Sunday, June 14, 2009

Kami Ingin Bebas Selamanya

OCTHO- Intaian penjilat meresahkan batin,
Murkanya hati, tak dapat tersalurkan,
Kelamnya malam, menjadi bunga tidur
Gigitan nyamuk, menjadi sahabat sejati
Kami katakan, tidak ada kata nyerah

Tatapan bulan, memberi semangat,
Walau pengintai hampir serupa dengannya

Nyawa menjadi taruhan,
Singa-singa lapar selalu meronta
Kami tetap dengan tekad bulat katakan,
mereka hanyalah singa yang bergigi ompong

Kami ingin hidup bebas,
Kami ingin menikmati alam Papua
Kami ingin, dan ingin menjadi tuan di tanah ini

Satu agenda di tahun 2009
BOIKOT PEMILU DAN PILPRES
Satu hati, satu jiwa untuk mendukung semua ini
Kita harus mengakihi segalanya,

Gigitan nyamuk, tatapan bulan, intaian singa lapar
Hanyalah penderitaan sementara.
Kami ingin bebas SELAMANYA.


Minggu Malam, Pukul 22.00 Wit, 13 April 2009
Distrik Sentani Barat, Kertosari




headerr

Baca Selengkapnya......

Thursday, June 11, 2009

Pertanyaan Untuk Otsus?

OCTHO- Apa yang telah dihasilkan dengan kehadiran Otonomi Khusus (Otsus) selama 8 tahun di bumi cendrawasih? Apakah Otsus membawah perubahan untuk rakyat Papua? Apakah Otsus mendewasakan rakyat Papua? Apakah Otsus telah mengubah draf atau angka kemiskinan yang sangat tinggi di Papua (hampir 89%) Atau justru Otsus membuat orang Papua buta mata hatinya terhadap realitas keberadaan dunia yang sangat mencekam.

Sesuai cita-cita dan tujuan utama kehadiran "gula-gula" ini, Otsus seharusnya membawah perubahan dan angin segar untuk rakyat Papua. Karena Otsus sendiri di klaim sebagai pemberi solusi akhir yang bisa merubah wajah Papua, hal inipun adalah klaim dari Jakarta dan antek-anteknya. Dengan kehadiran baranG ini, akan timbul beberapa pernyataan yang turut di ragukan keberadaannya.

Dimana banyak orang yang mengatakan begini dengan kehadiran Otsus. (1) Sudah ada trilyunan rupiah dikuncurkan ke saku pejabat dan departemen di Tanah Papua; (2) Sudah ada banyak Kabuptan dan Dua Provinsi di Tanah Papua dengan sudah banyak Batalion, Polres, Polsek, Korem, Yonif dan Pegawai Negeri dari Jawa-Sumatera sudah banyak didrop kesana untuk membangun Papua Barat; (3) Sudah banyak pesawat Pemda yang dibeli oleh Pemda sendiri untuk dipakai demi melancarakan akses TNI/Polri ke pelosok Tanah Papua; (4) Sudah banyak jalan raya yang dibangun menghubungkan berbagai wilayah untuk mendrop pasukan TNI/Polri dalam mengejar dan membunuh rakyat Papua; (5) Sudah bayak pejabat Papua mengenal Tanah Jawa dan merumahkan banyak isteri di Jawa yang selama ini perlu duit dari Tanah Papua, dan seterusnya.

Apa benar beberapa pernyataan di atas adalah gambaran atau jawaban dari keberhasilan Otsus di Papua. Jawaban sungguh ironis dan sangat gombal. Karena berdasarkan analisa dari pernyataan diatas, Otsus telah mengarahkan orang Papua kepada pertikaian atau menciptakan imits tanah Papua sebagai zona darurat. Tanah Papua sebagai tempat konflik.

Walau bagaimanapun, Otsus akan tetap diterima oleh orang Papua. Karena orang Papua bukanlah pemberontak seperti klaim yang selalu pemerintah pusat berikan. Tidak mungkin seorang bayi telah lahir ke Papua, dan orang Papua menolak kehadiran bayi itu, walau bayi itu membawah malapetaka.

Dan orang Papua saat ini mash menunggu sampai bayi itu bertumbuh dan berkembang menjadi dewasa, dalam waktu yang tidak begitu lama bayi itu akan dikembalikan pada mereka yang telah memberinya. Karena memang bayi itu tidak pernah diharapkan untuk lahir di Papua.

