“Mempersiapkan diri untuk membangun dalam kasih”
OCTHO - Ibadah natal, seminar dan perayaan tahun baru Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) se-Jawa dan Bali tahun 2010, telah berlangsung di Balai Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri, Parung, Bogor. Acara ini berlangsung sejak tanggal 29 Desember 2010 hingga 01 Januari 2011.
Menurut Ketua panitia, Serfasius Kotuki, yang juga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), penyelenggaraan acara Ibadah natal maupun seminar ini bertujuan untuk membangun tali persaudaraan serta menumbuhkan semangat dan cinta kasih sesama pelajar dan mahasiswa asal Paniai, Nabire, Dogiyai dan Deiyai yang sedang menempuh pendidikan di pulau Jawa dan Bali.
Kotouki juga menambahkan, bahwa tema yang di ambil dalam Pekan IPMANAPANDODE tahun ini adalah “Mempersiapkan Diri Untuk Membangun Dalam Kasih”, tema ini merangkul semua kegiataan yang dilaksanakan dalam seluruh rangkaian acara tahun ini.
“Mempersiapkan diri berarti, kita membekali diri kita dengan apa yang telah kita pelajari, apa yang kita dapat, apa yang kita alami, dan apa yang kita lakukan dalam kebenaran kasih Kristus.
Tujuannya, agar setelah kita pulang ke daerah masing-masing, kita dapat mengabdikan diri untuk pembangunan daerah untuk kepentingan masyarakat luas, tidak untuk kepentingan pribadi kita,” katanya dalam sambutan tertulis.
Selain menyelenggarakan Ibadah natal, dan penyambutan tahun baru, acara yang tidak kala pentingnya adalah seminar umum. Ir. Kemas Abuhanif, Dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) membawakan materi dengan thema “Taktik Pemasaran Komoditi”. Tujuan penyelenggaraan seminar ini bagaimana cara meningkatkan komoditi, maupun sampai pada cara pemasaran setiap bahan komoditi yang telah di hasilkan.
Hadir juga Ir. Mahalaya S Cagil, Direktur Centre International Potato (CIP), sebuah lembaga yang bergerakan di bidang pembudidayaan ubi jalar di dunia. Adapun thema yang di bawakan “Teknik Pembudidayaan Ubi Jalar di Papua”. Ia memaparkan bagaimana meningkatkan produktifitas Ubi jalar di Papua, dan bagaimana cara menggunakan varietas unggul untuk pengembangbiakan.
Dalam mengawali seminar, kedua pemateri berterima kasih kepada panitia penyelanggara yang telah memberikan kesempatan untuk membawakan materi mereka di depan mahasiswa asal Papua. “Kami mendapatkan kehormatan bisa berbicara di depan mahasiswa Papua saat ini,” kata mereka membuka acara.
Selain seminar, beberapa kegiataan yang berlangsung seperti pertandingan sepakbola antar kota studi (dimenangkan oleh kota study Jakarta), Bola Volly putri (dimenangkan oleh kota Studi Bandung), bola Volly Putra (dimenangkan oleh Kota Studi Malang) serta beberapa acara selingan, seperti Pentas Budaya, Pentas Band, serta seni. Tujuan utama dari penyelenggaraan kegiataan ini adalah untuk meningkatkan kebersamaan, kekompakan, dan kekeluargaan antar setiap pelajar dan mahasiswa se-Jawa dan Bali.
Pada penghujung acara, berlangsung evaluasi semua kegiataan yang telah dilangsungkan. Masing-masing kota studi mengirim perwakilan untuk menyampaikan masukan maupun pendapat mereka. Setelah itu berlangsung acara penentuan kota studi untuk natal tahun berikut. Dengan perdebatan yang cukup alot dan panjang, akhirnya kota Studi Jogjakarta diberikan kepercayaan untuk menyelenggarakan natal di tahun berikut.
Diakhiri dengan doa penutup, seluruh peserta dari setiap kota studi mengemas barang untuk kembali ke daerah masing-masing. Sayonara hingga Natal tahun 2011 di kota Gudeg, Jogjakarta. (OP)
Monday, January 03, 2011
Ibadah Natal, Seminar dan Perayaan Tahun Baru IPMANAPANDODE Berlangsung
Monday, November 08, 2010
Amerika Serikat Bertanggung Jawab Terhadap Konflik di Tanah Papua
ALIANSI MAHASISWA PAPUA (AMP)
SIARAN PERS
(JAKARTA, SENIN 08 November 2010) - Menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama di Jakarta, ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) akan melakukan aksi demo secara damai dan mulai long march dari kantor Walhi, Jln. Tegal Parang Utara, No. 14 hingga kantor PT Freeport Indonesia, Plaza 89, Kuningan Jakarta, (09/11) mendatang.
Menurut ketua umum Aliansi Mahasiswa Papua, Rinto Kogoya, bahwa tujuan demo ini adalah meminta Amerika Serikat, dalam hal ini Presiden Barack Hussein Obama bertanggung jawab terhadap segala permasalahaan yang terjadi di tanah Papua, terutama masalah status Politik Bangsa Papua yang tidak jelas hingga kini.
“Amerika Serikat memiliki kepentingan sehingga menganeksasi Papua secara paksa ke dalam wilayah teritorial Indonesia melalui pelaksanaan PEPERA yang cacat hukum dan moral di tahun 1969. Sebagian besar rakyat Papua menolak hasil PEPERA tersebut,” katanya.
Sementara itu, Viktor Kogoya dari Aliansi Mahasiswa Papua mengatakan bahwa Amerika Serikat juga bertanggung Jawab terhadap kerusakaan lingkungan dan hutan yang terjadi di tanah Papua, karena menurutnya banyak perusahaan raksasa dari Amerika Serikat yang menanamkan investasinya di tanah Papua tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang bagi masyarakat setempat.
“Bukti paling nyata adalah operasi tambang PT Freeport McMoran Copper & Gold Inc yang telah merusak lingkungan dan hutan milik suku Amugme dan Kamoro di Timika, Papua. Saat ini mereka merasa terancam hidup di tanah kelahiraan mereka sendiri.
Kami tidak ingin karena kepentingan ekonomi Amerika Serikat dan pemerintah Indonesia, justru rakyat Papua yang di korbankan. Ini tentu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan antara pemerintah dan masyarakat Papua,” jelas Viktor.
Sementara itu, Oktovianus Pogau juru bicara Aliansi Mahasiswa Papua meminta Amerika Serikat bertanggung Jawab terhadap segala bentuk pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang terjadi di tanah Papua, karena telah menjalin hubungan kerja sama yang baik, bahkan turut melatih aparat Militer Indonesia (Kopassus).
“Bukti pelanggaran HAM yang di lakukan aparat Militer Indonesia dapat di lihat melalui dua buah video penyiksaan yang beredar di Internet beberapa waktu lalu. AMP minta AS segera menghentikan kerja sama Militer dengan pemerintah Indonesia, karena banyak rakyat Papua yang di siksa secara tidak manusiawi oleh aparat Militer Indonesia,” jelas Oktovianus.
Dua buah video penyiksaan ini di publikasikan oleh Asian Human Rights Commission (AHRC) yang berdomisil di Bangkok melalui situs Youtube. Beberapa hari kemudian, setelah pertemuaan dengan Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Menko Polhukam Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto di depan wartawan membenarkan adanya anggota Militer yang menjadi pelaku penyiksaan dua orang warga sipil yang di duga sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Oktovianus juga mengatakan bahwa UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (red: termasuk Papua Barat) telah gagal total, karena itu pemerintah Amerika Serikat di minta segera menghentikan bantuaan dana Otsus untuk Papua melalui pemerintah Indonesia.
“Pendonor dana Otsus paling besar untuk Papua adalah Amerika Serikat, karena itu kami minta Amerika Serikat segera hentikan bantuan dana tersebut, karena jelas-jelas Otsus telah gagal total di tanah Papua,” tambahnya.
Rakyat Papua telah tiga kali mengembalikan UU Otsus Papua kepada pemerintah pusat melalui Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) di Jayapura, namun nyatanya hingga saat ini Otsus masih berlaku di tanah Papua. “Ini menjadi pertanyaan, sebenarnya siapa yang menikmati dana Otsus itu? Jika rakyat Papua menikmati dana Otsus itu, kenapa mereka masih menjadi warga masyarakat yang paling miskin di Indonesia.
Rakyat Papua merasa Otsus bukanlah solusi, namun Otsus menjadi kutuk yang membuat orang Papua semakin terancam,” tegas Oktovianus.
Ia juga mengharapkan bahwa kedatangan Obama pada tanggal 9 hingga 10 November nanti bukan saja membina hubungan kerja sama yang baik dengan pemerintah Indonesia, namun Obama lebih serius memperhatikan konflik dan krisis kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua, seraya mengambil tindakan kongkrit tuntuk mengatasinya.
“Kami berharap Barrack Obama bisa melakukan kunjugan ke tanah Papua selain mengunjungi Jakarta, agar Ia bisa mengetahui pasti terkait persoalaan yang sedang di hadapi masyarakat disana,” tambah Oktovianus.
Mengakhiri komentarnya, Oktovianus mengatakan bahwa tuntutan rakyat Papua saat ini hanya satu, yakni; minta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan referendum seperti yang pernah di lakukan di Timor Leste pada tahun 1999 silam.
“Biarkan kami menentukan nasib kami sendiri, apakah tetap ingin ikut dengan Negara ini, atau justru ingin membentuk Negara sendiri,” paparnya singkat.(***)
Monday, August 09, 2010
Antara Kuliah dan Menyanyi
OCTHO- Pada hari Kamis, 5 Agustus, pukul 21.00 kami bertemu. Seperti orang Papua lainnya, lelaki ini kulitnya hitam. Rambutnya keriting dan di potong agak rapi. Hidungnya cukup mancung. Malam itu Ia mengenakan kaos oblong warna kuning terang. Penampilannya jelas tak begitu rapi.
Dia adalah Mugu Zonggonau. Saya pertama kali mengenalnya lewat beberapa tembang lagu yang pernah dia nyanyikannya. Ia lahir di Kabupaten Paniai, Bibida. Umurnya lebih tua lima tahun dari saya. Ia menghabiskan masa kecil di beberapa tempat; Paniai, Nabire, Timika dan Manado.
“Saya selalu pindah-pindah tempat tinggal, bosan juga” pungkasnya.
Berbekal ijasah sekolah menengah atas dari SMA Lokon Internasional, Manado, Mugu datang ke Surabaya untuk menempuh pendidikan tinggi. Katanya tinggal di Jawa agak berat, karena harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di kota besar.
“Saya datang ke Surabaya dengan biaya dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Amugme dan Kamoro (LPMAK) di Timika,” tuturnya.
LPMAK adalah sebuah lembaga sosial yang di bentuk oleh PT Freeport Indonesia pada tahun 1996. Lembaga ini di bentuk untuk memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar areal operasi PT FI. PT FI beri dana 1% untuk di kelolah oleh LPMAK. Kehadiran lembaga ini telah turut berperan penting dalam kemajuaan pendidikan di Timika. Banyak anak-anak Papua yang telah dibiayai oleh lembaga ini untuk menempuh pendidikan di luar Papua.
Selain kuliah, ada hal yang luar biasa dari Mugu, Ia sering tampil untuk menyanyi di beberapa tempat. Bahkan dia sudah menciptakan beberapa lagu.
“Sudah ada beberapa lagu yang telah direkam menjadi sebuah kaset.”
Album perdana Mugu di keluarkan pada bulan November tahun 2009 lalu, judulnya; The Exchonicles. Ada beberapa lagu yang dinyanyikan sendiri, sedangkan beberapa lagi dibantu oleh seorang sahabat. Ia juga mengaku kaset rekaman itu telah dipasarkan untuk umum.
Lelaki suara emas asal Kabupaten Intan Jaya juga mengukapkan bahwa sangat berat membagi waktu antara rekaman dan kuliah. Malahan katanya ia sering dimarahi dosen karena nilai kampus semakin buruk.
“Saya kadang lebih utamakan menyanyi dari pada aktivitas kuliah di kampus. Ini yang parah,” jelasnya.
