta problematika pendidikan yang terjadi terus-menerus di Negara kita, bagaimana jalan keluar yang perlu diambil agar kedua hal diatas tidak terjadi lagi? Memang berat kalau memikirkan penyelesaiaanya serta penuntasan problemnya. Namun semua akan terasa ringan dan mudah kalau penyelesaian ini kembali kepada system demokrasi sesuai dengan asas dan falsafah Negara kita. System demokrasi mengutamakan kebersamaan dalam mengambil keputusan dan tindakan. Ketika keputusan diambil secara bersama-sama (musyawarah) maka semua pihak yang ikut mengambil bagiaan termasuk masyarakat akan merasa puas dan bahagia, sehingga penerapan dan prakteknya dapat memberi kepuasaan kepada semua pihak dan semua instansi. Dengan cara seperti ini alhasi pendidikan di Indonesia sedikit baik mutunya hingga kita bisa merasakan enak dan baiknya pendidikan.


Baca Selengkapnya......

Friday, October 24, 2008

Pendidikan di Pedalaman Papua Memprihatinkan

Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan. Baik dalam jangka menengah atau pun dalam jangka panjang. Namun, masih banyak masyarakat miskin yang memiliki askes terbatas dalam memperoleh pendidikan yang bermutu, dan yang lebih memprihatinkan mereka sama sekali tidak mendapatkan pendidikan.

Hal ini juga dapat disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan, tidak adanya perhatian dari Pemerintah Pusat atau pun Pemerintah Daerah terhadap saudara-saudara kita yang tinggal di daerah Pedalaman Papua. Khususnya Kabupaten Paniai.

Apakah hal ini disebabkan karena sulitnya sarana transportasi yang menghubungkan daerah Kabupaten dengan daerah di distrik-distrik yang ada di wilayah Kabupaten tersebut? Ataukah memang tidak ada guru-guru yang mau ditempatkan di wilayah pedalaman atau pun daerah terpencil untuk mau mengajarkan masyarakat miskin agar mengenal ilmu pendidikan?

Atau juga tidak adanya perhatian Pemerintah terhadap tambahan tunjangan pedalaman atau tambahan lainnya kepada guru-guru yang telah mengajar dan mengabdi di daerah terpencil?

"Bagaimana para guru-guru dapat melakukan pelayanan pendidikan di pedalaman kalau kebutuhan hidup sehari-hari sudah susah dan tidak terpenuhi akibat mahalnya kebutuhan hidup di pedalaman sehingga hal ini sangat berdampak terhadap segala akses".

Pernyataan tersebut dilontarkan Kenny Ikomou. Anggota DPRD Kabupaten Paniia yang membidangi pendidikan setelah melakukan kunjungan kerja di beberapa distrik diwilayah Paniai belum lama ini.

Dia menilai kemiskinan dan pengangguran di tengah masyarakat pedalaman di Paniai dan Nabire tidak pernah dipermasalahkan. Seolah-olah masyarakat telah mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai. Tapi, kini realitasnya sungguh terbalik.

Saat ini mereka tidak mendapatkan akses pendidikan. Berbahasa Indonesia pun tidak mengerti. Apalagi mengenal dan tahu membaca dan berhitung. Hal ini pun mengakibatkan mundurnya dunia pendidikan di kabupaten tersebut. Memang angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten ini tak kalah membuat miris orang-orang yang peduli.

Mana penyebab dan mana akibat? Ibarat lingkaran setan keterpurukan ekonomi dan pendidikan memang sebuah tantangan besar yang saling mempengaruhi. Buruknya perangkat keras pendidikan (ruang belajar dan sekolah, buku, pustaka, dan laboratorium yang kurang), diperparah lagi oleh buruknya kualitas perangkat lunak (kurikulum compang-camping dan gonta-ganti, manajemen pendidikan sekolah yang belum profesional) serta masih kurangnya jumlah dan kualitas guru.

Keterpurukan ini berlangsung di tengah-tengah mengalirnya dana yang sangat besar di kabupaten tersebut. Dengan demikian dana besar tidak menjamin peningkatan mutu pendidikan Karena peningkatan mutu pendidikan hanya merupakan jargon semata bagi pemda dan elit pemerintahan yang sibuk ber-KKN ria.

Karena itu, tutur masyarakat seharusnya tidak perlu berharap banyak pada aparatur pemerintah untuk setia menjadi pelayan mereka. Sudah terlalu banyak bukti bahwa jajaran birokrasi hanya menggunakan masalah rakyat untuk kepentingannya. Bukan untuk mengatasi masalah rakyat itu sendiri.

Dan rakyat tidak perlu khawatir bahwa mereka akan menderita tanpa perhatian pemerintah. Toh, selama ini mereka sudah hidup termasuk hidup menderita. Tanpa pelayanan yang berarti dari pemerintah.

Pemerintah memang telah mengganggarkan dana pendidikan sebanyak 20 persen dari APBN. Tapi, ketika dunia pendidikan telah memasuki era neoliberal pendidikan dana sebanyak itu menurut sebagian kalangan masih terasa kurang. Kita memang patut sadar bahwa masih banyak sektor-sektor publik lain yang harus diperhatikan oleh Pemerintah ketika membuat kebijakan-kebijakan liberalisasi.

Meskipun demikian diakuinya kebijakan yang dapat mendorong majunya dunia pendidikan harus diperioritaskan oleh pemerintah. Khususnya pada persoalan dana, akibatnya, timbullah pendidikan yang mahal dan komersialisasi pendidikan di Negara ini.