Bukannya menolak, tetapi orang Papua lebih mencintai kehidupan yang membebaskan. Dan orang Papua sadar, kalau bayi ini tidak membebaskan orang Papua, tetapi membelenggu orang Papua. Dan bayi ini disadari juga, sebagai malapetaka yang semakin menyudutkan orang Papua.

Orang Papua adalah manusia berbudaya yang paham akan hukum, peraturan dan Hak Asasi Manusia (HAM) dan penerimaan kehadiran Otsus walau terpaksa, adalah salah satu buktinya. Orang Papua sangat paham, bahwa Otsus tidak membawah sedikit-pun perubahan untuk orang Papua. Mencintai kedamaian, keamanan dan norma-norma adat adalah prinsip orang Papua. Walau beberapa klaim mengatakan orang Papua tidak seperti demikian.

Mungkin ini hanya sedikit catatan kusam yang perlu untuk di diskusikan. Karena ini juga menyangkut masa depan, harkat, derajat dan martabat orang papua sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia dan hakiki. Semoga bisa terjawab.




headerr

Baca Selengkapnya......

Thursday, June 04, 2009

Keterpurukan Orang Asli Papua di Era Otsus

OCTHO- PAPUA mungkin salah satu daerah yang paling terpuruk. Semua keterpurukan itu sungguh membuat hati sangat miris. Dan semua keterpurukan itu membuat orang asli Papua semakin dikucilkan dari berbagai perkembangan. Rakyat jelata hanya bisa melihat dan menerima segala kenyataan tersebut dengan hati yang sungguh terluka.

Lihat saja di sektor pendidikan. Sektor penting ini diharapkan dapat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan berkompeten, agar nantinya bisa mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki demi kemajuan dan perkembangan Papua. Tapi, itu hanyalah harapan-harapan kosong. Sebab, kenyataan berbicara lain. Pendidikan selalu dijadikan ajang bisnis. (Eko Prasetyo: 2007)

Kualitas dan kuantitas pendidikan Papua paling buruk jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Dana yang dialokasikan untuk sektor pendidikan memang cukup besar jumlahnya. Baik bersumber dari APBD maupun Otonomi Khusus (Otsus). Namun realisasinya sama sekali tidak pernah memberikan manfaat bagi rakyat kecil yang betul-betul membutuhkan dana tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Provinsi Papua bersama dinas terkait (Dinas Pendididikan dan Pengajaran) yang harus bertanggungjawab. Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua mesti mereview kembali seluruh anggaran pendidikan yang digunakan semana-mena, juga dugaan digunakan untuk kebutuhan oknum tertentu. Karena buntut dari semua itu, yang kena imbasnya adalah rakyat kecil.

Penggunaan dana pendidikan yang terstruktur dan proteksi adalah kunci utama maju dan berkembangnya pendidikan di Tanah Papua. Ketika hal ini mulai dilaksanakan dengan baik sesuai kebutuhannya, bukan tak mungkin pendidikan kita di Papua akan maju. Sehingga menciptakan orang-orang hebat dengan kemampuan dan skill yang tak perlu diragukan lagi, demi pembangunan daerah dan manusia Papua ke depan.

Berikutnya sektor perekonomian yang selama ini menjadi tulang punggung kesejahteraan masyarakat Papua pun sama nasibnya. Semestinya orang Papua menguasai perekonomian di daerahnya, sanak-saudara mereka yang hidup dan tinggal di kampung-kampung juga dapat diberdayakan. Tapi semua itu khayalan belaka. Orang luar Papua lebih banyak diberikan kesempatan oleh pemerintah (provinsi maupun kabupaten) untuk memegang kendali perekonomian Papua.

Imbasnya, orang asli Papua hanya menjadi penonton setia di negerinya sendiri. Perkembangan perekonomian orang Papua tidak juga membaik. Ini sudah pasti karena semua dipegang oleh pendatang. Sama sekali tak diberikan ruang gerak kepada warga pribumi. Padahal Otonomi Khusus (Otsus) mengamantkan bahwa orang asli Papua harus diberdayakan dengan segala keunggulannya, sehingga pembangunan yang merata bisa dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat yang ada di Tanah Papua.

Dinas Perekonomian dan sektor menengah kebawah Provinsi Papua hendaknya tidak melupakan kenyataan demikian. Penyusunan perkembangan ekonomi harus tertata baik. Berikan lapangan pekerjaan yang layak kepada warga asli agar ada rasa memiliki yang kian tumbuh dalam diri orang Papau. Sehingga kepedulian mereka untuk membangun daerahnya pun ada, sekalipun itu bukan sebuah pekerjaan besar yang mereka lakukan.