Dia juga mengatakan bahwa selama ini yang menjadi kendala adalah terbentur masalah dana. Jika kami memilki dana, sudah pasti akan rekaman lagi, dan sekaligus perbanyak beberapa kaset rekaman.
“Saya berharap ada yang bisa membantu kami dalam hal keuangan, biar bakat saya bisa di asah lagi sekaligus bisa tetap menghibur banyak orang,” imbuhnya.
Selain menyanyi, Mugu juga punya bakat bermain musik. Menyanyi dan music adalah dua sisi kehidupan yang tak bisa di pisahkan. Ia mengatakan akan tetap menaikit tangga kehidupan. Ngomong-ngomong mana yang lebih penting, menyanyi atau kuliah yah?
Wednesday, August 04, 2010
Rasialisme Itu Masih Nampak
OCTHO- HARI itu tanggal 3 Juli 2010, pukul 19.45. Suasana jalan Pasar Minggu cukup ramai. Kendaraan umum maupun pribadi masih lalu lalang. Kemacetan juga masih nampak. Banyak pedagang asongan menjajankan dagangan mereka. Roman wajah para pedagang sedikit berharap ada orang yang menghampiri mereka.
Dari kejauhaan muncul seorang pemuda Papua. Dia sedikit bertubuh atletis. Ia adalah Alfred Pigai, lelaki suku Mee. Umurnya lebih tua enam tahun. Tingginya kurang lebih 160 cm. Malam itu Ia mengenakan kemeja ala Militer dengan Jaket hitam, belakangnya bertuliskan “STIPAN-Kab Nabire” Ia sahabat saya ketika di Nabire, Papua.
Penampilannya cukup kren. Rambutnya di potong cepak. Suaranya bernada tenor, tidak Bass seperti pemuda Papua lainnya. Kulitnya lebih hitam dari penyanyi kondag macam Edo Kondogolit. Rambutnya keriting. Sudah bisa di tebak Ia adalah bangsa rumpun Melanesia. Hidungnya tidak begitu mancung seperti Brad Pitt. Ia dengan cepat menghampiri saya.
“Kawan koi ada disini juga ehh,” sapanya.
“Sudah hampir sebulan disini,” saya menjawabanya.
Saya cukup mengenal dia. Ia pemuda yang cukup pandai dan tangkas. Ia menghargai setiap perbedaan. Ia juga sangat patuh dan taat pada ajaran agamanya. Saya mengenalnya ketika ia menjadi ketua pemuda di sebuah Gereja. Ia sangat radikal pada ajaran agama Katolik. Hobinya menyanyi dan tinju.
Ia mematuhi ajakan untuk ke tempat saya tinggal. Kami menumpang angkot tujuan Kampung Melayu. Angkot itu warna biru gelap. Pada kaca depan dan samping tertulis nomor 16. Mobil itu sudah sangat tua, dan tidak layak lagi beroperasi. Saya tidak ingat persis nomor polisi angkut itu. Dalam perjalanan pulang kami saling bertukar pikiran tentang kehidupan di Jakarta.
“Kawan hidup di kota Jakarta sangat susah, semua-semua butuh uang. Apalagi seperti saya yang orang tua tak mampu. Tapi syukur, biaya kuliah saya sudah di bereskan oleh pemerintah daerah,” katanya menjelaskan.
Dia memberikan nasihat sekaligus pandangan karena saya baru tiba di Jakarta untuk kuliah. Saya mendengar dengan penuh cermat. Ia sendiri sudah hampir tiga tahun di Jakarta. Katanya Ia akan wisuda pada bulan Oktober tahun ini. Ia sendiri kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahaan (STIPAN) yang beralamat di Jalan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Saya memancingnya berbicara soal rasis yang masih sering terjadi di Jakarta. Dengan sigap Ia berbicara tentang banyak pengalaman yang sudah sering di alaminya. Ia juga mengatakan bahwa hal-hal seperti itu sudah sering terjadi di pulau Jawa, bukan di Jakarta saja.
“Banyak orang kulit putih akan menutup hidung dengan tissue atau kain jika ada orang kulit hitam berambut keriting di dalam sebuah angkutan umum, saya sangat tersinggung bahkan terpukul dengan perlakuaan seperti ini, namun apa boleh buat?” urainya.
Ia juga menjelaskan tentang perlakukaan para teman-temannya di kampus. “Jika mereka melihat orang kulit hitam dan berambut keriting maka mereka akan menghindar jauh, saya sendiri bingung apa sebab demikian, padahal saya tidak mengganggu mereka,” jelasnya.
Ternyata diskirminasi itu masih nampak. “Ketika memberikan sebuah argument atau pertanyaan pada dosen, teman-teman yang kulit putih akan berujar pada saya bahwa orang kulit hitam harus belajar bahasa Indonesia dengan baik dulu baru tanya,” tambahnya.
“Bagaimana kau menanggapi tindakan mereka,” tanya saya. “Walau sakit hati, saya kira jangan kita terlalu ambil pusing, biarkan saja, itu urusan mereka sendiri,” jawabnya. Selain itu dia juga mengatakan bahwa orang kulit putih tidak bisa menerima kehadiran orang kulit hitam ras Melanesia di Negara Indonesia.“
Kami berbicara panjang lebar tentang perlakukan rasis dari orang kulit putih terhadap orang kulit hitam di negara Indonesia. Beberapa orang kulit putih yang di dalam angkutan umum turut mendengarkan, termasuk sopir angkot. Alfred berkomentar dengan penuh semangat. Ia dan saya menyimpulkan bahwa perlakuan rasis seperti ini sungguh ironis. Ini bagiaan dari melanggar hak azasi orang kulit hitam untuk hidup di negara demokrasi macam Indonesia.
Maka, tidaklah heran, jika orang kulit hitam (ras Melanesia) menuntut untuk memisahkan diri dari NKRI. Ras Melanesia dan ras Melayu memang sangat berbeda. Perbedaan itu sangat sukar di persatukan.
Gambar sumber Google
Tulisan ini tugas saat mengikuti kelas Jurnalis Sastrawi di Yayasan Pantau.
Sunday, July 11, 2010
SUP Temui Komnas HAM Terkait Operasi Militer di Puncak Jaya
OCTHO – Beberapa perwakilan dari Solidaritas Untuk Papua (SUP) yang selama ini mempermasalahkan operasi Militer yang terjadi di Distrik Tiginanmbut, Kabupaten Puncak Jaya Papua, sejak tanggal 28 Juni lalu, kemarin (09/7) mendatangi kantor Komnas HAM Pusat di Jakarta untuk menyampaikan laporan mereka.
Perwakilan SUP di terima oleh M. Ridha Saleh, Komisioner Subkomisioner Mediasi pada komnas HAM di Jakarta.
Dalam laporannya, SUP mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di Distrik Tiginanmbut oleh aparat Militer, oleh sebab Komnas HAM di minta mengambil tindakan terkati laporan ini.
“Sejak berlakuknya operasi militer tanggal 28 Juni lalu situasi Puncak Jaya sampai saat ini masih memanas, kami meminta perhatian Komnas HAM di Jakarta,” pungkas mereka.
Mereka juga mengatakan, bahwa status daerah operasi militer (DOM) harus di cabut dari Puncak Jaya, karena ini sudah tentu mengorbankan banyak rakyat Papua, khususnya warga tak berdosa yang ada di Puncak Jaya.
“Kami ingin komnas HAM mengirim team ke Puncak Jaya untuk menyelidiki secara jelas peristiwa operasi militer ini, dan mendesak beberapa pihak yang berwenang untuk menghentikan operasi militer di Puncak Jaya” kata mereka.
Sementara itu, dari Komnas HAM mengatakan mereka telah mengirim team untuk melakukan penilitian terkati kasus ini.
“Kami telah mengirim team Distrik Tiginanmbut, Kabupaten Puncak Jaya. Jika mendapatkan laporan dari mereka, kami akan merekomendasikan kepada pihak-pihak terkait atas hasil penemuan itu,” pungkasnya. (op)
Saturday, May 15, 2010
Bucthar Tabuni : Kami Akan Kembalikan Merah Putih
OCTHO – Buctar Tabuni, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) sekaligus salah satu tahanan Politik di Papua mengatakan bahwa mereka akan mengembalikan bendera merah putih kepada Negara kesatuan republic Indonesia, jika Negara tidak memperhatikan hak-hak adat rakyat Papua, termasuk ha-hak politik.
“Kami akan mengembalikan merah putih kepada Negara Indonesia, jika mereka tidak memperhatikan haki-hak adat dan hak-hak politik kami,” jelas bucthar di hadapan Menteri Hukum dan HAM, kemarin (Sabtu/05) di LP Abepura, Jayapura.
Pernyataan Bucthar di dasarkan pada kenyataan, dimana persoalan politik dan hak asasi manusia orang asli Papua tidak pernah di perhatikan oleh Negara Indonesia. “Negara harus memperhatikan seluruh tahanan politik yang ada di tanah Papua, sebab kami juga mempunyai hak dan kewenangan untuk hidup,”urainya.
Sementara itu Menteri Hukum dan HAM, Patrlalis Akbar mengatakan bahwa apa yang di sampaikan oleh Buctar Tabuni akan menjadi perhatian utama mereka. “Kami akan memperhatikan apa yang di katakan oleh saudara Buctar,”jelasnya.
Menteri Hukum dan HAM juga mengatakan bahwa kunjungan mereka juga untuk memperhatikan segala aspirasi dan keluhan yang di sampaikan oleh para tahanan di lembaga permasyarakatan Abepura.
“Kami akan memperhatikan apa yang menjadi keluhan, kebutuhan, dan aspirasi para tahanan di Lapas Abepura,” urainya saat memberikan penjelasan. (op)
Sumber: Tabloid Jubi Online
Friday, May 14, 2010
Mahasiswa Uncen Palang Kampus Sambil Berdemo
Kampus Uncen milik orang asli Papua, sudah tentu kesempatan untuk mendapatkan pendidikan juga harus di berikan kepada mereka . Kenyataan ini mengalami kendaia, tuntutan mahasiswa cuma satu, kembalikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan.
OCTHO- Mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua berdemo ke kampus sekaligus mereka memalang kampus mereka, terkait penerimaan mahasiswa baru di kampus Uncen yang menurut mereka lebih di dominasi oleh orang non-Papua, Jumat (14/05) kemarin.
Benyamin Gurik, Kordinator aksi mengatakan bahwa kampus Uncen adalah kampus orang asli Papua, oleh karena itu penerimaan mahasiswa baru harus lebih berpihak kepada anak-anak aslis Papua itu sendiri. “Kampus ini milik orang asli Papua, oleh karena itu penerimaannya harus berpihak kepada orang asli Papua,“ tegasnya.
Lebih lanjut menurut Gurik, visi dan misi Uncen sudah jelas, bahwa ingin memberdayakan anak-anak asli Papua, oleh karena itu harus di wujud nyatakan komitmen itu.
Gurik juga mengatakan bahwa, sistem penerimaan mahasiswa baru yang bersifat online tidaklah memihak kepada orang asli Papua, karena tidak banyak orang asli Papua yang paham akan dunia teknologi, dalam hal ini dunia internet. Selain itu juga banyak orang asli Papua yang hidupnya di daerah-daerah pedalaman, pesisir dan pegunungan, sudah tentu tidak terdapat fasilitas internet di sana.
Kebijakan kampus yang membuka pendaftaran mahasiswa baru dengan system Online sudah tidak relevan, dan tidak pas untuk anak-anak asli Papua, kami kira manajemen kampus memahani persoalan ini, pungkas mereka saat menyampaikan pendapatnya.
Setelah secara bergantian masa menyampaikan orasi, akhirnya mereka diterima oleh pembantu rektor satu, Festus Simbiak bersama dengan beberapa dekan fakultas di ruang Auditorium. Dalam arahanya pembantu rector satu mengatakan bahwa tuntutan yang di sampaikan oleh mahasiswa akan di bicarakan dengan pihak kampus, dalam hal ini kepada rektor juga.
“Kami sudah tentu akan mengakomodir tuntutan ini, nanti kita akan lihat sama-sama di akhir pengumuman. Tungguh saja hingga ada hasil yang jelas,” urainya menjelaskan.