Siapa yang bertanggung jawab? Alih-alih membicarakan persoalan pendidikan yang mahal maka siapa pun akan menyalahkan pemerintah di negeri ini. Oleh sebab itu untuk membebaskan masyarakat dari belenggu mahalnya pendidikan saat ini merupakan tanggung jawab pemerintah. Dalam konteks ini masyarakat patut berbangga. Karena pemerintah daerah tidak membebankan uang pendaftaran masuk ke sekolah negeri.

Bisa Baca juga di http://suarapembaca.detik.com/read/2008/09/04/085743/1000002/471/pendidikan-di-pedalaman-papua-memprihatinkan

Glitter Text @ Glitterfy.com


Baca Selengkapnya......

Thursday, October 23, 2008

Tidak Mempergunakan Waktu Dengan baik

KEMARIN seharusnya saya posting tulisan ini, karena ini berita hari kemarin, tapi dasar pemalas dan suka tunda-tunda pekerjaan jadi nggak sempat ku posting, lagian saya juga sempat ngajarin beberaa teman untuk belajar buat fs, kan malu, curhat kok dilihat teman, kalau diliha teman dunia maya, iyah nggak papa.

Saya lanjutkan lagi yah, Upacara selesai. Saya dan beberapa teMan saya yang terlambat di panggil ama guru saya. Secara mengenjutkan guru kami memberikan hukuman, yang rasanya hukuma itu saya pribadi tidak pantas tuk trima

Ngaak papalah, saya sebagai siswa harus menerima semua itu. Kami disuruh untuk Push Up, suatu olahraga yang disering dilakuk an oleh beberaa olahragawan, padahal saya bukan olahragwan lho, (dasar anak malas). Seraya meletakan kaki dan tangai di tehel sekolah yang pada saat itu tidak terlalu bersih, maka sayapun harus push up di saksikan beberapa pasang mata yang agak menghina dan mengejek saya, yah...trima aja.

Belum selesai beban dan kesusahan saya,setelah hukuma di lakukan saya harus langsung memasuki ruang kelas dan memulai pelajaran (ulangan) yang kiranya akan diberlangsungkan sebentar lagi. Guru yang kami tunggu akhirnya datang juga. Dengan membawah kertas hasil copyan, maka ulanganpun siap diberlangsungkan.

Pusing keliling, karena belum belajar satupun, menyesali dan menyalahkan diri tidak ada gunanaya, kuberpikir sejenak, coba aja waktu itu saya memutuskan tuk belajar, dan tidak habis begitu banyak waktu untuk didepan Laptop, palingan sayapun bisa mengeisi soal yang dikasih sama seperti teman2 saya yang bisa mengisi soal2 itu.

Untungnya ada beberapa soal yang agak mudah, jadi tanpa belajarpun saya sedikit bisa mengerjakan itu. Nggak apalah, yang penting bisa mengikuti dan mengerkan soal. daripada nggak ikut sama sekali kan malu juga, heheeheheheh.

Ulangan dikumpulkan dengan begitu santainya, nggak tahun dapat nilai berapa besok saat ulangan di bagikan, dapat berapapun hasilnya itu adalah suatu kenyataan yang saya harus terima dengan lapang dada. Bukan berarti menyerah dengan keadaan lho, tapi sadar akan kesalahan dan kebrutalan yang saya lakukan.

Dan ini juga menjadi renungan panjang yang harus saya renungkan, bagaimana harus menghargai dan memaknai waktu dengan begitu baik. Supya dikemudian hari tidak membawah kekesalan dan kerugian pada diri kita.

"HARGAILAH WAKTU YANG ADA, KARENA WAKTU TIDAK BISA BERPUTAR KEMBALI"


Baca Selengkapnya......

Hal Paling Memalukan dI Hari Senin

BERTOBAT dan sadarlah, kapan mau maju dan berkembang kalau begini-begini terus. Hal itu yang keluar dari mulut saya ketika saya sedang menyetrika baju yang kotor dan kusaM di pagi hari.

Baju lupa cuci, celana juga demikian, lainnya halnya dengan beberapa pelajaran sekolah, sama sekali ku hiraukan begitu saja, :D padahal semua itu sangat penting untuk perkembangan karir dan kesuksesan saya.

Hari itu hari senin, seperti biasa selalu diadakan upacara bendera di sekolah. Berharap tidak terlambat sayapun bergegas mandi, walaupun mengenakan baju yang agak kotor dan kusam karena keburu setrika sayapun bersiap untuk berangkat sekolah :)

Jarak sekolah dengan rumahku (asrama) tidak bergitu jauh, hanya 10 meter. Dan tentunya kapanpun saya bisa mendengarka bel sekolah yang di bunyikan. dan tentunya ini sangat membantu saya.

Namun yang menyedihkan dan menyakitkan adalah saya terlambat juga berangkat sekolah, sehingga sayapun tidak di ijinkan untuk mengikuti upacara bendera oleh guru saya.

Aneh dan aneh, rumah dekat, bel bisa kudengarkan ketika dibunyikan dan makan telah tersedia oleh pengasuh-pengasuh asrama yang sangat rajin, apa girangan sehingga semua itu bisa terjadi.

Tentunya tanda tanya yang harus di jawab, telinga saya tuli?? tentunya tidak saya diciptakan oleh Tuhan secara normal. Mata saya buta tidak juga, saya diciptakan dengan penglihatan yang normal.

Kalau begitu APA GIRANGAN YANG MEMBUAT SAYA TERLAMBAT SEKOLAH????


Baca Selengkapnya......