Hal ini juga tentu menciptakan hubungan yang relatif akur antara warga asli dan pendatang. Dan bukan tidak mungkin, ketika mereka saling bahu-membahu memegang perekonomian, kesejateraan rakyat Papua akan dirasakan walaupun butuh waktu yang sangat panjang dan ini juga penggenapan dari implementasi Otsus itu sendiri.

Yang lebih parah adalah sektor kesehatan. Setiap tahun angka kematian bayi bertambah, penderita dan pengidap HIV/AIDS pun semakin hari terus meningkat. Bahkan memang betul, angka kematian tertinggi di Indonesia adalah Papua (data tahun 2008).

Muncul pertanyaan, dana APBD dan Otsus yang bunyinya besar itu dikemanakan? Selama ini dana-dana tersebut hanya menjadi simbol dan lambing saja. Dana untuk perawatan, sosialisasi, dan pencegahan HIV/AIDS di Papua paling besar jumlahnya dibandingkan daera lain di Indonesia. Belum lagi anggaran cukup besar dari beberapa negara asing di luar negeri yang digelontorkan bagi Papua. Dana tersebut diberikan agar kesehatan di Papua bisa terkontrol dengan baik, sehingga pembangunan manusia Papua bisa diperhatikan. Tapi faktanya? Ya, di lapangan ceritanya jadi lain.

Menyadari pentingnya kesehatan, seharusnya Pemerintah Provinsi dalam hal ini Dinas Kesehatan harus bekerja ekstra keras untuk menangani masalah kesehatan. Harapan masyarakat Papua dengan hadirnya Undang-Undang Otonomi Khusus hanyalah harapan-harapan konyol, karena tidak pernah menjawab kerinduannya.

Selain dinas Kesehatan, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ada di Papua pun mempunyai fungsi dan peran yang sama. Selama ini, dana APBD dan Otsus yang bunyinya ratusan milyar, sebaiknya jangan digunakan untuk hal-hal yang tidak perlu. Sebab rakyat kecil jugalah yang akan jadi korban akibat pemakaian dana yang tidak tepat sasaran.

Komisi Penanggulangan AIDS, Primari serta beberapa LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS di Papua harus menunjukan efisiensi kerja. Agar rakyat bisa melihat dari dekat apa yang sedang dilakukan dan sekaligus dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

Ketika Dinas Kesehatan dan beberapa LSM serta masyarakat saling berpengertian dalam menangai masalah kesehatan, Papua akan menjadi daerah yang aman dan tenteram karena kesehatan sangat terjamin, dan sudah tentu hal itu yang kita inginkan bersama.Sektor lain yang paling mencolok di Papua adalah sektor sosial kemasyarakatan. Rakyat Papua sangat mendambakan kehidupan yang aman, sejahtera dan sentosa. Agar mereka dapat berperan aktif juga dalam memajukan daerahnya dari segala ketertinggalan.
Itu pun tinggal kenangan. Sebab, orang asli Papua selalu terpinggirkan.

Kalau diamati secara detail, bisa kita saksikan penduduk asli Papua hidupnya di daerah pinggiran kota. Padahal merekalah yang punya tanah, sumber daya alam serta berbagai kekayaan yang ada semenjak leluhur. Dimana-mana muncul bangunan, toko, kios, pasar swayalan, mall. Punya siapa? Semua bukan milik orang Papua. Orang asli bagaikan pendatang diatas tanahnya sendiri.

Pemerintah daerah melalui Dinas Sosial tak pernah memberikan tempat yang layak bagi warga tinggal, ketika tanah adat mereka dirampas oknum tertentu dengan bayaran beberapa lembaran uang yang sifatnya semu atau sementara. Rakyat sangat membutuhkan sentuhan, ketika mereka sedang terpuruk dan merana.

Jawaban yang pasti dari pemerintah sangat mereka tunggu-tunggu. Ketika dinas terkait yang menangani hal ini memberikan perhatian yang pasti, bukan tidak mungkin kepercayaan diri mereka akan bertumbuh. Sehingga beberapa masalah sosial yang muncul di masyarakat akan berkurang.

Salah satu faktor utama timbulnya beberapa persoalan sosial di masyarakat adalah karena pemerintah tidak pernah memberikan kepercayaan yang pasti kepada mereka. Dan saya yakin, beberapa masalah itu akan segera berakhir.