Setelah pembantu rector satu menjelaskan terkait tuntutan mereka, dengan tentang masa membubarkan diri. “Kami akan kawal dan tunggu sampai ada hasil penerimaan mahasiswa yang di umumkan secara resmi,” tegas salah satu pendemo kepada media ini. (oP)
Wednesday, May 12, 2010
Catatan Seminar Publik Pro dan Kontra Integrasi Papua Kedalam NKRI
Kalangan rakyat Papua menyatakan bahwa integrasi Papua ke dalam NKRI belum selesai, tentu hal ini bersebarangan dengan pendapat segelintir orang Papua yang menyatakan, bahwa integrasi Papua ke dalam NKRI sudah selesai. Siapa benar dan siapa salah??
Pendahuluan
OCTHO- Melalui sebuah wadah pergerakan anak-anak muda Papua yang begitu peduili dengan persoalan di tanah Papua, yakni; Komite Nasional Papua Barat (KNPB) baru saja di selenggarakan seminar public sehari yang bertemakan “Pro dan Kontra Integrasi Papua Kedalam wilayah NKRI”. Sudah tentu ini merupakan sebuah batu loncatan, dimana dengan berani mampu menghadirkan mereka yang selama ini begitu pro dan kontra terhadap integrasi Papua ke dalam wilayah NRKI.
Para pembicara yang hadir sekaligus memberikan materinya dalam seminar public kali ini sangat beragam, mulai dari yang pro seperti; Nicolas Messet (Tokoh Papua) dan Jimmy Demianus Ijie (Wakil Ketua DPR Papua Barat dan yang kontra seperti; Edison Waromi, S.H (Presiden Eksekutif WPNA) dan Pdt. Socrates Sofyan Yoman, S.Th (Ketua Persekutuan Gereja-gereja Baptis di Papua).
Selain itu, hadir pula Laos Kalvin Rumayom, S.Sos salah satu staf pengjar di Universitas Cenderawasih, yang memberikan pandangannya mengenai hubungan Internasional dan Hukum Internasional. Tampak hadir sebagai moderator seminar public, Matius Murib, dari Komnas HAM untuk wilayah Papua. Dan hadir juga para wartawan berbagai media local dan nasional. Sedangkan public yang mengikuti seminar kali ini di perkirakan 400-an orang.
Pro dan Kontra
Antara yang pro dan kontra tidak akan pernah bertemu, apalagi jika kedua-duanya memiliki kepentingan tertentu, di tambah dengan egonya yang berlebihan. Kedua kalangan ini memilki paradigma yang berbeda terhadap persoalan dan konflik di Papua. Perbedaan ini sudah tentu harus di satukan, dan penulis sendiri tidak yakin, dengan seminar seperti ini akan mempersatukan kedua pandangan tersebut.
Kalangan yang telah menyatakan integrasi telah selesai sering mengemukakan pendapat mereka, bahwa NKRI adalah harga mati. Kalangan ini lebih setuju, jika membangun Papua dalam amanat Otsus. Mereka lebih setuju merdeka internal orang Papua, seperti bebas mendapat pendidikan, bebas dari sakit penyakit, bebas dan korupsi, dan lain sebagainya.
Dilain kesempatan, mereka juga sering menerbitkan beberapa paper, essay dan juga buku, diantaranya adalah salah satu buku yang di terbitkan oleh Pusat Studi Nusantara, dengan Judul “Integrasi Sudah Selesai, Komentar Kritis Atas Papua Road Map”. Dalam buku ini beberapa orang Papua menjadi penulis, seperti Jimmy Demianus Ijie (Wakil Ketua DPR Papu Barat), Julian Yap Marey (Mantan Tokoh OPM), J.R.G Djopari (staf pengajar di Jakarta, sekalgus mantan duta besar Indonesia untuk PNG) dan masih ada beberapa anak muda lainnya yang begitu pro terhadap integrasi.
Dalam buku kecil itu, kebetulan saat itu penulis sempat menghadiri launching buku di Universitas Gadja Mada (UGM), UTC, Lantai II, Yogjakarta, mereka menyatakan dengan jelas, integrasi adalah sebuah persoalan yang tidak perlu di bicarakan, karena toh, Papua sudah final ikut dengan NKRI. Selain itu, Integrasi Papua terbukti tidak bermasalah, dengan kompromi politik yang di lakukan oleh beberapa demokrat Papua dan Jakarta untuk menghadirkan Otsus di Papua.
Sedangkan kalangan yang menyatakan bahwa Integrasi belum selesai selalu mengatakan bahwa Papua Merdeka adalah harga mati, mereka masih bersikeras bahwa pelaksanaan PEPERA tahun 1969 tidak demokratis, dan selain itu berlangsung di bahwa ancaman, todongan Militer Indonesia. Sudah tentu ini sudah melanggar HAM dan konvensi internasional, tentang hak-hak untuk menentukan nasib sendiri. Terbukti, hanya 1025 orang saja yang di pilih oleh pemerintah Jakarta, bukan di pilih oleh orang Papua.
Menurut mereka, Integrasi Papua ke dalam NKRI yang tidak final, dan hal ini juga pernah di teriakan oleh segelintir orang yang saat ini sedang meneriakan bahwa integrasi Papua ke dalam sudah final. Dan kenapa mereka berbalik arah, mungkin uang, jabatan, kedudukan, bahwa nama baik, membuat mereka harus berbalik arah. Untuk mendukung opini mereka, kembali sebuah buku di terbitkan, dengan Judul “Integrasi Belum Selesai, Komentar Kritis Atas Papua Road Map” penulisnya hanya seseorang, yakni Ketua Persekutuan Gereja-gereja Baptis di Papua, Pdt. Socrates Sofyan Yoman.
Dalam launching buku tersebut, Yoman mengatakan dengan jelas integrasi Papua ke dalam NKRI belum selesai, dan menimbulkan banyak masalah yang sudah tentu mengorbankan rakyat Papua. Gereja sebagai pelindung dan pengayom domba-domba yang sedang dan akan punah, sekiranya perlu memberikan perhatian. Dokumen-dokumen penting dari PBB, dan beberapa Negara yang pernah ikut menangani masalah Papua menjadi bukti kuat Yoman untuk menulis buku tersebut. Kehadiran buku tersebut juga bentuk komentar kritis terhadap buku Papua Road Map, yang di terbitkan oleh lembaga penelitian Indonesia.
Pro Integrasi
Integrasi tanah Papua ke dalam NKRI telah final, dan tidak perlu di bicarakan, saat ini yang kita pikir bagaimana membangun Papua yang lebih baik ke depannya. Mungkin kalimat diatas yang sering di ungkapkan oleh beberapa orang Papua yang begitu pro dengan NKRI atau pro dengan Integrasi.
“Saat integrasinya Papua ke dalam NKRI, sudah merupakan keputusan final yang di ambil oleh beberapa petinggi beberapa Negara yang pernah ada di Papua, New York Agrement hanya bentuk akal-akalan agar orang Papua dapat memercayai tekad dan keseriusan Amerika untuk menyelesaikan masalah Papua,” tegas Nicolas Messet, salah satu pemateri dalam seminar public kemarin, Selasa (11/05).
Menurut Messet juga, sekarang sudah saat orang Papua bangkit dan bukan membicarakan integrasi lagi, tetapi membicarakan Otonomi Khusus, agar kedepannya kehidupan kita lebih baik lagi. “Otsus adalah solusi final dimana suatu wujud kompromi politik antara Jakarta dan Papua dalam menjawab tuntutan merdeka, dan tekad pemerintah dalam mempertahankan integrasi wilayah NKRI” imbuh messet.
Messet juga bersikeras bahwa tidak ada Negara di dunia ini yang ingin membantu Papua, khususnya membicarakan isu referendum atau merdeka, PBB juga demikian. “Mereka hanya akan bersedia membantu, jika isu HAM, kesehatan, kelaparan, sakit penyakit, pemanasan global dan lain sebagainya yang ada di Papua. G-20 lebih menaruh perhatian mereka pada isu-isu di atas, bukan soal referendum seperti tuntutan rakyat Papua,” pungkas Messet.
Messet juga mengatakan bahwa sejak dirinya berkeliling ke beberapa Negara Asia Pasific, tidak ada yang memberikan respon baik terhadap kemerdekaan bahkan dukungan mereka untuk Papua Merdeka, ini menandakan isu referendum bukanlah isu utama di dunia internasional, khususnya kalangan Negara Asia Pasifik.
“Hasil kongres Papua II pada tahun 2000 telah menghasilkan kompromi politik, resolusinya telah lahir OtonomI Khusus, oleh karena itu tidak perlu kita perdebatkan lagi soal integrasi Papua, mari kita pikir Otsus, dimana membangun Papua yang lebih baik,” tegas Messet.
Sementara itu Jimmy Demianus Ijie bependapat senada dengan Messet soal integrasi Papua. yang menurutnya, bahwa integrasi Papua adalah final, dan tidak perlu untuk di bicarakan lagi. “Papua sah bagian dari NKRI,” tegasnya lantang.
Saya sangat pesimis Papua akan Merdeka, dan karena itu saya mendukung integrasi Papua ke dalam NKRI, seraya berbalik untuk membangun Papua dalam bingkai dan amanat Otsus. “Pesimis saya muncul atas sebuah realitas yang selama ini terjadi di tanah Papua dan Papua Barat. Kita masih sering mengkotak-kotakan kita sendiri, dan saat itu pula, persatuan tidak akan pernah tercapai. Saya pesimis Papua bisa merdeka,” jelasnya.
Orang Papua saat ini butuh bersatu, jika tidak jangan pernah bermimpi untuk sebuah perubahan. “Teman-teman yang masih bertahan pada prinsipnya silakan jalan, saya tetap mendukung, namun saya pribadi sangat pesimis dengan perjuangan rakyat Papua. Pergerakan anak muda di era ini lebih baik dari pada pergerakan anak-anak muda dulu,” urainya menjelaskan.
Kontra Integrasi
Edison Waromi, Presiden West Papua National Autority (WPNA) yang menjadi salah satu pemateri dalam seminar public ini mengatakan bahwa integras belum selesai dan tidak sah. Oleh karena itu persoalan ini patut di bicarakan kembali. “Integrasi tidak selesai karena dalam prosesnya banyak ketimpangan,” tegasnya.
“Orang Papua terus menuntut pemerintah Indonesia untuk membicarakan sola integrasi, karena proses inilah yang telah mengorbankan rakyat Papua. Dan akar masalahnya sebenarnya terletak pada proses ini. kami menjadi korban dari kepentingan Negara Indonesia dan Negara barat,” tambahnya.
Edison juga mengatakan bahwa, dalam sumpah pemuda yang menjadi awal lahirnya pemuda Indonesia tidak pernah ada orang Papua dan tidak ada juga keterwakilan pemuda Papua di sana. Ini harus menjadi perhatikan kita bersama, jangan asal-asal mengatakan bahwa integrasi Papua ke dalam NKRI adalah sudah final, tegasnya menjelaskan.
Dalam New York Agrement pada pasal 20 menjelaskan bahwa satu orang satu suara, bukan satu orang mewakili beberapa orang, apalagi menggunakan sistem musyawarah. Tapi hal ini yang di putarbalikan pemerintah Indonesia, dimana memilih beberapa orang Papua saja untuk menyarakan hak-hak hampir 800 ribu orang Papua saat pepera berlangsung.
“Untuk menyelesaikan masalah dan konflik di Papua bukan melalui Otsus, tetapi melalui sebuah dialog internasional. Dialog antara pihak-pihak yang pernah terlibat di Papua, seperti Amerika, Belanda bahkan PBB sendiri,” urainya.
Sementara itu pemateri berikutnya, Socrates Sofyan Yoman yang juga Ketua Persekutuan Gereja-gereja Baptis di tanah Papua menjelaskan soal integrasi yang tidak selesai dari perspektif gereja. “Gereja punya tugas melindungi, mengayomi dan menyelematkan domba-domba yang akan punah dari tanah Papua,” jelasnya.
Stigma separatis yang di berikan oleh pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua adalah senjata ampuh untuk memusnahkan orang Papua. Kami bukan pemberontak, bahkan kita tidak pernah membuat keributan, justru pemerintah Indonesia-lah yang datang bikin rebut di daerah kami.
“Dengan tegas saya minta kepada pemerintah Indonesia untuk stop memberikan label separatis kepada rakyat Papua, kami manusia beradab yang tahu diri. Justru kalian yang tidak tahu diri. Jangan ada satupun domba di Papua di korbankan demi menyelamatkan kepentingan Negara di tanah Papua, ini tidak boleh terjadi, jelas Yoman geram.
Yoman yang juga telah menulis Sembilan buah buku, dan beberapa di antaranya telah di sita pengadilan negeri juga menjelaskan bahwa gereja Tuhan di Papua bertugas untuk membicarakan karya penyelematan Tuhan, sekaligus menjaga domba-dombanya dari terkaman singa-singa lapar. “Gereja Tuhan harus membicarakan tentang kebebasan, karena Tuhan datang ke dunia untuk memberikan kebebasan kepada siapa saja,” terangnya.
Banyak gereja tabuh membicarakan tentang Papua, mungkin karena mereka takut tidak dapat dana Otonomi Khusus dari pemerintah, justru ini yang salah. Pribadi saya gereja harus betul-betul menjadi pelita yang dapat menyinari dunia, bukan menyinari lingkungan gerejanya saja. “Kalau ada hamba Tuhan yang takut bicara tentang Papua, sudah bisa di tebak, dia ingin jatah dana Otonomi Khusus dari pemerintah,” imbuhnya di sambut tertawa pada hadirin.
Integrasi belum selesai, dan gereja bertugas penting untuk ikut ambil bagian dalam membicarakan proses ketimpangan itu. Akhirinya menjelaskan.
Penutup
Mendukung atau tidaknya Integrasi adalah hal yang wajar. Setiap orang mempunyai pandangan, pemahaman serta pendapat yang berbeda. Tapi, yang di sayangkan, jangan karena sebuah kepentingan, justru mengorbankan rakyat Papua yang tidak berdosa.
Segelintir orang Papua memandang integrasi sudah final, jika iya, kenapa awal mula saat berada pada posisi yang tidak menentu, ikut memperjuangkan suara ini, yang gaungnya-pun di kampanyekan ke Negara-negara barat dan Asia Pasifik sana. Dan ketika merasa hidup serba kekuarangan dengan pekerjaan mulia itu, langsung berbalik arah, sambil merangkul musuh, inikan seperti sebuah lelucon.
Uang, jabatan, kedudukan dan nama baik sudah tentu mempengaruhi beberapa orang Papua yang dulunya lantang berteriak untuk Papua Merdeka untuk kembali ke dalam pangkuan NKRI. Hal ini sangat jelas dan nyata. Coba lihat saja, mereka yang mendukung pro akan integrasi pada umumnya berada pada level atau tingkat hidup yang sangat menyenangkan.
Kita harus melihat suara masyarakat akar rumput yang belum tersentuh oleh pembangunan, dan itu sudah tentu menjadi ukuran untuk membenarkan, kira-kira integrasi telah selesai atau belum selesai. Membangun wacana integrasi telah selesai atas dasar kita memiliki koneksi yang luas dengan Jakarta adalah hal yang paling konyol dan sudah tentu akan berbuntut pada konflik internal orang Papua.
Sebaiknya tidak memaksakan pendapatnya kepada orang lain, apalagi khayalak umum yang masih sangat awam soal retreorika dan kepentingan. Sepengetahuan mereka, ini yang benar dan ini yang salah, mereka tidak tau istilah “abu-abu” atau juga istilah “hitam-putih”.
Untuk yang begitu pro dengan integrasi, jangan sekali-kali membohongi hati nurani, karena sampai kapanpun hati nurani tidak bisa di bohongi. Kebenaran itu mutlak, tidak ada benar setengah, tidak ada benar 80% dan juga tidak ada benar 10%. Kami masyarakat akar rumput tidak pantas menghakimi, karena hanya Tuhan yang patut menghakimi umat manusia.
Dan untuk yang begitu kontra dengan dialog, tetap berjuang, dan tetaplah bersuara, jika sanubari hati mengatakan demikian. masyarakat akar rumput yang selama ini menjadi korban penjajahan dunia internasional dan pemerintah Indonesia tetap menantikan sebuah solusi, solusi yang paten, solusi yang membebaskan. Tuhan bangsa Papua selalu ada di pihak kita, di pihak yang benar. Selamat merefleksikan.
Oktovianus Pogau, seorang Jurnalis yang tinggal di Jayapura. Dapat di hubungi melalui emailnya: oktovianus_pogau@yahoo.co.id dan weblog http://pogauokto.blogspot.com
Saturday, May 01, 2010
Mahasiswi Asal Kaimana Ditemukan Sudah Tak Bernyawa
OCTHO- Salah satu Mahasiswi asal Kabupaten Kaimana, Elisabeth Jesika Isir (25) yang telah menyelesaikan pendidikan strata satu, dan sedang mengambil kursus Bahasa Inggris dan Komputer di kota studi Yogyakarta di temukan sudah tak bernyawa lagi, Sabtu (01/05) kemarin.
Mayat korban di temukan di daerah Timoho, APMD dekat rel kereta api dengan posisi badan tengkurap serta sudah tak bernyawa lagi. Tempat temuan mayat adalah lokasi yang sering dilalui korban ketika pulang dari tempat kursus menuju tempat tinggalnya. “Kami menemukan mayat dengan posisi tengkurap dan tak bernyawa,” kata teman-teman korban via telepon seluler kepada media ini tadi malam.
Lebih lanjut menurut mereka, kemungkinanan korban di pukuli dengan benda tajam hingga memar di sekujur tubuhnya, terutama kepala dan perut korban. “Ada memar di sekujur tubuh korban, kami duga korban di pukuli pakai benda tajam hingga meninggal,” tambah mereka menjelaskan.
Setelah menemukan mayat tersebut, korban langsung di bawah ke Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta untuk di otopsi. Hingga saat ini mereka masih menunggu hasil visum dari dokter terkait penyebab meninggalnya korban . “Kami sedang menunggu hasil visum yang akan keluar pada hari senin besok,” kata mereka.
Ketika di singgung mengenai kemungkinan adanya tabrakan kereta api, di bantah tegas oleh teman-teman korban. “Kami sangat tidak percaya korban kena tabrak kereta api, itu omong kosong. Sudah jelas-jelas korban di pukuli hingga memar dan meninggal,” jelas mereka dengan nada kesal.
Menurut mereka, pemerintah DIY dan Kapolda DIY harus bertanggung jawab terhadap kasus ini, karena sudah ada banyak kasus yang pernah terjadi, namun tidak ada penyelesaiaannya. “Kami minta aparat penegak hukum dan pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap kasus ini, karena ini bukan yang pertama kali terjadi, tetapi sudah berulang-ulang terjadi, dan korbannya anak-anak Papua yang sedang menempuh pendidikan,” tegas mereka.
Sampai saat ini mayat korban masih di semayamkan di Asrama Kamasan, Jln. Tarumanegara. Keluarga korban, teman-teman dan kenalan korban masih berkumpul untuk melihat korban untuk yang terakhir kalinya. Rencananya korban akan di berangkatkan ke daerah asal pada hari senin (03/05) besok. (op)
Foto ilustrasi
Wednesday, April 21, 2010
Agus Tapani: Perlu Kesadaran Membangun Kabupaten Intan Jaya
OCTHO- Untuk membangun Kabupaten Intan Jaya yang lebih baik, perlu adanya kesadaran dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat serta lembaga-lembaga mitra pemerintahan yang ada. Karena hal ini juga sudah tentu berkaitan erat dengan komitmen dalam membangun Intan Jaya yang lebih baik. Hal ini di tegaskan Tokoh Intelektual suku Moni, Agus Tapani, S.IP saat menghubungi media ini, Selasa (20/04) kemarin.
Menurut Agus, masyarakat Intan Jaya yang tersebar di enam distrik telah lama membutuhkan perubahan, hal ini terlihat dari antusias mereka, ibarat seorang anak yang menanti ayah yang sedang berburu di hutan. “Setiap pejabat SKPD yang telah terpilih seharusnya tidak mengabaikan harapan dan kebutuhan mereka, ini perlu mendapat perhatian yang serius,” pungkasnya.
Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau, S.Sos dalam sambutannya saat mengadakan kunjungan ke beberapa daerah di Intan Jaya telah menyatakan bahwa kesungguhannya dalam membangun Kabupaten Intan Jaya yang lebih, hal ini di buktikan dengan kantor perwakilan Intan Jaya di Nabire yang telah di tutup.
“Bupati telah mengatakan beberapa waktu lalu, bahwa kantor perwakilan di Nabire telah di tutup, kemudian dia juga menghimbau agar setiap SKPD yang ada di Nabire harus pindah berkantor di Sugapa, kecuali kantor keuangan dan BKD. Bupati juga telah menyerahkan setiap perangkat dan asset setiap instansi di Kabupaten Intan Jaya,” tambah Agus.
Yang menjadi kendala saat ini adalah dimana kantor DPRD dan Kantor KPU belum di bangun di Intan Jaya. “Beberapa waktu lalu masyarakat Distrik Sugapa, khususnya marga sani dan Sondegau di damping Anggota DPRD Kabupaten Intan Jaya, Yusuf Sani, telah menyerahkan sebidang tanah kepada pemerintah untuk membangun kantor KPU dan DPRD, sekarang tinggal bagaimana keseriusan pemerintah untuk mengakomodir hal itu,” jelas Agus.
Masyarakat Intan Jaya juga berharap sangat besar kepada pemerintah, dimana bisa melaksanakan fungsi pelayanan serta menjalankan roda pemerintah demi mencapai visi dan misi Intan Jaya di era Otonomi Khusus ini. “Pemerintah harus jadi actor yang dapat membawah perubahan bagi masyarakat di Intan Jaya. Selain itu kesadaran dari setiap individu adalah hal yang paling penting,” tegas Alumnus Universitas Indonesia Timur, Makassar ini.
Sekedar di ketahui, kantor perwakilan Kabupaten Intan Jaya yang terletak di Siriwini, telah di tutup, dan seluruh aktivitas kantor telah di pindahkan ke Kabupaten Intan Jaya. Hal Ini sesuai dengan janji Bupati dalam beberapa kali pertemuan dengan masyarakat Intan Jaya saat melakukan aksi agar kantor perwakilan di tutup dan berkantor di Intan Jaya (op)
Wednesday, March 24, 2010
Tokoh Intelektual dan DAD Intan Jaya Menolak Kehadiran BMP
OCTHO- Kehadiran UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus untuk Provinsi Papua seharusnya sudah bisa memberikan angin segar bagi rakyat Papua, namun kenyataan tidak demikian, dimana tuntutan memisahkan diri semakin kuat, hal ini karena pemerintah pusat tidak pernah menghargai Otsus sebagai roh pembangunan, hal ini di tegaskan Tokoh Intelektual suku Moni, Agus Tapani, S.IP saat menghubungi media ini, Rabu (24/03) kemarin.
Menurut Agus, tuntutan memisahkan diri semakin berkembang di kalangan masyarakat akar rumput, karena pemerintah pusat sendiri kadang “mengkebiri” UU yang telah mereka buat sendiri. Contohnya pembentukan MRP sebagai lembaga cultural orang asli Papua, namun kadang fungsi dan peran dari pada lembaga ini tidak pernah di hargai. “UU No 54 Tahun 2004 tentang Pembentukan Lembaga Kultural orang asli Papua hanya-lah pepesan kosong, karena lembaga ini sama sekali tidak pernah di hargai” tutur Agus
“Lahirnya Intruksi Presiden (Inpres) No. 77 Tahun 2007 tentang dilarang mengedarkan atau memakai simbol-simbol orang asli Papua, seperti bendera bintang kejora, menyanyikan lagu hai tanahku Papua dan pembentukan partai politik local ini justru bertentangan dengan amanat Undang-Undang Otonomi Khusus, baik secara legitimasi maupun yuridis. Ini yang harus menjadi perhatian dari pemerintah pusat” jelas Agus.