Keterpurukan di semua aspek kehidupan itu akan segera berakhir dengan sendirinya, apabila pemerintah provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) tetap konsisten mematuhi segala aturan dan tata tertib perundang-undangan. Salah satunya Undang-Undang Otonomi Khusus. Hadirnya UU Otsus seharunya sudah bisa menjawab kerinduan orang Papua. Karena sangat jelas, beberapa poin yang tertera didalamnya telah nyata-nyata akan membantu dan mendongkrak segala ketertinggalan di Papua.

Paket Otsus itu sendiri diberikan pemerintah pusat dengan tujuan utama membantu Papua bangkit dan bersaing dengan daerah lain di Indonesia dengan memanfaatkan berbagai kelebihan yang ada di daerah. Dengan hadirnya Otsus, orang Papua lebih diberikan kesempatan untuk memimpin, mengarahkan, dan mengendalikan daerahnya ke arah yang lebih baik untuk kesejahteraan dan kestabilan daerah.

Tetapi semua harapan rakyat Papua dengan datangnya Otsus hanyalah angan-angan semata. Karena birokrat (pejabat) tidak paham dan mengerti persoalan utama yang dihadapi masyarakat. Ini terjadi karena para pejabat sudah keenakan, hidupnya terjamin, tak ada kekurangan, sehingga mereka lupa dengan jeritan rakyat kecil. Bisa jadi karena sejak kecil para birokrat hidup di tengah situasi keluarga yang sangat menjanjikan (kaya), sehingga tak nampak rasa kemanusiaan dan tanggung jawab yang tumbuh dari sanubari hati mereka.

Begitu pula dengan DPRD. Kinerjanya tak jauh berbeda. Sebagai lembaga legislatif yang
mempunya fungsi untuk menyalurkan seluruh kebutuhan rakyat, hanyalah topeng belaka. Fungsi sebagai wakil rakyat tak nampak secara maksimal.

Mantan Presiden Amerika Serikat, Abraham Linncol, pernah berkonsepsi “Pemerintah ada dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat”. Memang, rakyat mempunyai fungi dan peran penting dalam memajukan berbagai keunggulan yang dimilik rakyat. Makanya lembaga DPRR mesti melaksanakan tugas fungsi secara jelas dan terstruktur, agar rakyat bisa hidup aman, sejahtera dan sentosa.

Mencermati segala persoalan yang ada, saat ini kita melihat siapa calon legislatif yang duduk di DPR(D) nanti. Sebab melalui mereka, segala aspirasi rakyat yang selama ini diabaikan dapat dijawab. Rakyat jelata percaya dan menaruh harapan agar pergumulan hidupnya disuarakan dan mendapat tempat di hati pemerintah.

Kita ketahui, Pemilihan Umum (Pemilu) telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Cuma persoalannya, adakah itikad baik dari anggota dewan untuk bisa memperjuangkan nasib rakyat yang kian terlantar di Bumi Cenderawasih ini? Papua pasti bisa! salam. (Penulis adalah Jurnalis lepas di berbagai media masa di Papua)

Sumber Gambar: http://www.melanesianews.org/spm/uploads/petiostus.gif



headerr

Baca Selengkapnya......

Wednesday, June 03, 2009

Pembentukan UU Papua, Solusi Untuk Rakyat Papua


OCTHO- sebagai orang asli Papua yang lahir dan dibesarkan di tanah Papua, hati ini begitu miris setiap kali membaca ataupun melihat berita-berita terkait dengan pembubaran secara paksa yang seringkali ditindaklanjuti dengan penangkapan oleh aparat keamanan terhadap para pendemo di Papua. Selain itu para pendemo juga acap kali di jatuhi hukum tanpa di akomodir oleh badan hukum yang jelas.

Betapa tidak, di bagian barat dari negara yang sama, yang namanya bendera, lambang daerah, bahkan lagu “kebangsaan” diluar dari bendera, lambang daerah dan lagu kebangsaan resmi bangsa ini dapat diakomodir. Jikalau di barat boleh, mengapa tidak di Papua? Ini yang menjadi pertanyaan serius yang harus di jawab bangsa dan Negera ini.