Selain itu Agus juga menyinggung sekaligus menolak kehadiran ormas Barisan Merah Putih (BMP) di Papua, terutama di beberapa wilayah pegunungan tengah, yang menurutnya akan menimbulkan konflik horizontal sesama masyarakat. “Ny Megawati Kogoya yang nota bene sebagai kordinator BMP wilayah pegunungan tengah harus menyadari, bahwa BMP adalah wadah illegal, karena dasar payung tidak jelas (tidak ada),” terangnya.
Lebih lanjut Alumnus Universitas Indonesia Timur (UIT) Makasar ini mengatakan, jika kehadiran BMP di sponsori oleh pemerintah pusat, mengapa tidak mengeluarkan sebuah undang-undang sebagai jaminan hukum. Kalau ada, sudah tentu keberadaanya bisa di terima. “Saya mengharapkan kepada seluruh rakyat Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah 7 (Meepogo) terdiri dari Kabupaten Nabire, Kabupaten Paniai, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Deiya, dan Kabupaten Intan Jaya menolak kehadiran BMP, dan jangan percaya dengan isu penambahan kursi DPRD sebanyak 5 kursi karena tidak ada jaminan hukum, seperti Perdasi maupun Perdasus,” ungkap Agus.
Mengakhiri komentarnya, Aguni menegaskan, jangan karena kepentingan segelintiri orang di pusat sana , sehingga mengorbankan rakyat Papua. “Kepentingan Jayapura dan dan Jakarta jangan bawah-bawah sampai ke daerah, sudah cukup rakyat Papua menderita, terutama masyarakat di Intan Jaya sendiri, kami menolak kehadiran BMP di Intan Jaya,” tegas Agus mantap.
Sementara itu Ketua Dewan Adat Daerah (DAD) Paniai yang juga sekaligus Intan Jaya, Jhon NR Gobay, memberikan komentar senada, dimana menolak kehadiran BMP di Kabupaten Intan Jaya, yang menurutnya akan mengganggu segala aktivitas pembangunan yang sedang berjalan.
“Intan Jaya adalah DOB yang medannya hanya dapat di jangkau dengan transportasi udara, berbeda dengan daerah lain yang bisa gunakan transportasi darat, oleh karena itu biarkan Pemda fokus melaksanakan pembangunan, jangan ada ormas yang datang mengatasnamakan diri membangun Intan Jaya,” pungkasnya.
Lebih lanjut Jhon menjelaskan, bahwa BMP tidak lain, hanya sekumpulan orang-orang yang kecewa karena kalah pada pemilih umum 2009 lalu, seperti ketuanya Ramses Ohe, dan ada beberapa orang lagi. “Mereka itu bukan murni membangun masyarakat Papua, tetapi bekerja untuk kepentingan mereka, oleh sebab itu jangan kita percaya dan terima kehadiran mereka di tanah Papua,” pungkas Jhon.
Sembari mengakhiri komentarnya, Jhon mengatakan bahwa BMP seharusnya tidak mengklaim diri sebagai ormas yang akan membawah kedamaian serta perubahan di tanah Papua, khususnya di Intan Jaya. “Kami tidak percaya mereka akan bawah kedamaian dan perubahan, jika yang berkumpul di dalam semua orang-orang yang sakit hati , berikan kepercayaan kepada pemerintah provinsi, seperti Gubernur, MRP, dan DPRP untuk bekerja, jangan ambil tugas kerja orang lain” akhiri Jhon. (oktovianus pogau)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Wednesday, January 20, 2010
Masyarakat Moni Menolak Kehadiran PT FI di Kabupaten Intan Jaya
OCTHO- PT Freeport Indonesia melalui PT Mineserveinternational akan segera melakukan eksplorasi tahap lanjutan di Kabupaten Intan Jaya. Hal ini sudah tentu menimbulkan kegelisaan di kalangan masyarakat moni, karena PT FI tidak pernah memperhatikan hak-hak adat masyarakat moni sejak pertama kali beroperasi.
Kami atas nama masyarakat dan tokoh Intelektual suku Moni asal Kabupaten Intan Jaya di Timika dengan tegas menolak kehadiran PT Freeport Indonesia melalui PT Mineserveinternational di Kabupaten Intan Jaya untuk mengadakan eksplorasi tahap lanjutan.
Karena sejak keberadaan mereka yang pertama kali di tahun 1994 banyak tuntutan masyarakat, serta hak-hak adat yang belum mereka penuhi, Ini membuat masyarakat setempat sangat kecewa. Dan kami tidak mau hal seperti ini terjadi lagi untuk kali yang berikutnya.
Hal ini di tegaskan perwakilan tokoh masyarakat dan Intelektual asal Kabupaten Intan Jaya Moses Belau melalui pernyataan pers yang mereka kirim ke media ini tadi malam.
Apabila memang bertekad ingin masuk ke Kabupaten Intan Jaya, tuntutan kami adalah PT Freeport Indonesia harus menyelesaikan 100% permintaan dan tuntutan masyarakat dan Intelektual asal Kabupaten Intan Jaya yang tidak pernah di penuhi sampai saat ini.
Lebih lanjut dalam surat pernyataan ini mereka mengatakan bahwa, hal-hal lain yang berkenaan dengan pembayaran hak ulayat akibat kerusakan tanah adat dan segala isinya serta pajak lapangan terbang Bilogai kepada pihak Gereja, akan di bicarakan sebelum melakukan aktivitas apapun di atas tanah hak ulayat masyarakat Moni.
Untuk mengakhiri pernyataannya, dalam pernyataan itu mereka mengatakan bahwa harapannya pernyataan sikap ini dapat di perhatikan oleh semua kompinen. ”kami sangat berharap surat pernyataan ini mendapat perhatian yang serius dari siapa saja, baik pemerintah daerah, masyarakat, serta pihak-pihak yang memilki kepentingan di Kabupaten Intan Jaya,”tegas mereka.
Surat pernyataan ini sendiri ditanda tangani oleh beberapa tokoh Intelektual dan tokoh masyarakat Kabupaten Intan Jaya, seperti Moses Belau, Andreas Maiseni, Yulius Selegani, Cosmas Sondegau, Januarius Maiseni, Pdt Yan Kobogauw, Paskalis Migau dan Pilemon Selegani.
Surat pernyataan ini di tujukan kepada Pemda Intan Jaya di Kabupaten Nabire, Pimpinan PT Mineserverinternational di Timika dengan tembusan Gubernur Provinsi Papua, MRP, DPRP, DPR Paniai, SKP Keuskupan Timika, Pastor Deken Moni Puncak Jaya, dan GKII di Bilogai.
Sumber Gambar:
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Sunday, January 10, 2010
Perayaan Ibadah Natal IPMMO Kota Study Makassar Dilangsungkan
OCTHO- Kelahiran putra natal memberikan harapan kepada kita untuk hidup lebih baik lagi. selain itu, kelahiran-Nya membawah terang untuk setiap orang yang ada di dunia, terlebih khusus mereka yang telah lama hidup pada kegelapan dunia yang dapat menyesatkan mereka. Oleh karena itu, makna natal ini harus kita renungkan sungguh-sungguh, agar kita menjadi orang pilihan kristus di akhirat kelak.
Hal ini di ungkapkan oleh Ev. Edison Magay, saat membawakan renungan khotbahnya pada acara perayaan ibadah natal Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Moni (IPMMO) di kota study Makassar yang berlangsung pada Minggu (10/01) di Aula Asrama Kamasan IV, Jln. Lanto Depasewang, Kota Makassar kemarin.
Menurutnya putra natal lahir membawah kita menjadi orang yang terang. “dahulu kita hidup pada kegelapan dunia, tetapi dengan kelahiran putra natal kedalam dunia ini, membuat kita menjadi orang yang terang, karena itu kita juga harus mau hidup dalam terang. Pilihan untuk hidup dalam terang atau gelap tergantung pada diri kita, tinggal bagaimana prakteknya.
Dia telah lahir ke dunia ini untuk semua umat manusia yang telah melakukan dosa. Oleh karena itu, bagaimana cara kita menyikapi kelahiran-Nya, serta hidup kudus dan tidak bercela untuk menjadi orang yang terang juga, hal itu yang sangat penting, dan menentukan kita akan ke arah mana pada akhirat nanti,” tegas beliau.
Lebih lanjut menurut beliau, bahwa kelahiran-Nya mengisi kekosongan yang telah lama dirasakan umat manusia. “telah lama kita hidup kekosongan, dan karena itu ketika dia lahir ke dalam hati kita, memenuhi ruang yang kosong itu, kita harus menerimanya agar menjadi orang yang baru, dan menjadi orang yang terang,” tandasnya.
Tambahnya lagi, bahwa situasi Papua saat ini berada dalam kegelapan, oleh karena itu bagaimana tindakan kita untuk menjadi pioner atau generasi yang membawah terang untuk merubah. “konflik tumbuh subur di Papua, kegelapan selalu menyelimuti bumi Papua, sekarang tinggal bagaimana kita yang telah menempuh pendidikan, dan telah mengetahui akan kebenaran membawah terang untuk mengubah kegelapan. Saya yakin Papua akan bisa menjadi tempat yang terang, jika kita punya tekad dan komitmen yang kuat,”tegas beliau penuh optimis.
Mengakhiri renungan khotbahnya beliau berharap agar mahasiswa asal Papua, terlebih khusus mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya dapat belajar sungguh, nyatakan terang putra natal itu, agar dapat berguna dan bermanfaat bagi banyak orang ketika berada di kota Makassar, maupun ketika akan kembali ke Papua.
“seluruh mahasiswa Papua yang ada, saya harap dapat menunjukan terang kristus yang telah lahir ke dunia ini, agar ketika kita pulang ke tempat asal kita di Papua, dapat berguna dan memberi manfaat kepada banyak orang. Jika kita telah mengetahui akan kebenaran dan terang kristus, kita harus berusaha untuk memancarkan terang itu kepada siapa saja yang belum paham akan hal ini,” akhiri beliau mantap.
Tema natal kali ini adalah Kelahiran Tuhan Yesus membawah terang bagi umat manusia, sedangkan Sub Thema adalah Natal membawah perubahan dalam IPMMO di Kota Study Makassar.
Sementara itu, dalam sambuatannya, ketua Panitia Natal Marthen Japugau mengukapkan banyak terima kasih kepada setiap pihak yang membantu hingga acara ini bisa berlangsung. “saya mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang bersedia membantu hingga acara ini bisa berlangsung dengan baik, termasuk pemerintah daerah Kabupaten Intan Jaya telah memberikan dana bantuan natal, sehingga acara ini dapat terselenggara, semua pertolongan itu hanya Tuhan yang akan membalasnya,” terang Marthen.
Selain itu Marthen juga memberikan penjelasan, mengapa acara natal ini bisa tertunda sampai bulan Januari. “saya yakin, teman-teman pasti bertanya-tanya mengapa acara natal bisa di tunda hingga bulan Januari saat ini, tapi saya ingin menjawabnya, semua ini karena kami menunggu beberapa teman-teman dan kakak-kakak senior yang berlibur ke luar kota Makassar. Ketika kami lihat telah terkumpul semua, maka kami langsungkan acara saat ini” jelasnya.
Sementara itu Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Paniai (IPMAPAN) kota study Makassar, Rickson Edoway berkomentar lain dalam sambutannya terkait terselenggaranya acara ini. “saya sebagai ketua mahasiswa Paniai memberikan apresiasi kepada teman-teman dari Kabupaten Intan Jaya, walaupun mereka tidak banyak, namun tetap bertekad untuk menyelenggarakan acara ini hingga selesai.
Ini sebuah prestasi yang sangat luar biasa, karena pemekaran Kabupaten Intan Jaya juga baru beberap bulan lalu, namun tetap bertekad untuk maju. Harapannya, kekompakan, kerja sama, serta kebersamaan antara seluruh ikatan mahasiswa di kota study Makassar dapat tetap terjalin dengan baik,” imbuhnya mantap. Setelah berlangsung acara perayaan ibadah natal serta kata sambutan natal, di lanjutkan dengan acara rama-tama, yang pada siang hari telah di langsungkan acara bakar batu (barapen). (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Friday, January 08, 2010
IPMMO Se-Indonesia Harus Terbentuk Untuk Sebuah Perubahan
OCTHO- Sangat perlu kita membentuk Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Moni (IPMMO) se-Indonesia, karena ini merupakan wadah besar yang akan mempersatukan seluruh pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya. Selain itu, wadah ini juga akan menjadi jembatan antara masyarakat dengan kaum intelektual, bahkan pemerintah daerah dengan kaum intelektual sendiri.
IPMMO se-Indonesia sendiri akan menjadi wadah yang betul-betul memperjuangkan hak-hak masyarakat, hak-hak mahasiswa serta menjadi mitra pemerintah untuk membangun Kabupaten Intan Jaya yang lebih baik lagi sesuai dengan harapan kita bersama. Hal ini di tegaskan salah satu kaum intelektual asal Kabupaten Intan Jaya, Aner Maiseni, melalui sambungan telepon selulernya, Sabtu (09/01) lalu.
Lebih lanjut menurut Aner, bahwa IPMMO se-Indonesia akan menjadi organisasi induk dari semua ikatan mahasiswa moni yang ada di seluruh Indonesia. “memang di setiap kota studi telah terbentuk ikatan pelajar dan mahasiswa moni, namun dengan kehadiran IPMMO se-Indonesia dapat menjadi wadah pemersatu semua ikatan itu.
Pembentukan IPMMO sendiri tidak boleh di politisir oleh kepentingan siapapun, tetapi nanti wadah ini hadir memang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Intan Jaya, selain itu untuk memperjuangkan kepentingan kaum intelektual yang sedang menempuh pendidikan di seluruh Indonesia,” tegasnya
“ide untuk membentuk IPMMO se-Indonesia sendiri di gagaskan pertama kali oleh Joshua Sani, Mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Sulawesi Utara. Dan beberapa team kerja yang terbentuk saat itu adalah Marthen Tipagau sebagai ketua team, Ice Zonggonau sebagai Sekertaris serta dukungan beberapa anggota team lainnya,” tandasnya.
Kita perlu mendukung mereka para inisiator pembentukan IPMMO se-Indonesia untuk tetap menggagaskan sehingga bisa mendapat dukungan dari siapapun, termasuk dari pemerintah daerah, agar apa yang menjadi cita-cita kita bersama, dimana melihat Kabupaten Intan Jaya yang maju dan berkembang dapat Nampak.
Terkait ide ini, ada juga mahasiswa dari kota studi makasar yang mendukung penuh rencana ini, misalanya Marthen Japugau berkomentar “sudah saatnya kaum intelektual memupuk persatuan dan kesatuan untuk sebuah kemajuan, dan sudah saatnya kita berusaha untuk menggapai hal itu. Kami dari kota study makasar yang sedang mengenyam study sangat setuju jika IPMMO se-Indonesia di bentuk. Karena kami yakin, IPMMO se-Indonesia akan membawah sebuah kekuatan besar dari kaum intelektual,” tegasnya optimis.
Sedangkan Deli Ella Mirip, Mahasiwa asal Kabupaten Intan Jaya yang sedang menyelesaikan pendidikan tinggi di Bandung berkomentar lain, bahwa pembentukan IPMMO se-Indonesia sangat-sangat perlu di bentuk. “saya pribadi sangat mendukung pembentukan IPMMO se-Indonesia, karena organisasi ini akan menjadi wadah atau payung untuk organisasi-organisasi lain yang ada di setiap wilayah di Indonesia. Persatuan dan kesatuan akan terlihat, ketika wadah ini dengan cepat segera di bentuk” terangnya melalui sambungan telepon kepada media ini.
Jefri Miagoni yang sedang menempuh pendidikan di Jogjakarta, sekaligus ketua IPMMO se-Jawa dan Bali berkomentar lain, “memang pembentukan IPMM0 se-Indonesia ini sangat penting sekali, tapi bagaimana kalau kita menunggu adanya bupati definitf dulu baru merencanakan segalanya, termasuk pembentukannya, karena wadah ini merupakan honai yang gaunnya sangat besar, mengkafer semua lapisan, baik masyarakat, tokoh adat bahkan pemerintah daerah sendiri,” jelasnya.
Menurut rencananya pertemuan awal untuk pembentukan IPMMO se-Indoneia akan di langsungkan di Kabupaten Nabire pada bulan juni mendatang. “rencananya kami akan mengadakan pertemuan awal untuk pembentukan pengurus IPMMO se-Indonesia di Kabupaten Nabire, pada bulan juni mendatang, namun kami akan konfrimasi lagi soal kepastian waktu ini,” terang Joshua sani, inisiator pembentukan IPMMO se-Indonesia mantap. (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Thursday, January 07, 2010
Moses Belau, S.Kes, M.Kes : Kaum Intelektual Harus Berperan Penting Dalam Peningkatan SDM
OCTHO- Mahasiswa sering kali disebut sebagai kaum intelektual, kaum terpelajar bahkan kaum terdidik, hal ini karena mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang kehidupan dan alam sekitarnya. Semua itu mereka dapatkan melalui bangku pendidikan yang telah mereka lalui di perguruan tinggi, serta berbagai pengalaman hidup yang telah mereka jalani.
Kaum intelektual dituntut perannya untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan menjadi kebutuhan dikemudian hari, dengan demikian seorang kaum intelektual harus menunjukan kepeduliannya untuk mewujudkan pribadi, kelompok bahkan keluarga yang sehat, agar cita-cita melihat orang Papua yang memiliki SDM yang baik dapat terwujud dalam beberapa waktu mendatang.
Hal ini di kemukakan oleh Moses Belau, S.Kes, M.Kes saat memberikan materinya pada acara natal, seminar dan sambut tahun baru Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Moni (IPMMO) se-Jawa dan Bali, serta Sulawesi yang diadakan di Kaliurang, Jogjakarta, Rabu, (29/12-01/01) lalu.
Lebih lanjut menurut beliau, kesehatan dan SDM sangat erat kaitannya. “orang yang sehat sudah tentu akan memiliki SDM yang baik. Karena dengan kesehatan itu, mereka akan memacu diri untuk belajar, bergaul dan menekuni segala aplikasi ilmu untuk sebuah perkembangan hidup mereka. Tetapi berbeda dengan orang yang tidak sehat, sudah tentu kesiapan SDM mereka sangat diragukan.
Oleh karena itu, kita sebagai kaum terpelajar yang ada di tuntut hidup sehat, selain itu di tuntut juga untuk menciptakan SDM yang baik pula. Banyak cara untuk menghasilkan generasi muda dengan SDM yang baik, diantaranya menjaga kesehatan dan kesucian diri kita, karena nantinya kita akan berumah tangga (berkeluarga) dan kita-pun akan menghasilkan keturunan (regenerasi).
“seorang ibu harus memperhatikan kesehatan dirinya, karena akan ada seorang bayi yang dikandungnya suatu saat nanti. Karena sehat dan menjadi manusia yang berkualitas tergantung dari kesehatan ibu yang akan melahirkan dan merawatnya. Seorang suami juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang penting terhadap kesehatan seorang ibu dan memelihara bayi yang akan dilahirkan oleh istrinya. Ini sebuah hal yang begitu urgent”, terangnya.
Menurut bapak tiga anak ini, konsumsi minuman keras yang mengandung alcohol dapat memperburuk kesehatan. “sebagai kaum terpelajar, kita mungkin telah mengetahui manfaat buruk dari pada mengkonsumsi minum-minuman keras, oleh sebab itu, jangan sekali-kali kita menyentuhnya. Karena minuman keras dapat menghancurkan masa depan kita, masa depan keluarga kita dan anak-anak yang akan kita hasilkan, selain itu juga akan mengganggu pola pikir kita. Tentunya hal ini membuat kita harus berhati-hati,’ pungkasnya.
Selain itu juga sex bebas juga dapat merusak masa depan kita. Hal ini juga tentu akan melahirkan perbuatan kawin muda, yang tentu semua orang tidak menginginkan demikian. Apabila kita tetap kawin muda, otomatis masa depan kita tidak begitu baik, selain itu juga kita telah merusak anak yang ada di kandungannya, karena seorang ibu belum memiliki usia yang sesuai untuk melahirkan. Ini harus menjadi perhatian yang serius buat kaum intelektual, khususnya wanita, agar tidak menjadi korban nafsu dari pada kaum pria,” jelas beliau.
Dengan melihat berbagai permasalahan diatas, ada beberapa langkah-langkah yang harus kita ambil untuk tetap menjaga kesehatan dan meningkatkan SDM dari pada kita dan generasi penerus, seperti; belajar memahi tentang pentingnya kesehatan, menyadari betul fungsi alat reproduksi, menambah pengetahuan kita tentang kesehatan serta mengoptimalkan segala SDM yang telah kita miliki.
Apabila kita telah sampai pada tahap berkeluarga, banyak hal yang harus kita perhatikan, karena ini berkaitan dengan kesehatan seorang bayi dan masa depan sumber daya manusiannya. Beberapa hal penting yang kita sebagai orang tua berikan pada masa pertumbuhan kepada seorang bayi adalah mengontrol segala kesehatannya bayi tersebut, seperti rajin mengantarnya ke puskesmas, posyandu, serta beberapa tempat kesehatan lainnya. Ini sangat penting untuk kesehatan dan kehidupannya di hari esok.
Harapannya dengan penjelasan yang singkat tentang pentingnya kesehatan dan peningkatan SDM ini kaum intelektual lebih di tuntut perannya untuk memberikan pemahaman kepada siapa saja yang belaum paham tentang persoalan ini. Karena banyak orang yang menjadi korban dari pada arus globalisasi karena factor ketidaktahuan mereka. Saya yakin, apabila kaum intelektual membantu saya dalam menyosialisasikan hal ini kepada masyarakat umum, akan tercipta manusia Papua yang sehat dan berkualitas SDM-nya, sehinga kita dapat bersaing secara baik dan sehat dengan saudara kita yang berasal dari luar Papua,” terang belau mantap. (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Monday, January 04, 2010
Perayaan Natal, Seminar dan Sambut Tahun Baru IPMMO Dilangsungkan
Kelahiran Putra Natal Turut Mempersatukan Kita
OCTHO- Dengan perayaan ibadah natal dan sambut tahun baru ini, kami sangat-sangat berharap dapat mempersatukan identitas pelajar dan mahasiswa moni yang ada di seluruh Indonesia, terlebih khusus lagi se-Jawa dan Bali. Sudah cukup kita terkatung-katung seperti tidak ada orang tua, hal ini terjadi karena memang di daerah kita hidup beragam etnis, suku dan golongan.
Persatuan dan kesatuan-lah yang dapat menumbuhkan semangat kita untuk bersaing dan maju, dimana berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan saudara-saudara kita yang berasal dari luar Intan Jaya maupun dari luar Papua. Dan memang kita harus komitmen, agar persatuan dan kesatuan itu dapat tumbuh diantara kita sendiri.
Hal ini di sampaikan oleh Ketua Panitia Natal, Seminar dan Sambut Tahun baru, Jhoni Kobogau saat membacakan sambutan tertulisnya, Selasa, (29/12) lalu saat acara akan dibuka di Kaliuran, Hotel Wijaya II.
Lebih lanjut menurutnya bahwa natal kali ini sudah tentu akan melahirkan generasi dari Kabupaten Intan Jaya yang begitu peduli terhadap daerahnya. “kami yakin, akan lahir generasi baru dari Kabupaten Intan Jaya yang membawah terang untuk Papua dan dunia” tegasnya.
Selain itu menurut ketua umum IPMMO mengatakan bahwa honai telah ada, sekarang bagaimana tekad kita untuk maju dan bersaing. “IPMMO se-Jawa dan bali terbentuk pada tahun 2001 melalui berbagai perjuangan yang begitu panjang, sudah pasti honai ini sangat-sangat membantu kita untuk maju dan berkembang, sekarang tinggal bagaimana peran kerja kita untuk memajukan diri kita dan IPMMO sendiri untuk antisipasi ketika kita terjun ke lapangan pekerjaan untuk membangun Kabupaten Intan Jaya.