Konstitusi yang tentu saja masih berlaku di negeri ini menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Ini berarti menyatakan bahwa warna kulit, agama, jenis rambut, pangkat dan kedudukan, status social, dan sebagainya, bukan merupakan penghalang bagi seseorang atau sekelompok orang apalagi sebuah suku bangsa untuk mendapatkan perlakuan yang sama di mata hukum di bumi pertiwi ini.

Tetapi kadang kala konstitusi hukum yang di berlakukan di negeri ini tidak pernah di perhatikan keberadaannya. Bahkan tidak banyak juga yang sering kali melanggar hukum konstitusi yang telah mereka buat sendiri. Yang sekaligus dengan hal ini, menimbulkan berkurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hukum di negeri ini.

Penanganan secara represif terhadap berbagai gejolak yang timbul di satu daerah sudah bukan saatnya lagi. Karena hal ini justru akan membuat kondisi yang semakin tidak kondusif bagi pembangunan kesejahteraan masyarakat. Diperlukan sebuah pendekatan yang tidak bisa dikatakan baru lagi terhadap gejolak-gejolak yang timbul di Papua (baca: persuasive). Sebab bagaimanapun juga, suatu saat pelanggaran terhadap HAM yang seringkali terjadi dan seakan-akan diabaikan di daerah ini justru akan menjadi boomerang bagi keutuhuan NKRI sendiri.

DR. Indah Harlina, SH, MH dalam kata pengantarnya sebagai penyunting dalam buku Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menyebutkan bahwa keberadaan UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh merupakan sebuah resultante dari sejarah panjang perjuangan dan pergolakan politik di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Tidakkah hal yang sebut saja “sama” (baca: UU Tentang Papua bukan sekedar Otsus) saat ini juga dibutuhkan bagi solusi terhadap berbagai konflik kekerasan yang terus berkepanjangan di Papua.

Mengapa keberadaan UU Tentang Papua itu penting? Ada beberapa alasan yang mendasari penulis untuk mengemukakan pendapat ini:

Pertama: Jikalau melihat tingkat “pencapaian” yang berhasil dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu (baca; Benny Wenda Dkk) sehingga pada bulan Oktober 2008 yang lalu kita semua dikagetkan oleh berita tentang peluncuran International Parlementarian for West Papua (IPWP) dilakukan di House of Commons, 15 Oktober 2008, di London dan pada bulan April 2009 kemarin kita juga dikagetkan dengan pelucuran International Lawyer for West Papua di South Amerika, 3-5 April lalu, seharusnya sudah menjadi warning tersendiri bagi Pemerintah Indonesia untuk lebih serius terhadap masalah Papua.

Jangan sampai terulang kembali seperti dalam kasus lahirnya UU Pemerintahan Aceh (UU PA), dimana Pemerintah Indonesia secara terpaksa harus duduk bersama dengan pihak-pihak tertentu untuk membicarakan masalah dalam negeri, dan kesannya seperti kita di dikte oleh negera lain. Dalam hal ini penulis sangat setuju jika pemerintah pusat sedikit proaktif dan tidak berperan sebagai pemadam kebakaran, yang dikatakan pekerjaan memalukan.

Kedua, dalam rangka mengambil hati orang Papua yang bisa dikatakan tidak sedikit (baca: banyak) yang telah hilang kepercayaannya, pemerintah perlu segera melakukan reevaluasi terhadap keberadaan UU Otsus yang oleh banyak kalangan dikatakan telah gagal. Berbeda dengan keberadaan UU PA, karena keterlibatan (baca: campur tangan) dari pihak luar itu begitu jelas dan kental, sehingga hal ini secara tidak langsung membuat Pemerintah nampaknya dipaksa untuk segera mengimplementasikan hal-hal yang sudah diatur dalam UU tersebut.

Ketiga, meskipun bisa dikatakan kecil, tetapi kekecewaan yang telah berurat berakar di kalangan generasi muda Papua sehingga tidak sedikit yang masih memiliki asa yang meskipun terpendam untuk merdeka itu perlu diresponi secara positif. Kita lupa bahwa mungkin saja kebakaran besar yang terjadi di Australia beberapa bulan lalu hanya disebabkan oleh sebuah puntung rokok yang secara sengaja atau tidak telah dijatuhkan oleh seseorang. Untuk itu, sebelum gejolak ini terus berkepanjangan, perlu segera dicari solusinya. Dimana solusi yang bisa menjawab dan menjamin segala kerinduan orang Papua yang selama ini terabaikan.