Kabupaten Intan Jaya secara geografis terdapat di jantung kota Papua, dan di dalamnya terdapat berbagai jenis suku dan ras, selain itu medan yang menjulang tinggi sepertinya sangat susah tersentuh oleh pembangunan, ini menjadi tugas kita generasi muda, kaum intelektual yang telah menempuh pendidikan tinggi untuk sama-sama berpikir membangunnnya” pungkas Jefri.
Perayaan ibadah natal, seminar dan sambut tahun baru kali ini berlangsung di kota study Jogjakarta, Kaliurang. Dimana tahun lalunya berlangsung di kota study Jakarta. Acara ini berlangsung dari tanggal 29 Desember 2009 hingga 01 Januari 2010 sesuai dengan rapat panitia natal tanggal beberapa waktu lalu.
Dari berbagai kota study se-Jawa dan Bali yang hadir, adalagi yang lebih special karena beberapa teman-teman mahasiswa moni dari Sulawesi sempatkan diri untuk menghadiri ibadah natal ini. “kami sangat senang dengan kehadiran teman-teman moni yang ada di Sulawesi (manado dan makasar), dimana telah dua kali menghadiri perayaan ibadah natal yang kami selenggarakan. Hanya ucapan terima kasih yang bisa kami sampaikan,” terang wakil ketua umum IPMMO, Tetairus Widigipa di sela-sela berlangsungnya acara.
Dalam perayaan ibadah natal, seminar dan sambut tahun baru kali ada beberapa pemateri yang diundang oleh panitia, seperti Moses Belau, Skm, M.Kes, yang mana membawah materi tentang Pemberdayaan Kesehatan dan Peningkatan SDM. Danias Miagoni, S.Pd, M.Pd dengan materi Perkembangan Ilmu Pengetahun dan Teknologi, Oktovianus Pogau dengan materi Peran Kaum Intelektual Dalam Membangun Kabupaten Intan Jaya yang lebih baik, kemudian Bartol Mirip, SE dengan materi Perkembangan Kabupaten Intan Jaya dan mewakil pemerintah daerah.
Acara ini berlangsung berkat kerja sama dari berbagai pihak, baik panitia, peserta, bahkan pemerintah daerah Kabupaten Intan Jaya. Harapannya tahun-tahun berikit acara seperti ini dapat terselenggara lebih meriah dan lebih bermakna lagi, agar kita juga dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi baru yang dapat bersaing terhadap berbagai perkembangan IPTEK yang ada,” hal ini ditegaskan oleh salah satu peserta dalam sebuah diskusi. (pogau)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Friday, January 01, 2010
PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MEMBANGUN KABUPATEN INTAN JAYA YANG LEBIH BAIK
Selain pemerintah daerah dan masyarakat setempat, kaum intelektual atau mahasiswa mempunyai peran yang begitu penting dalam membangun Kabupaten Intan Jaya. Oleh sebab itu, kaum intelektual di harapkan dapat belajar yang sungguh-sungguh, sehingga aplikasi ilmu yang telah di embani di bangku pendidikan dapat bermanfaat buat pembangunan Kabupaten Intan Jaya kedepannya.
Pendahuluan
Harapan masyarkat saat ini adalah dimana bisa melihat Kabupaten Intan Jaya maju dan berkembang seperti beberapa Kabupaten lainnya yang telah lebih dahulu dimekarkan. Hal ini memang menjadi tugas utama semua komponen masyarakat, pemerintah daerah serta kaum intelektual yang merasa memilki Kabupaten Intan Jaya.
Sangatlah salah, apabila mengatakan bahwa usia sebuah kabupaten, mencerminkan kemajuan kabupaten itu, karena toh, beberapa kabupaten yang telah lama dimekarkan, namun perubahannya tidak nampak. Malahan ada kabupaten yang telah lama dimekarkan, namun nasib masyarakat setempat sangat-sangat menggenaskan.
Memang benar, persoalan utama yang dihadapi masyarakat di Kabupaten Intan Jaya saat ini adalah mereka baru melangkah untuk mengejar ketertinggalan, dan memang karena Kabupaten Intan Jaya sendiri baru oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, Pada 29 Oktober 2009 lalu di Jakarta. Dan bukan berarti mereka tertinggal, tetapi mereka hanya terlambat jalan, atau perhatian yang tertunda dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat.
Untuk berusaha mengejar ketertinggalan itu, harus disadar bahwa bukan hal muda, seperti membalik telapak tangan. Ada banyak tantangan, ada banyak rintangan, serta ada banyak halangan yang telah menanti didepan, dan semua itu butuh tekad dan komitmen penuh. Tergantung langkah apa yang akan diambil, langkah itu pula yang akan menentukan masa depan kabupaten ini dalam beberapa tahun mendatang.
Kaum intelektual juga mempunya peran dan fungsi yang begitu penting dalam membangun Kabupaten Intan Jaya. Kaum intelektual-lah yang akan menjadi tulang punggung masyarakat Intan Jaya. Menyadari akan hal ini, harus ada langkah kongrit yang diambil oleh kaum intelektual, khususnya mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Intan Jaya sendiri, dimana menunjukan kepedulian untuk sebuah perubahan di masa mendatang.
Sembari memikirkan bangku pendidikan di perguruan tinggi, sebagai putra daerah Intan Jaya yang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kemajuan daerah. Perubahan hanya dapat terjadi jika ada kesadaran dari kaum intelektual untuk membawah perubahan, selagi kesadaran belum tumbuh, selagi itu pula kita sedang bermimpin untuk melihat perkembangan Kabupaten Intan Jaya yang lebih baik.
Pemekaran Kabupaten Intan Jaya
Perjalanan untuk pemekaran Kabupaten Intan Jaya begitu panjang. Dimulai pada tahun 2002 lalu, pada masa kepemimpinan Bupati Kabupaten Paniai, Januarius Douw, SH dan Ketua DPRD Yakobus Muyapa. Ketika itu tuntutan untuk pemekaran Kabupaten Intan Jaya hadir dari kerinduan berbagai lapisan masyarakat.
Dan memang demikian, masyarakat yang berada di enam distrik (sugapa, agisiga, hitadipa, biandoga, wandai, homeo) mengharapkan demikian, dimana sebuah Kabupaten baru bisa berdiri sendiri, tujuannya membawah keluar masyarakat Intan Jaya dari berbagai ketertinggalan yang telah mereka rasakan.
Ketika masa kepemimpinan Bupati Januarius Douw, SH telah berakhir, nampaknya tuntutan masyarakat untuk pemekaran Intan Jaya sepertinya akan tertutup, hal ini karena tidak ada inisiatif yang pemda Paniai ambil dalam menjawab kerinduan masyarakat ini. Dan hal ini sudah tentu membuat masyarkat yang hadir di enam distrik sedikit kecewa.
Namun harapan untuk pemekaran Kabupaten Intan Jaya tidak sirna begitu saja, ada semangat yang muncul lagi. dengan terbentuknya team pemekaran pembentukan Kabupaten Intan Jaya di bawah pimpinan Julius Sani, SE dan Natalis Tabuni, M.Si. Kerja team dibawah pimpinan kedua beliau ini membuahkan hasil yang begitu menggembirakan, dimana ada kejelasan tentang akan adanya pemekaran Kabupaten Intan Jaya.
Selain kerja team pembentukan Kabupaten Intan Jaya yang begitu baik, kontribusi penting yang Bupati Kabupaten Paniai, Naftali Yogi, S.Sos berikan tidak kala pentingnya. Kerja sama yang baik antara pemimpin daerah Paniai dan team pembentukan Kabupaten Intan Jaya akhirnya membuahkan hasil, dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Kabupaten Intan Jaya. Ini sebuah hasil gemilang yang sangat luar biasa.
Akhirnya semua keluh kesah masyarakat enam distrik untuk memilki sebuah Kabupaten baru menjadi kenyataan, ketika Kabupaten ini di resmikan oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto di Jakarta, pada tanggal 28 Oktober 2009, sekaligus lahirnya UU NO 54 Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabupaten Intan Jaya. Sorak girang masyarkat enam distrik ketika mengetahui bahwa Kabupaten Intan Jaya telah betul-betul dimekarkan, hal ini memang telah menjawab kerinduan masyarakat.
Kabupaten Intan Jaya yang menjadi kerinduan masyarakat telah hadir, sekarang tinggal bagaimana langkah yang akan diambil untuk menjawab kerinduan masyarakat itu. Dimana membawah keluar masyarakat Intan Jaya dari berbagai “ketertinggalan” itu. Ini menjadi sebuah pekerjaan yang sangat besar. Oleh sebab itu, dari awal telah saya sampaikan, bahwa pemerintah daerah sebagai penyelenggara system pemerintahan perlu bekerja sama secara baik dengan kaum intelektual, atau mahasiswa yang memilki ilmu dan akhlak mulia demi kemajuan Kabupaten Intan Jaya.
Pemekaran Kabupaten Intan Jaya hadir untuk membuka keterisolasian daerah, memperpendek rentang kendali pelayan pemerintah serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang ada di daerah tersebut. Dan Kabupaten Intan Jaya di harapkan hadir untuk demikian.
Kaum Intelektual atau Mahasiswa?
Mahasiswa atau yang biasa disebut dengan kaum intelektual adalah golongan akademis yang telah betul-betul terdidik. Mereka terdidik karena berbagai proses pendidikan yang telah mereka dapatkan, mulai dari awal saat sekolah dasar hingga sampai pada perguruan tinggi. Kaum intelektual harus memberikan kontribusi yang begitu penting bagi perkembangan sebuah daeranya, dalam hal ini harus ada kontribusi yang intelektual dari Kabupaten Intan Jaya berikan untuk masyarakatnya.
Banyak peristiwa penting di dunia terjadi karena peran kekuatan intelektual, munculnya kesadaran atau kebangkitan nasional 1908 dan lahirnya bangsa Indonesia 1928 juga karena kekuatan intelektual, Indonesia merdeka pun karena sinergi antara kekuatan bersenjata dan Intelektual. Dengan demikian dapat dikatakan betapa dahsyat kekuatan intelektual dalam melakukan perubahan.
Dengan demikian, kaum intelektual yang berasal dari Kabupaten Intan Jaya, khususnya yang telah menmpuh pendidikan tinggi dapat membawah perubahan bagi daerah tercinta Kabupaten Intan Jaya. Karena apa dan bagaimana Kabupaten Intan Jaya dalam beberapa waktu mendatang di tentukan oleh kontribusi yang kaum intelektual berikan.
Ketika kaum intelektual memberikan kontribusi yang begitu penting bagi pembangunan Kabupaten Intan Jaya, penulis yakin pemerintah daerah akan bangga dengan putra-putri dareah yang bekerja dengan sinergik yang sangat luar biasa. Apalagi jika kontribusi besar itu diberikan oleh mahasiswa yang telah menempuh pendidikan di luar Papua. Karena mutu dan kualitas pendidikan di luar Papua lebih baik di bandingkan dengan pendidikan di Papua saat ini.
Kesadaran sebagai putra daerah Kabupaten Intan Jaya begitu penting. Hal ini juga akan melahirkan kepedulian dan tanggung jawab. Ketika kedua hal ini terbentuk, saat itu pula kaum intelektual sedang berpikir untuk sebuah perubahan dan kemajuan Kabupaten Intan Jaya, yang telah kita ketahui sendiri baru saja di mekarkan beberapa saat lalu.
Mari kita mulai menumbuhkan semangat kesadaran dan kepedulain terhadap kabupaten kita yang baru saja di mekarkan. Hal ini juga sudah bagian dari pengakuan dan tekad kita untuk membangun Kabupaten Intan Jaya, membawah keluar berbagai masyarakat dan saudara kita yang banyak orang klaim begitu tertinggal.
Faktor Pendorong Peningkatan Peran Mahasiswa
Menurut Arbi Sanit ada empat faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga harus menjadi perhatian bagi mahasiswa atau kaum intelektual yang berasal dari Kabupaten Intan Jaya dalam membangun daerahnya.