Karena bukan tidak mungkin, ketika hal ini diperhatikan secara serius. Maka tingkat kepercayaan rakyat Papua terhadap NKRI akan semakin bertumbuh. Karena selama ini, penyebab utama ketidakpuasan rakyat Papua terhadap NKRI karena segala kebijakan yang tidak pernah menjawab segala kerinduan orang Papua. Dan dimana orang Papua berada pada posisi yang dirugikan (baca: dikecewakan) oleh segala kebijakan itu.

Keempat, perlunya evalusi menyeluruh terhadapa kinerja Majelis Rakyat Papua (MRP) yang dikatakan hampir sebagian rakyat Papua bahwa bekerja setengah hati. Banyak pengamat baik dari LSM, bahkan aktivis sendiri menyatakan kekecewaana terhadap kinerja MRP yang kalang kabut, dimana mereka mengatakan bahwa penyebab utama kegagalam MPR adalah Intervensi menyeluruh yang dilakukan pemerintah pusat terhadadap kinerja mereka.

Hal ini juga menjadi peringatan penting untuk Pemerintah Indonesia, karena pemerintah sendiri yang telah membuat tingkat kepecayaan masyarakat Papua menurun. Dan ini perlu dikaji secara mendalam, kalau tetap mengigingkan rakya Papua berada dalam wilayah keutuhan NKRI. Otsus dan MRP yang dibentuk tidak pernah memberikan solusi kepada rakyat Papua , malahan menimbulkan gejolak yang mendalam.

Kelima, perlu memberikan kepercayaan yang mendalam terhadap masyarakat Papua untuk memberdayakan tanah kelahirannya secara menyeluruh. Undang-Undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua bukanlah jawaban semata wayang untuk menjawab hal itu, karena sampai sekarang banyak orang Papua yang harus merenung nasib, karena tidak pernah diberkan kepercayaan oleh pemerintah Pusat melalui perpanjangan tangannya Pemerintah daerah setempat.

Kadang kala, orang Papua di anggap sebagai makhluk lemah yang tidak berdaya dan tidak mampu bekerja, padahal tidak sedemikian. Sudah barang tentu, imits ini menambah tingkat ketidakpuasan rakyat Papua terhadapa pemerintah Indonesia. Sudah tentu, hal ini menimbulkan orang Papua untuk berteriak bebas (baca: merdeka) dari pangkuan NKRI.

Kelima hal yang dipaparkan secara blak-blakan diatas adalah solusi kongkrit yang bisa penulis berikan untuk menjadi acuan yang mendalam untuk Pemerintah Pusat melalui perpanjangan tangannya pemerintah daerah setempat disetiap Kabupaten di Papua.

Penulis tidak bermaksud menghakimi pemerintah sebagai wakil Tuhan yang bekerja setengah hati, tapi penulis di sini bertidak sebagai hamba Allah yang bekerja menegakan kebenaran, keadilan dan memberikan solusi untuk kesejahteraan masyarakat Papua yang kita cinta bersama saat ini.

Semoga beberapa hal diatas menjadi pertimbangan yang mendalam bagi semua instansi yang terkait. Karena saat ini seluruh masyarakat yang hidup di tanah Papua mebutuhkan solusi yang bisa menjawab segala tangisan itu. Berakhir dan tidaknya segala tangisan itu, tergantung dari setiap kebijakan dan keputusan yang Pemerintah Pusat tentukan. Semoga solusi diatas menjawab kerinduan orang Papua yang selama ini di abaikan.

Sumber Foto:
http://f3nn.wordpress.com/




headerr

Baca Selengkapnya......

Tuesday, June 02, 2009

Oktavianus Pogau: Ngajarin Pejabat Bikin Blog! (2)


Papua - Meski terisolasi dengan kecanggihan teknologi. Okto tak pernah menyerah untuk terus belajar. Bayangkan...untuk membuka internet 1 jam saja, ia harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 10.000. Langkah yang diambilnya ini, akhirnya membuahkan hasil. Belajar internet sendiri dan akhirnya bisa membuat blog, membuatnya banyak penghargaan dari dinas pemerintahan. Bahkan, ada yang minta diajarin.

Harus Bekerja, Agar Bisa Belajar Internet!


Okto mengenal internet sejak kelas 1 SMP. Sekitar tahun 2005, saat ia duduk di bangku SMP kelas 2, Okto mulai menyukai dunia internet karna gurunya sering bercerita, bahwa internet adalah jendela dunia. Meski harga warnet per jam sepuluh ribu, Okto tetap berjuang agar bisa belajar internet.

Nggak hanya harganya yang mahal. Jarak yang sangat jauh, harus ia tempuh untuk singgah ke warnet satu-satunya yang ada di Nabire. Dengan cara membantu orang bekerja apa aja, Okto bisa mendapat uang saku tambahan untuk belajar internet. Jika ada di warnet, okto bisa-bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar membuat blog.

Karna kegigihannya, Okto bisa membuat weblog. Bahkan ia juga terlibat dalam pembuatan beberapa punya yayasan PESAT. Beberapa media massa yang ada di Papua juga sempat meminta Okto untuk membantu websitenya, namun kadang di tolaknya karena berbagai kesibukan sekolah. Ia juga pernah membantu bikin web untuk ajang kebudayaan Papua secara Otodidak. Emang sih sederhana, tapi mendapat penghargaan dari banyak kalangan termasuk pemerintah Papua.

Kini, ia tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk ke warnet. Karna Okto sudah bisa mengakses internet 24 jam free, dari asramanya. Jarak antara asrama dan sekolahnya sangat berdekatan. Suatu saat, sekolahnya memasang jaringan internet dari Dinas Pendidikan. Sehingga cukup memasang hotspood guna akses internet secara gratis. Ia mengakui, kalo semua ini tak lepas dari doa-doanya setiap hari, yang menginginkan adanya suatu perubahan, agar ia bisa belajar lebih baik lagi.

Karna fasilitas ini, dia lebih terpacu lagi untuk belajar. Sudah banyak orang yang ia ajari. Dari mulai teman-temannya, termasuk orang-orang yang lebih tua darinya. Bahkan Mahasiswa, sampai pejabat di pemerintahan pun ia ajarin internet dan dibuatkan blog. Siapapun yang datang minta tolong, pasti diajarin tanpa dipungut biaya. "Aku akan ngajarin mereka sampai paham benar, jadi nggak ketinggalan zaman." Katanya penuh semangat!

Berkembang Dengan Keterbatasan.......

Pernah Okto merasa jengkel dengan segala keterbatasan yang ada di lingkungannya. Sulitnya menjumpai warnet, bahkan perpustakaan sebagai media informasi membaca buku, tidak ia temui di sana. Namun di saat-saat seperti itulah, ia berusaha untuk menunjukan kepada dunia, bahwa dirinya yang ada di Papua, tidak jauh tertinggal dengan teman-teman yang ada di berbagai pelosok tanah air.

Hal ini mendorongnya untuk memacu teman-temannya yang lain, disaat mereka mengeluhkan minimnya fasilitas. "Saya selalu memotivasi beberapa teman, agar mereka tidak memikirkan fasilitas sebagai penghambat untuk berkembang. Berkembang dengan kekurangan itu lebih menyenangkan, daripada berkembang dengan fasilitas yang

berlebihan." Justru keterbatasan itulah yang membuat Okto semakin maju. Belum tentu, kemudahan teknologi, bisa memacu orang untuk terdorong belajar dan berusaha.

Ia mengharapkan, agar generasi muda tidak menjadikan keterbatasan sebagai penghambat untuk berkembang! "Fasilitas dan sarana, bukanlah tolak ukur utama untuk kita menjadi orang hebat. Tapi kemampuan dan kemauanlah yang mengarahkan hati nurani kita untuk keluar dari semua kekurangan itu, dan menjadikan kita sebagai orang hebat. Selagi muda, kerjakanlah hal yang bermanfaat dan luar biasa. Be history maker for Indonesia!" Itulah pesan Okto. (*/ Bb/ Tt)

Tulisan ini menjadi Profile di Majalah Rohani Pemuda Indonesia, T-MORE yang terbit setiap bulan.


Foto saat bersama dengan seorang Jurnalis dari Media T-MORE.


http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/21/150



headerr

Baca Selengkapnya......

Oktavianus Pogau : Ngajarin Pejabat Bikin Blog! (1)


Papua - Di tengah keterbatasan, justru berprestasi....itu luar biasa! Oktovianus Pogau, salah satu teman kita dari Papua yang udah terjun di bidang Jurnalistik ‘en pernah belajar internet sendiri. Sering diminta mengajari teman-teman, mahasiswa, bahkan pejabat untuk membuat blog. Remaja yang duduk di kelas 11 SMA Kristen Anak Panah, Nabire ini, punya semangat tinggi untuk membangkitkan Papua dari ketertinggalan.

Inilah kisahnya.....



Orang Tua Meninggal, Tetap berprestasi!


Dibalik prestasinya yang cemerlang. Oktavianus Pogau yang sering dipanggil Okto ini, menyimpan kenangan sedih tentang kedua orang tuanya. Tidak hanya berjuang melawan keterbatasam teknologi yang ada di Papua. Namun dia harus berjuang untuk meninggalkan masa lalunya yang mempunyai kenangan yang menyedihkan.

Dulunya, ayah kandung Okto adalah seorang kepala suku di lingkungannya. Ayahnya memiliki 7 istri. Melihat keadaan tersebut, kakaknya yang sudah terlebih dahulu menjadi pembina di Asrama PESAT yang didirikan oleh Ev Daniel Alexander, mengajaknya untuk tinggal di asrama.

Jarak antara asrama dan keberadaan orang tuanya sangat jauh. Untuk bertemu dengan orang tuanya, Okto harus menggunakan pesawat kecil milik Mission Avation Felowship (MAF) salah satu yayasan misi yang bekerja di Papua. Akibat jarak yang jauh, Okto kehilangan komunikasi dengan orang tuanya. Terkadang...Okto merasa kangen dengan mereka. Namun, ia hanya mendapat pelukan orang tua, hanya sebatas angan.

Suatu saat, Okto diberitahu kalo ayahnya meninggal saat dirinya kelas 5 SD. Padahal, ayahnya sudah meninggal sejak ia kelas 1 SD. Tak lama kemudian, ibunya menyusul. Okto diberitahu tentang kematian ibunya saat kelas 3 SMP. Padahal, ibunya sudah meninggal saat ia duduk di kelas 5 SD. Marah, sedih, kecewa yang dirasakan! Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya berserah. Demi sekolah, ia harus meninggalkan keluarga, dan itulah perjuangan hidupnya! Dia bisa belajar arti hidup yang sesungguhnya!

Pikiran! Itulah yang terus membuat Okto berjuang! Kerapkali kesedihan menghantuinya. Okto berusaha mengalihkan pikiran itu menjadi suatu respon yang baik. "Rencana Tuhan itu indah!" Inilah yang selalu ia ijinkan ada dipikirannya, sehingga Okto bisa bangkit dan kembali melanjutkan sekolahnya!

Cita-citanya menjadi dokter agar bisa membantu masyarakat Papua, pernah ia rindukan sewaktu SMP. Namun saat beranjak SMA, ia tergugah untuk menjadi seorang diplomat yang bisa mendongkrak berbagai sektor di Indonesia, terutama di Papua. Ia memiliki kerinduan, dipakai Tuhan sebagai jawaban bagi orang yang memerlukan.

Okto mulai menorehkan prestasi saat duduk di bangku SMP kelas 2. Saat itu ada kegiatan mading di sekolah. Ia tergugah untuk menanggapi topik tentang lumpur Lapindo. Tak disangka, tulisannya mendapat acungan jempol teman-teman dan gurunya. Bahkan tulisan-tulisannya, sempat di bawah oleh Ketua Yayasan Pesat ke Jakarta. Dari situlah ia menyadari, kalo dirinya mempunyai talenta menulis.

Seiring waktu, tulisannya juga sering dimuat di media massa. Kemudian, ia mengikuti beberapa lomba mengarang tingkat pelajar SMP se-Kabupaten Nabire. Juara satu pun ia dapatkan! Saat duduk di bangku SMA, ia terus mengikuti lomba mengarang tingkat pelajar SMA se-Kabupaten. Juara satu kembali ia dapatkan!

Sampai saat ini, ia aktif memberikan tulisan dan liputan di Papua Pos dan Kabar Papua. Ia juga sempet dipercaya jadi editor yang mengizinkan sebuah berita dimuat atau enggak. Puji TUHAN, sekolahnya nggak terganggu. Itulah suatu bukti, bahwa kehilangan orang tua yang dikasihinya, tak akan membuat Okto meratapi nasib dan berhenti berjuang. Tekadnya, tak hanya berprestasi, namun mengangkat Papua dari ketertinggalan! (*/ Bb/ Tt)

Sumber Majalah Remaja dan Pemuda Indonesia, T-MORE

Foto ini di ambil saat ikut Pelatihan di Kaliurang-Yogyakarta

http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/21/149


headerr

Baca Selengkapnya......

Monday, June 01, 2009

Potret Kehidupan Dalam Gambar





















headerr

Baca Selengkapnya......