Pertama; sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat. Seperti pergaulan, pembawaaan, serta kesiapm siagaan yang begitu luas terhadap masyarakat. Mahasiswa menjadi orang yang terpandang atau di hargai dalam tingkatan masyarakat.
Kedua; sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda. Mahasiswa memahami seluk beluk pengetahuan serta pergaulan di tingkatan masyarakat dan dunia pendidikan.
Ketiga; kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari. Keberagaman menjadikan kaum intelektual atau mahasiswa lebih sigap.
Keempat; mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda. Sebuah penghargaan yang begitu besar, hal ini karena tingkat pemahamannya yang memang begitu baik di antara anak muda segenarasinya.
Ke-empat point yang telah di sebutkan diatas yang mendasari sehingga peran seorang mahasiswa atau intelektual memang sangat-sangat di perlukan. Selain meningkatkan peran, mahasiswa juga sangat di harapkan untuk memilki kepribadian yang baik, supaya dapat di percayai oleh masyarakat.
Peran Kaum Intelektual Kabupaten Intan Jaya
Banyak peran kerja yang kaum intelektual dapat berikan untuk pembangunan Kabupaten Intan Jaya. Dan semua peran kerja itu tentunya untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan golongan apalagi kepentingan pribadi semata. Oleh karena itu, dari awal pembahasan telah di jelaskan bahwa seorang mahasiswa harus memiliki integritas atau kepribadian yang baik agar dapat di percayai, baik oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat.
Beberapa peran mahasiswa yang harus di tumbuhkan sejak dini untuk sebuah perubahan bagi keberlangsungan Kabupaten Intan Jaya adalah sebagai berikut;
- Melakukan Sebuah Kajian Ilmiah
Kajian yang ilmiah yang dilakukan oleh seorang intelektual sangat bermanfaat bagi keberlansungan pembangunan sebuah daerah, apalagi kalau kajian ilmiah ini dilakukan oleh kaum intelektual yang berasal dari daerah itu sendiri. Dalam hal ini, apalagi kajian ilmiah untuk pembangunan Kabupaten Intan Jaya di lakukan oleh putra daerah yang berasal dari Kabupaten Intan Jaya sendiri.
Penulis yakin, kajian ilmiah untuk sebuah pembangunan yang diajukan kepada pemerintah akan menjadi pijakan untuk sebuah pembangunan. Selain itu, kajian ilmiah ini menjadi sebuah prestasi yang luar biasa, karena putra dareah dari Kabupaten Intan Jaya memilki kesadaran yang luar biasa untuk sebuah kemajuan daerah itu.
Karena banyak pengalaman menunjukan bahwa segala kajian ilmiah untuk sebuah pembangungan di sebuah daerah yang baru mau berkembang di lakukan oleh para peneliti atau kaum intelektual yang berasal dari luar Papua. hal ini juga terkesan kita di anggap tidak memiliki intelek yang cukup. Hal ini tidak boleh terjadi, mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Intan Jaya harus sigap dengan hal ini.
- Mengontrol Kinerja Birokrasi
Banyak orang salah mengartikan hal ini, mengontrol kinerja birokrasi, bukan berarti mencampuri segala urusan yang di jalankan atau di lakukan oleh para wakil rakyat atau wakil pemerintah yang ada di birokrasi. Karena pengalaman menunjukan, bahwa tekad mereka yang di duduk di birokrasi juga sedang berusaha untuk membangun sebuah daerah.
Dan Kabupaten Intan Jaya juga demikian, bahwa tekad dari para wakil pemerintah dan wakil rakyat memang telah betul-betul membangun, apalagi Kabupaten kita baru saja di mekarkan. Tekad pemerintah untuk membangun Kabupaten Intan Jaya memang terbukti, padahal baru saja dimekarkan, dimana beberapa waktu lalu telah berhasil menyelenggarakan tes CPNS dengan baik, ini sebuah prestasi gemilang yang mereka torehkan, padahal baru beberapa waktu lalu dimekarkan.
Peran mahasiswa atau kaum intelektual dalam birokrasi, adalah memberikan masukan atau pendapat, jika saja kaum intelektual merasa apa yang menjadi kebijakan atau keputusan birokrasi tidak begitu berdampak buat pembangunan daerah Kabupaten Intan Jaya. Ini juga sudah tentu melalui hasil analisa yang baik dan cermat.
Mahasiswa sebagai kaum terpelajar juga harus jeli dan cermat dalam segala kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah Intan Jaya. Dan apa yang menjadi ketidakpuasan mahasiswa dengan kebijakan itu tentunya harus melalui mekanisme yang ada, bukan langsung melalui aksi demo, apalagi dengan cara-cara yang tidak mencerminkan kaum terpelajar.
Ketika mahasisa dengan sigap membantu pemerintah, memberikan masukan, serta melakukan fungsi control dalam pembangunan, penulis yakin pemerintah akan bangga dengan putra daerah mereka yang begitu kritis dan mengharapkan sebuah kemajuan. Hal ini juga bagian penting dari kepedulian kaum intelektual terhadap pembangunan Kabupaten Intan Jaya.
- Menjadi Mitra Masyarakat
Sebagai kaum terpelajar yang di percayai betul kualitasnya, mahasiswa juga berperan penting dalam merangkul masyarkat. Hal ini juga untuk kepentingan bersama. Dimana apa yang menjadi keluhan, dambaan, serta keinginan masyarakat untuk daerahnya bisa di sampaikan kepada pemerintah daerah yang akan melangsungkan pembangunan.
Karena dalam perjalanannya kadang pemerintah hanya percaya dan dengar pada mereka kaum intelektual yang memang paham dan mengerit sistem pemerintahan. Dalam hal ini, kaum intelektual harus menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarkat. Cara ini di anggap sangat berefisien, karena dapat menjaga konflik yang berkepanjangan antara masyarakat dan pemerintah.
Disini mahasiswa memang dituntut untuk mempraktekan aplikasi ilmu yang telah di embaninya. Oleh karena itu, tugas mahasisa juga untuk belajar sungguh-sungguh, menimbah ilmu sebanyak-banyaknya untuk sebuah kepentingan, dalam hal ini kepentingan bersama.
Penulis yakin, apabila mahasiwa betul-betul menunjukan kualitasnya masyarakat sudah tentu akan memberikan kepercayaan untuk menyampaikan apa yang menjadi keinginan mereka kepada pemerintah, tentunya sesuai dengan mekanisme yang ada dalam pemerintahan.
- Pelopori Kehadiran Lembaga Non-Pemerintahan
Lembaga non pemerintah sangat-sangat di butuhkan kehadirannya di Kabupaten Intan Jaya. Karena lembaga ini berfungsi untuk melakukan segala analisa tentang perkembangan sebuah daerah, dalam hal ini Kabupaten Intan Jaya sendiri. Kehadiran lembaga ini juga sudah turut akan membantu pemerintah dan masyarakat dalam melakukan pembangunan.
Tidak ada orang lain yang bisa pelapori kehadiran lembaga non pemerintahan ini, namun kaum intelektual atau mahasiswa yang harus berperan aktif untuk mengahadirkan lembaga ini ataupun sejenisnya di Kabupaten Intan Jaya. Agar apa yang menjadi kerinduan masyarakat, dimana terciptanya pemerintahan yang bersih, jujur dan sehat dapat tercipta untuk kepentingan bersama.
Pengalaman pada beberapa Kabupaten di Papua, tidak pernah mengalami kemajuan karena tidak pernah melibatkan lembaga non pemerintahan untuk bersatu padu membangun sebuah daerah. Dan Pemerintah Dareah Intan Jaya harus demikian, dimana merangkul lembaga non pemerintahan untuk sebuah kemajuan daerah ini.
Kemungkinan untuk melihat wajah Intan Jaya yang baik akan tercapai, jika saja lembaga ini betul-betul bekerja jujur, tulus dan ikhlas untuk membangun. Pemerintah daerah juga sama demikian, harus terbuka dan berbesar hati ketika ada sebuah lembaga non pemerintah yang hadir untuk sama-sama membangun Kabupaten Intan Jaya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masih banyak peran kerja yang harus kaum intelektual berikan untuk pembangunan Kabupaten Intan Jaya. Keharusan itu sudah bagian dari kepedulian terhadap perkembangan sebuah daerah, dan kesadaran memilki sebuah darah, dalam hal ini kesadaran dan kepedulian terhadap Kabupaten Intan Jaya yang kita cintai bersama.
Sudah saatnya kita menumbuhkan semangat untuk menunjukan kepedulian kepada daerah kita Kabupaten Intan Jaya. Kita telah lama terombang-ambing, menumpang sana-sini, dan bahkan kadang kita dianggap sebagai anak tiri. Mungkin sudah berakhir semua kesediahan dan luka batin, sekarang kita menatap ke kabupaten kita yang telah hadir. Dia hadir untuk menjadikan kita manusia yang berguna bagi masyarakat kita yang kita cinta.
Penutup
Pemekaran Kabupaten Intan Jaya hadir menjawab segala tangisan kita bersama. Sudah tentu kita harus bersikap positif dalam menerima kehadiran kabupaten ini. Selain itu, harus ada ucapan terima kasih yang kita berikan kepada kabupaten induk yang dengan lapang dada telah melepaskan kita untuk beridiri sendiri.
Dan yang terpenting juga, kita harus berterimas kasih kepada mereka team pembentukan Kabupaten Intan Jaya yang mengorbankan segalanya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat hingga sampai di pemerintah pusat. Ini sebuah prestasi yang menunjukan bahwa kita masyarakat Intan Jaya tidak kalah maju dengan beberapa saudara kita yang ada di luar intan jaya.
Mereka telah menjawab kerinduan dan tangisan kita dengan pemekaran, dan sudah saatnya kita berpikir untuk menjawab kerinduan itu, karena kepercayaan untuk mengolah dan memajukan Intan Jaya telah ada di pundak kita (pemerintah dan intelektual). Saat ini yang harus menjadi pemikiran bersama, adalah langkah apa yang akan kita ambil untuk menjawab segala tangisan dan kerinduan itu.
Mungkin langkah yang baik, akan menjadikan Kabupaten ini berdiri kokoh dibandingkan dengan beberapa kabupaten lainnya. Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini sangat diharapkan kerja sama yang baik antara pemerintah dan kaum intelektual dalam membangun atau menjawab sebuah kerinduan itu.
Lebih terutama lagi, peran kerja yang baik dan bertanggung jawab dari kaum intelektual sangat-sangat di harapkan. Kaum intelektual adalah motor penggerak pembangunan di Kabupaten Intan Jaya saat ini. Sekarang harus direnungkan, jika ingin menjadi motor penggerak yang baik dan bertanggung jawab, langkah atau persiapan apa yang harus di ambil untuk langkah itu.
Menjaga nama baik, serta menunjukan kepribadian mahasiswa Kabupaten Intan Jaya yang mulia adalah nilai terpenting dari segala nilai yang akan menjadi ukuran kita untuk bergerak membangun Kabupaten dan masyarakat kita. Sudah saatnya menunjukan kemampuan itu, agar kita menjadi golongan atau mahasiswa yang di perhitungkan pada tingkat kelompok yang lebih besar atau lebih luas. Saat itu tekad kita akan betul-betul teruji.
Akhir kata, apabila ada yang kurang berkenan dalam penulisan ini mohon di maafkan, karena tidak ada manusia yang sempurna. Kita sama-sama sedang berusah belajar untuk menjadi yang baik, agar kita juga bisa menjadi sempurna. Dan terima kasih juga untuk panitia penyelenggara yang telah memberikan kesempatan untuk penulis menyampaikan materi ini dalam natal dan seminar yang sangat berkesan ini. Tuhan Yesus Memberkati kita semua. (Penulis adalah Jurnalis lepas pada beberapa media di Papua, serta putra asli kelahiran Kabupaten Intan Jaya. Dapat di hubungi melalui E-mail: oktovianus_pogau@yahoo.co.id dan web blog http://pogauokto.blogspot.com )
Materi ini disampaikan dalam Natal dan Seminar Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Moni (IPMAMO) se-Jawa dan Bali, yang di berlangsungkan di Jogjakarta, pada tanggal 29 Desember hingga 01 Januari 2010.
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire