OCTHO- Tentunya tidak ada manusia di dunia ini yang menginginkan datangnya sakit penyakit. Sebuah peristiwa dimana kita memandang hidup tak akan berarti lagi. Semua orang benci pada peristiwa ini. Termasuk saya sendiri.
Tapi fakta harus berkata lain. Ia menganjurkan saya untuk cinta pada penyakit, dan sayang pada obat-obatan untuk mengatasi sakit tersebut.
Saya masih ingat, tanggal 06 Juni 2010, pukul 12.00 Wib lembaran baru itu harus di buka. Dokter di RS Soetomo, Surabaya memvonis saya mengidap sebuah penyakit. Vonis ini seakan-akan mengatakan bahwa dunia ini tidak selamanya putih.
Tak perlu saya menuliskan apa penyakit tersebut. Cukup hanya “beberapa” saja yang tahu. Saya tak ingin memberatkan orang lain. Dan karena itu saya tak ingin mereka tahu, termasuk kau. Kalian tidak boleh berpikir tentang saya. Pikirkan hal yang bisa kaliaan pikirkan.
Menurut saya, ini sebuah pukulan berat yang harus di tanggung. Sempat bertanya pada dunia, “Kenapa sakit ini datang ketika saya jauh dari mereka semua.”
Sampai saat ini tak ada jawabannya. Kalaupun ada, penjelasaannya tak pernah saya pahami. Intinya, mengisyaraktkan bahwa kau harus menanggung sendiri hingga tuntas penyakit tersebut.
Siapa yang mau di salahkan dengan penyakit ini. TUHAN? Diri sendiri? Orang tua? Atau justru perjuangan pembebasaan. Tak mau menyalahkan siapapun. Saya juga tak mau salahkan takdir.
Kenyataan yang telah terjadi itu harus di hadapi. Menyesalkan yang telah terjadi memang pantas. Sangat pantas. Menyesali adalah bagiaan terkecil dari pertobataan manusia, termasuk saya sendiri.
Bagiaan dari sebuah penyesalaan juga telah saya jalani. Menangis, marah pada sakit penyakit, marah pada siapa saja yang membuat kecewa. Semua itu telah di lalui. Saya lalui semua itu dengan baik dan bahkan juga tidak baik.
Hari ini adalah hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010. Saya juga bingung, kenapa di hari ini saya ingat untuk menuliskan hal ini.
Sudah hampir empat bulan juga saya bertahan untuk minum obat. Banyak suka dan duka yang di hadapi. Semua itu di jalani dengan penuh tawa dan canda. Semua itu membuat saya semakin dewasa. Saya dewasa dalam berpikir, bertindak serta menentukan pilihaan.
Saya akan tetap bertahan. Menghabiskan sisa hidup ini. Karena hidup ini hanya ada dua pilihaan, “pergi” cepat atau “pergi” lambat. Keduanya sama saja, tergantung kapan waktu kau yang tepat. Supaya kepergiaan kau berarti, buatlah hal-hal yang dapat bermanfaat bagi orang lain.
Sampai kapan? Sampai kau merasa bahwa kau telah menjadi orang yang berguna dan berarti bagi orang lain. Lakukanlah kerja-kerja itu. Menulis ketika ada yang harus di tuliskan, dan bukan untuk di kasihani. Sekali lagi bukan.
*Menuliskan ketika harus di tuliskan.
Thursday, October 28, 2010
Bukan
Monday, May 10, 2010
Pujian Atas Kebesaran TUHAN
Tuhan itu besar, sangat besar. Tidak ada yang sebesar dirinya. Tidak ada yang sehebat dirinya.
OCTHO- Kau telah menuntun aku, tuntun aku sampai jalan yang memang benar-benar terang. Engkau tidak pernah menghitung dosa dan kesalahan aku, engkau juga tidak pernah menghitung segala pelanggaran aku, engkau selalu merangkul aku, merangkul untuk menjadi manusia yang dapat membawah sebuah perubahan.
Sekarang aku telah engkau pimpin, engkau telah pimpin sampai pada tingkat yang sangat tidak pernah aku sadari. Kalau di pikir, apalah arti diriku, orang tidak berguna, tidak berdaya, dari latar belakang keluarga yng sungguh miskin, bahkan tidak punya apa-apa, apalagi mereka engkau telah panggil.
Saya tahu, dengan kejadian itu, engkau mengajari aku untuk lebih mandiri, memandang dunia sebagai sebuah ladang pengembangan diri, sudah tentu harus melibatkan engkau, sudah tentu harus melalui bantuan tanganmu, engkau luar biasa, engkau sungguh luar biasa, semua engkau lakukan tepat pada waktunya, kadang sukar di bayangkan…
Aku bukan seorang penjabat Negara, sehingga harus di kenal, aku juga bukan seorang anak yang berasal dari kerajaan, jadi sangat tidak pantas di kenal. Namun aku bersyukur, aku di kenal oleh mereka. Ini semua berkat kau ada dalam hidupku, berkat kau ada dalam darah dagingku, berkat kau adalah dalam pikiranku, dan berkat kau ada dalam perkataanku, dan yang terakhir adalah berkat kau adalah dalam segala tulisanku…
KAU adalah TUHAN, TUHAN adalah TUHAN. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang dapat menyamai kebeasaran, keagungan, dan kehebatanmu, engkau adalah RAJA, segala raja. TUHAN segala Tuhan, bapa segala bape. Engkau sungguh sangat luar biasa, dan itu terbukti sangat luar biasa. Engkau sangat di kagumi, karena segala karya penciptaanMU…..
Kadang kami susah membayangkan kehebatan, kebesaran, serta keagunganmu, sungguh, engkau TUHAN yang sangat suci, TUHAN yang sungguh mulia, sangat sungguh mulia. Tidak pernah terbayang, ketika kau rela mati, MATI untuk tebus segala dosa dan salah manusia.
Kami sadari, semua yang kami lakukan, semua yang kami kerjakan, dan semua yang kami korbankan tidak akan sebanding dengan segala karya penciptaanmu.
TIDAK PERNAH kubayangkan, kau membuat semua ini tepat pada waktunya, kadang manusia sukar membayangkan semua karya peciptaan itu. Ini sebuah anugerah TERBESAR yang adak dalam dunia, ada dalam segala hayatan dan ingatan Kita.
Sekarang saya sedang melangkah, melangkah untuk sebuah kebutuhan, kebutuhan rakyat Papua, kebutuhan tanah air. Hanya engkau yang mampu, hanya engkau yang sangat-sangat mampu, hanya engkau yang dapat, dapat memastikan, dapat menghendaki, dan dapat menyatakan semua rencana itu. Saya menyerahkan segalanya, segala keputusan, segala rancangan, dan segala kebutuhan ke dalam pintu baitmu, saya sangat percaya, percaya akan engkau. Percaya akan segala kemampuan yang kau buat.
Besok akan tiba di Jayapura, besok akan bertemu siapa saja, mereka bisa jadi setan, bahkan bisa jadi malaikat. Aku tidak punya indera keenam untuk membedakan semua itu, aku tidak mampu membedakan semua itu. Engkau mampu, engkau mempu menentukan, dan engkau mampu membedakan, bantu akau, tolonglah aku, aku ingin kau yang menjadi pribadi dalam hidupku.
Terima kasih TUHAN, terima kasih, kau memang hebat, dan sangat2 hebat.
Bandara Internasional, Soekarno Hatta, Jakarta.
Sabtu, 08 Mei 2010, Pukul 20:34 wib
Thursday, December 17, 2009
Hanya Sedikit Puas Dengan Semua Ini
OCTHO- Mungkin tepat kau menciptakan aku, dimana menjadi pelita di antara kegelapan yang semakin memuncak. Saya tidak pernah berharap untuk menjadi seorang nabi, ulama, pendeta bahkan menjadi malaikat yang dapat berbual janji seraya menawarkan nafas kehidupan kepada sekain banyak umatmu yang ada di dunia Papua.
Saya senang dengan perjalan hidup saya saat ini, dimana berbicara, berdiri serta bertindak untuk sebuah perubahan. Yakin membawah rakyat dan Papua keluar dari berbagai ketertinggalan. Aku tahu, itu sebuah keputusan serta pilihan hidup yang kau pilihkan pada diri aku.
Hal ini semakin jelas lagi ketika kau menitpkan aku pada beberapa orang yang kadang saya sukar percayai tekad dan kesungguhan mereka untuk membangun aku dan teman2 aku. Namun seiring berjalannya waktu, kau selalu menguatkan aku, untuk memercayai dan meyakini mereka, bahwa mereka adalah utusan yang kau utus untuk membawah terang, yang sebentar lagi tongkat estafet itu akan sampai pada diri kami.
Aku bangga dan senang, ketika kedua orang tuaku kau panggil begiti cepat, saya juga tidak pernah berharap, dan tidak pernah menginginkan kedua orang tuaku begitu cepat pergi, namun saya tahu, kau berencana lain terhadap mereka dan terhadap diriku.
Kadang aku menyalhakan diri, kadang juga aku menyalahkan dunia Papua yang begitu tega memanggil kedua orang tuaku, aku tidak pernah menginginkan pergi begitu cepat, namun apa boleh buat, semua telah terlanjut tereksesusi, memang kasar menggungkan kata eksekusi untuk menggambarkan tekad dan keputusan-Mu, tapi itulah yang selalu saya simpulkan.
SEMOGA saya tetap berjalan dengan kondisi seperti ini. Dan tetap bertindak dengan segala kemampuan yang kau berikan untuk saya pakai.
KM Labobar, 14 Des 2009
Pukul 07.00 Wib
Wednesday, October 14, 2009
Idealisme dan Sa Pu Jalan Untuk “mama Papua”

OCTHO- Beberapa hari belakangan ini, sepertinya kemurniaan idealisme sa betul-betul diuji oleh berbagai peristiwa besar. Idealisme meminta agar sa tetap berada pada pendirian sa, dengan mengabaikan segala rayuan gombal. Bahkan dengan paksa mengajak sa untuk tidak berkompromi dengan mereka para penjilat.
Banyak telepon, SMS bahkan teguran yang berdatangan, semua menguji kebenaran idealisme sa. Hingga tidak heran, setiap minggu sa selalu ganti nomor Handphone trus. Jadi teman-teman yang merasa kecewa dengan ulah sa (ganti-ganti nomor) tolong di maafkaan yah, ini persoalan utamanya. Sa bukan takut mereka, namun sa tidak ingin tergiur dengan segala “bisikan” jahat mereka, itu saja alasannya.
Sa memang klaim idealisme sa sebagai suara hati nurani rakyat kecil. Sa selalu katakan, sa bersuara untuk kebutuhan mereka, sa bersuara sampaikan tangisan mereka, sa juga berteriak menyambung teriakan mereka. Sa selalu katakan itu, karena memang itu yang sa liat, sa dengar, serta sa juga rasakan sendiri, dan hal itu pula yang menjadi suka duka, serta tawa canda sa selama perjalanan ini.
Dan sa selalu katakan, bahwa sa berdosa sekali, ketika melihat semua itu, sa menutup mata, seraya bersenang-senang diatas penderitaan mereka, dan bersuka ria diatas kekurangan sa sendiri. Tidak, hal ini tidak boleh sa biarkan. Kalau sa biarkan ini, bukankah sa lebih dari serigala yang telah siap menerkam mereka. Sa benci dengan komprador, sehingga keputusan batin saya mengatakan, bahwa mereka harus di lawan. Yah, saya akan siap melawan mereka, melawan untuk kebebasan, melawan untuk jawab tangisan, serta melawan untuk juangkan kesetaraan hidup yang lebih baik lagi bagi rakyat Papua.
Idealisme mengajarkan sa untuk tetap nyatakan benar jika benar, nyatakan salah jika salah. Dan sa tau, apa yang sedang sa bicarakan, sedang sa sampaikan, serta sa usahakan itu bukan kepentingan sa semata, bukan untuk kesenangan semata sa, bahkan bukan menambah pendapatan sa, malahan semu itu membuat sa was-was, membuat sa ragu-ragu, semua itu membuat sa harus ekstra curiga, dan membuat sa keluarkan banyak hal, termasuk pikiran yang “gila” untuk pembebasan sekali-pun.
Dalam setiap waktu, ketika bertemu dengan orang-orang yang bisa sa percaya, sa selalu katakan kepada mereka, berdoalah untuk sa, kalau sekali waktu sa tra dha sama-sama dengan kalian dalam waktu yang lama tanpa kabar, mungkin kalian bisa tanyakan kepada “mama Papua” kemana sa di bawah, mungkin dia akan menjawab, sa telah di makan seriga yang ganas dengan kerja sa.
Dan satu yang sa harap dari kalian (teman-temanku) jika memang betul sa telah tiada, bicara serta tuntutlah pertanggung jawaban dari “mama Papua” dan tanyakan kepadanya “mengapa kau biarkan dia di makan serigala yang menggangu ketenangan kami? Apakah kau tidak ingin sebuah kebebasan? ataukah kau bermain mata dengan serigala? Setelah kalian tanyakan padanya, bukan berarti kalian menyerah dan seraya berbalik arah untuk tidak juangkan hak-hak “mama Papua” lagi, tetapi tetap tegar juangkan hak-hak mereka.
Tawaran dan tuntutan kalian kepada “mama Papua” hanya beri gertakan kepadanya, agar lebih bertanggung jawab kepada generasi muda Papua lainnya yang sedang berjalan gantungkan hidup untuk sebuah kebebasan yang bersifat kekal untuk seluruh rakyat Papua. sa yakin, saat itu “mama Papua” akan lebih giat dan serius lagi melindungi anak-anaknya.
Sa memang berjalan untuk menjadi mangsa mereka. Sa bukan sengaja menyerahkan diri, bukan sengaja cari gara-gara, bahkan bukan tidak senang dengan umur panjang, namun itulah takdir, dan sa di lahirkan untuk mengubah takdir itu. Dan sa juga di lahirkan untuk mengubah takdir itu, takdir yang kiranya akan memberikan harapan terbesar untuk sebuah kehidupan yang lebih menjanjikan lagi.
Sa juga selalu katakan, dorang mau “santap” sa nih tinggal tunggu waktu saja. Karena sa pu HP, Laptop, beberapa surat, serta tas barang milik sa yang tidak berdosa saja selalu hilang, mereka ambil dengan cara-cara biadab. Coba bayangkan, Laptop milik pribadi saya, sudah dua kali hilang, dalam selang waktu yang tidak begitu lama, biadab dan jahat bukan? Tidak ada kecurgian saya pada siapapun, selain curiga pada serigala yang beberapa waktu lalu telah membangun pangkalan ojek persis di tempat saya tinggal. Saya selalu katakana ini sebuah keanehan. Dan memang mereka demikian, sangat-sangat aneh.
Semua itu terjadi bukan karena sa tidak bisa jaga barang, bukan karena sa tukang lupa, bukan juga karena sa orang yang hidup sembrono, tapi semua itu untuk memenuhi kebutuhan para serigala lapar. Dorang butuh kepastian tentang saya, dorang butuh data tentang sa, dan dorang butuh strategi jitu untuk ambil sa. Sa tau, mungkin tinggal tunggu waktu, yang tau hidup sa, yang tau jalan sa, serta yang akan tolong saya hanya TUHAN dan “mama Papua” yang sedang sa gantungkan diri. Ini menjadi dorongan terkuat dalam hati saya. pedang yang bisa buat sa jalan trus serta obat yang bisa tenangkan “sakit hati” sa, hanya kuasa TUHAN, dan pertolongan “mama Papua”.
Satu hal yang selalu buat sa benci, karena sa pu sobat-sobat kadang muda di pakai oleh serigala. Ajakan, pemberiaan, serta jaminan yang mungkin serigala berikan pada mereka sudah cukup untuk kadang dorang “jual” teman sendiri, dalam hal ini sa sendiri. Sa kecewa, marah, bahkan sedikit reseh dengan keberadaan mereka, namun apa guna, semua itu yang di sebut dengan kehidupan. TUHAN Yesus, yang punya kuasa penuh untuk melakukan apa saja di jual oleh murid terdekatnya, apalagi kita manusia yang belum sempurna, bahkan tidak mungkin sempurna ini?
Idealisme juga mendidik sa untuk mendidik orang lain yang nasib tidak menentu seperti sa. Dan sa tau, itu tugas utama sa, dan sekaligus tugas ringan yang sa dapat tempuh, walau kenyataan tidak seringan seperti yang sa sedang pikirkan. Sa didik mereka, sa ajar mereka, sa beri pemahaman kepada mereka, karena sa juga ingin mereka dapat tampil di depan umum (bukan di lapangan saja) untuk juangkan hak-hak “mama Papua”.
“mama Papua” butuh sekian banyak orang Papua, terutama generasi muda untuk bersuara juangkan hak-hak mereka. “mama Papua” akan senang, bangga, bahkan tertawa menangsi terharu jika melihat banyak pemuda Papua berdiri tampil, duduk berpikir, serta bertindak sesuai peran kerja dengan satu tujuan utama, juangkan hak-hak yang telah lama di rampas penguasa.
Walau “mama Papua” tak beri salam, tak beri ucapan bahagia, walau tak beri dukungan berupa materi, namun kiranya dukungan moril, termasuk dukungan yang mereka berikan, sudah bisa menjawab kekosongan dan kehampaan pemuda Papua yang sedang juangkan hak-hak itu. Sa mungkin ingin sampaikan pesan mereka, tetap maju, karena yang sedang kita juangkan adalah kebenaran. Dan kebenaran itu mutlak benar. Kebenaran bisa di salahkan, bisa di sepelehkan, tetapi tidak bisa di kalahkan.
Sa salah satu orang yang sangat gembira dan bahagia dengan pekerjaan saya saat ini. Dimana juangkan hak-hak “mama Papua” dengan tulisan. Tulisan yang bersifat penyadaran, membangun pemahaman, membangnn persepsi, serta menanamkan benih semangat nasionalisme untuk sebuah bentuk perlawanan yang lebih besar, dan lebih kompleks secara menyeluruh. Sa tau, ini bukan kerjaan yang mudah, apalagi sa sendiri cukup belia.
Dan secara jujur sa mau katakan, bahwa sa lakuakan semua itu. Sa lakukan karna sa cinta rakyat kecil, sa cinta rakyat jelata, serta sa cinta sebuah kehidupan yang membebaskan. Sa tidak berbicara lebih-lebih, karena hanya “mama Papua” yang mengetahui apa yang sedang sa juangkan, walau perjuangan itu tidak ada yang mencatat, tidak ada yang mempromosi, bahkan tidak ada yang buka mata besar-besar untuk melihatnya.
Sa menulis ini, bukan berarti sa minta supaya dorang hitungkan sa, bukan supaya dorang catat sa pu nama, dan bukan dorang buat sa terkenal. Sa menulis ini, supaya orang lain bisa tau, ini jeritan terdalam dari hati kecil. Dan sa tidak mau disebut pahlawan ketika mereka (penduduk asli Papua) sedikit gembira, sedikit tertawa, bahkan sedikit bernapas lega. Sa ingin orang lain beri julukan mereka pahlawan, karena mereka memang pahlawan Papua, sekali lagi sa mau katakan, mereka adalah pahlawan PAPUA.
Kenapa sa bilang mereka pahlawan, karena walau mereka dalam lembah kekelaman, ancaman pemusnahan, ancaman singa-singa lapar, serta intaian seringa lapar, namun mereka masih tegar hidup, mereka masih tegar bersuara walau suara itu bentuk bisikan, sa tau mereka mau bersuara keras, tapi takut di makan singa lapar yang sedang membuka mulut besar. Ini sebabnya, sa bilang mereka adalah pahlawan, mereka adalah pusara tak bernama, mereka adalah pahlawan, PAHLAWAN, PAHLAWAN, PAHLAWAN………
Sa saat ini berjalan dengan sebuah idealisme yang membenci komprador, walau rakyat Papua sekalipun. Tapi kebencian sa tidak pernah surutkan semangat sa untuk tetap memberikan pemaham kepada mereka, dan nyatakan benar jika benar, dan nyatakan salah jika itu memang salah. Tidak ada yang menunggangi saya, tidak ada yang setir saya, tidak ada yang membentuk sa untuk benci dengan mereka, tetapi sa memang lahir untuk bersatu dengan “mama Papua” yang telah terlanjur di lecehkan. Dan sedang juangkan hak itu, untuk membalik pelecahan itu, sekaligus mengubah berbagai imits buruk terhadap rakyat Papua.
Goresan ini merupakan teriakan terdalam batin saya untuk sa sampaikan kepada siapapun yang peduli dengan persoalan Papua, peduli dengan pemuda Papua, serta peduli dengan peribadi sa sendiri. Tidak ada yang sa harapkan dengan goresan singkat ini, yang sa harapakan, adalah pembaca bisa mengerti posisi Papua, posisi pemuda dan posisi sa sendiri saat ini.
Sa tidak bermaksud menulis untuk membanggakan diri, tapi sa harap dari teman-teman sekalian adalah kita sama-sama bangun dari tidur, berjalan, melihat, mengamati, ikut merasakan, serta seraya bertindak untuk sebuah perubahan. Tidak perlu bermimpi melakukan hal-hal besar, namun pikirlah dari apa yang bisa kita buat untuk sebuah perubahan, seperti yang sedang sa lakukan saat-saat ini. Dimana memulai dari menulis, walau hal ini juga kadang sa rasakan sangat-sangat sukar. Akhir kata, terima kasih eehhh, su mau baca sa pu “teriakan hati” ini. Sa bangga miliki teman-teman seperti kalian.
Ket*
• Penjilat= Indonesi dan antek-anteknya
• Mama Papua=- Tanah Papua
• Pahlwan= Pejuang kebebasan rakyat Papua yang masih tabah bersuara
• Seriga= Intaian BIN/BAIS dan sejenisnya
• Komprador= Kaki tangan Pemerintah Indonesia
Tulisan ini hanya sebuah gambaran perjalanan hati sa, hati yang berjalan di bawah tekanan, ancaman, intimidasi bahkan berbagai teror sekalipun. sa tetap akan bilang, sa juga akan katakan, dan sa juga akan menyuarakan dengan suara lantang, bahwa kebenaran harus di perjuangkan.
Sumber Foto Koleksi Pribadi.
Tuesday, June 02, 2009
Oktavianus Pogau: Ngajarin Pejabat Bikin Blog! (2)

Papua - Meski terisolasi dengan kecanggihan teknologi. Okto tak pernah menyerah untuk terus belajar. Bayangkan...untuk membuka internet 1 jam saja, ia harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 10.000. Langkah yang diambilnya ini, akhirnya membuahkan hasil. Belajar internet sendiri dan akhirnya bisa membuat blog, membuatnya banyak penghargaan dari dinas pemerintahan. Bahkan, ada yang minta diajarin.
Harus Bekerja, Agar Bisa Belajar Internet!
Okto mengenal internet sejak kelas 1 SMP. Sekitar tahun 2005, saat ia duduk di bangku SMP kelas 2, Okto mulai menyukai dunia internet karna gurunya sering bercerita, bahwa internet adalah jendela dunia. Meski harga warnet per jam sepuluh ribu, Okto tetap berjuang agar bisa belajar internet.
Nggak hanya harganya yang mahal. Jarak yang sangat jauh, harus ia tempuh untuk singgah ke warnet satu-satunya yang ada di Nabire. Dengan cara membantu orang bekerja apa aja, Okto bisa mendapat uang saku tambahan untuk belajar internet. Jika ada di warnet, okto bisa-bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar membuat blog.
Karna kegigihannya, Okto bisa membuat weblog. Bahkan ia juga terlibat dalam pembuatan beberapa punya yayasan PESAT. Beberapa media massa yang ada di Papua juga sempat meminta Okto untuk membantu websitenya, namun kadang di tolaknya karena berbagai kesibukan sekolah. Ia juga pernah membantu bikin web untuk ajang kebudayaan Papua secara Otodidak. Emang sih sederhana, tapi mendapat penghargaan dari banyak kalangan termasuk pemerintah Papua.
Kini, ia tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk ke warnet. Karna Okto sudah bisa mengakses internet 24 jam free, dari asramanya. Jarak antara asrama dan sekolahnya sangat berdekatan. Suatu saat, sekolahnya memasang jaringan internet dari Dinas Pendidikan. Sehingga cukup memasang hotspood guna akses internet secara gratis. Ia mengakui, kalo semua ini tak lepas dari doa-doanya setiap hari, yang menginginkan adanya suatu perubahan, agar ia bisa belajar lebih baik lagi.
Karna fasilitas ini, dia lebih terpacu lagi untuk belajar. Sudah banyak orang yang ia ajari. Dari mulai teman-temannya, termasuk orang-orang yang lebih tua darinya. Bahkan Mahasiswa, sampai pejabat di pemerintahan pun ia ajarin internet dan dibuatkan blog. Siapapun yang datang minta tolong, pasti diajarin tanpa dipungut biaya. "Aku akan ngajarin mereka sampai paham benar, jadi nggak ketinggalan zaman." Katanya penuh semangat!
Berkembang Dengan Keterbatasan.......
Pernah Okto merasa jengkel dengan segala keterbatasan yang ada di lingkungannya. Sulitnya menjumpai warnet, bahkan perpustakaan sebagai media informasi membaca buku, tidak ia temui di sana. Namun di saat-saat seperti itulah, ia berusaha untuk menunjukan kepada dunia, bahwa dirinya yang ada di Papua, tidak jauh tertinggal dengan teman-teman yang ada di berbagai pelosok tanah air.
Hal ini mendorongnya untuk memacu teman-temannya yang lain, disaat mereka mengeluhkan minimnya fasilitas. "Saya selalu memotivasi beberapa teman, agar mereka tidak memikirkan fasilitas sebagai penghambat untuk berkembang. Berkembang dengan kekurangan itu lebih menyenangkan, daripada berkembang dengan fasilitas yang
berlebihan." Justru keterbatasan itulah yang membuat Okto semakin maju. Belum tentu, kemudahan teknologi, bisa memacu orang untuk terdorong belajar dan berusaha.
Ia mengharapkan, agar generasi muda tidak menjadikan keterbatasan sebagai penghambat untuk berkembang! "Fasilitas dan sarana, bukanlah tolak ukur utama untuk kita menjadi orang hebat. Tapi kemampuan dan kemauanlah yang mengarahkan hati nurani kita untuk keluar dari semua kekurangan itu, dan menjadikan kita sebagai orang hebat. Selagi muda, kerjakanlah hal yang bermanfaat dan luar biasa. Be history maker for Indonesia!" Itulah pesan Okto. (*/ Bb/ Tt)
Tulisan ini menjadi Profile di Majalah Rohani Pemuda Indonesia, T-MORE yang terbit setiap bulan.
Foto saat bersama dengan seorang Jurnalis dari Media T-MORE.
http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/21/150
Oktavianus Pogau : Ngajarin Pejabat Bikin Blog! (1)

Papua - Di tengah keterbatasan, justru berprestasi....itu luar biasa! Oktovianus Pogau, salah satu teman kita dari Papua yang udah terjun di bidang Jurnalistik ‘en pernah belajar internet sendiri. Sering diminta mengajari teman-teman, mahasiswa, bahkan pejabat untuk membuat blog. Remaja yang duduk di kelas 11 SMA Kristen Anak Panah, Nabire ini, punya semangat tinggi untuk membangkitkan Papua dari ketertinggalan.
Inilah kisahnya.....
Orang Tua Meninggal, Tetap berprestasi!
Dibalik prestasinya yang cemerlang. Oktavianus Pogau yang sering dipanggil Okto ini, menyimpan kenangan sedih tentang kedua orang tuanya. Tidak hanya berjuang melawan keterbatasam teknologi yang ada di Papua. Namun dia harus berjuang untuk meninggalkan masa lalunya yang mempunyai kenangan yang menyedihkan.
Dulunya, ayah kandung Okto adalah seorang kepala suku di lingkungannya. Ayahnya memiliki 7 istri. Melihat keadaan tersebut, kakaknya yang sudah terlebih dahulu menjadi pembina di Asrama PESAT yang didirikan oleh Ev Daniel Alexander, mengajaknya untuk tinggal di asrama.
Jarak antara asrama dan keberadaan orang tuanya sangat jauh. Untuk bertemu dengan orang tuanya, Okto harus menggunakan pesawat kecil milik Mission Avation Felowship (MAF) salah satu yayasan misi yang bekerja di Papua. Akibat jarak yang jauh, Okto kehilangan komunikasi dengan orang tuanya. Terkadang...Okto merasa kangen dengan mereka. Namun, ia hanya mendapat pelukan orang tua, hanya sebatas angan.
Suatu saat, Okto diberitahu kalo ayahnya meninggal saat dirinya kelas 5 SD. Padahal, ayahnya sudah meninggal sejak ia kelas 1 SD. Tak lama kemudian, ibunya menyusul. Okto diberitahu tentang kematian ibunya saat kelas 3 SMP. Padahal, ibunya sudah meninggal saat ia duduk di kelas 5 SD. Marah, sedih, kecewa yang dirasakan! Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya berserah. Demi sekolah, ia harus meninggalkan keluarga, dan itulah perjuangan hidupnya! Dia bisa belajar arti hidup yang sesungguhnya!
Pikiran! Itulah yang terus membuat Okto berjuang! Kerapkali kesedihan menghantuinya. Okto berusaha mengalihkan pikiran itu menjadi suatu respon yang baik. "Rencana Tuhan itu indah!" Inilah yang selalu ia ijinkan ada dipikirannya, sehingga Okto bisa bangkit dan kembali melanjutkan sekolahnya!
Cita-citanya menjadi dokter agar bisa membantu masyarakat Papua, pernah ia rindukan sewaktu SMP. Namun saat beranjak SMA, ia tergugah untuk menjadi seorang diplomat yang bisa mendongkrak berbagai sektor di Indonesia, terutama di Papua. Ia memiliki kerinduan, dipakai Tuhan sebagai jawaban bagi orang yang memerlukan.
Okto mulai menorehkan prestasi saat duduk di bangku SMP kelas 2. Saat itu ada kegiatan mading di sekolah. Ia tergugah untuk menanggapi topik tentang lumpur Lapindo. Tak disangka, tulisannya mendapat acungan jempol teman-teman dan gurunya. Bahkan tulisan-tulisannya, sempat di bawah oleh Ketua Yayasan Pesat ke Jakarta. Dari situlah ia menyadari, kalo dirinya mempunyai talenta menulis.
Seiring waktu, tulisannya juga sering dimuat di media massa. Kemudian, ia mengikuti beberapa lomba mengarang tingkat pelajar SMP se-Kabupaten Nabire. Juara satu pun ia dapatkan! Saat duduk di bangku SMA, ia terus mengikuti lomba mengarang tingkat pelajar SMA se-Kabupaten. Juara satu kembali ia dapatkan!
Sampai saat ini, ia aktif memberikan tulisan dan liputan di Papua Pos dan Kabar Papua. Ia juga sempet dipercaya jadi editor yang mengizinkan sebuah berita dimuat atau enggak. Puji TUHAN, sekolahnya nggak terganggu. Itulah suatu bukti, bahwa kehilangan orang tua yang dikasihinya, tak akan membuat Okto meratapi nasib dan berhenti berjuang. Tekadnya, tak hanya berprestasi, namun mengangkat Papua dari ketertinggalan! (*/ Bb/ Tt)
Sumber Majalah Remaja dan Pemuda Indonesia, T-MORE
Foto ini di ambil saat ikut Pelatihan di Kaliurang-Yogyakarta
http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/21/149
Monday, June 01, 2009
Friday, May 29, 2009
Saya Bingung Dengan Ini???
OCTHO- Pikir saya saat itu, apabila saya sudah bisa akses internet dari rumah sepuasnya, maka akan menunjang segala kegiataan saya, termasuk kegiatan belajar di sekolah. Namun kenyataan harus berbicara laen. Karena internet tidak menjadikan diri saya berkembang, khususnya dalam hal pelajaran sekolah.
Malahan yang mengherankan, dengan mudahnya akses internet dari rumah, membuat semangat saya untuk bersekolah semakin menurun. Prestasi-prestasi gemilang yang pernah saya torehkan di sekolah tidak kunjung tercapai lagi. Dan hal ini sekaligus, ikut melemahkan tingkat kepercayaan saya pada sekolah, kalau dapat memberikan wawasan dan pengetahuan.
Saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang hidup di Papua dengan serba mewah. Karena apa? Karena bisa sepuasnya maen internet seharian, hampir 24 Jam, tanpa bayar sepersenpun. Padahal harga maen di warnet, sejam saja sudah 10 ribu rupiah. Dan ini sudah hal yang sangat luar biasa. Mana ada orang di Papua yang bisa maen internet sepuasnya seperti saya.
Hal ini seharusnya memacu semangat saya untuk belajar. Namun nyatanya tidak demikian, malahan hal ini membuat saya semakin terhimpit. Dan yang tidak habis piker lagi, dengan hadirnya internet, pikiran saya semakin kerdil untuk mempelajari dan memahami pelajaran sekolah.
Facebook membuat saya tergila-gila padanya. Seharian mungkin bisa bercanda ria depan internet ditemani Facebook. Tidak salah kata beebrapa orang, Facebook telah memperbudak setiap manusia. Sadar atau tidak sadar, sekali lagi saya mau katakan, bahwa yah, memang benar, kalau Facebook telah memperbudak saya.
Selain Facebook, ada lagi yang tidak terlalu kren, namun menguras segala waktu saya di depan Internet. Yaitu; Friendster, Ngeblog dan beberapa fasilitas laennya. Seharusnya saya yang harus bisa menguasai internet, namun yang mengherankan, internet yang telah membelenggu dan menguasai saya.
Secara jujur, kadang saya tidak pernah makan seharian, hanya karena bercanda, tawa ria depan internet. Dan bagi saya, bisa merasakan kebebasan dan menerima berbagai inforamsai dari internet, sudah tentu adalah segalanya. Memang kelihatannya hal ini agak lucu, dan bisa di katakan ini hal gila. Yah, tapi itulah yang sedang saya alami sekarang.
Sungguh, saya di buat menjadi gila pada dunia teknologi. Berbagai tugas sekolah sudah tidak pernah dikerjakan. Hampir 70% tugas sekolah saya tidak tuntas. Ini sudah tentu akan membuat saya semakin susah di tahun-tahun depan ketika saya menmpuh pendidikan yang lebih tinggi (kuliah).
Apa yang harus saya perbuat, ketika saya dibuat tidak berdaya dengan segala perkembangan internet saat ini. Hampir semua guru di sekolah selalu memarahi saya. Apa sebab? Yah, karena pelajaran sekolah saya menurun drastic.
Bagi mereka, ini merupakan hal yang aneh, apabila segala pelajaran sekolah saya, dan prestasi-prestasi gemilang yang pernah saya torehkan, baik dalam linkungan sekolah, maupun lingkungan luar sekolah tidak tercapai lagi. Di luar dugaan ternyata, banyak dari mereka yang sangat mengharapkan saya untuk menjadi orang yang berkembang. Khususnya dalam lingkup pelajaran sekolah.
Terlambat sekolah hal yang sangat lumrah atau biasa bagi saya. Padahal tau nggak? Jarak sekolah dengan asrama saya hanya 20 meter. Ini sudah di luar kesadaran, apabila masih bisa terlambat. Yah, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Internet membuat saya malas belajar di sekolah.
Kosentrasi tidak pernah terarah pada guru yang sedang membawahkan pelajaran. Hanya membayangkan internet dan Facebook yang akan menjadi sahabat saya kala nanti saya pulang sekolah. Selain itu membayangkan Informasi baru apa yang akan saya dapatkan di dunia internet.
Pertanyaan saat ini, apakah saya harus berhenti main internet. Apakah saya harus melenyapkan internet dari mata saya. Apakah saya harus buang laptop saya yang agak kusam, karena kecintaan saya pada dunia pendidikan yang akan mengarahkan dan menentukan saya apa jadinya saya di masa depan. Harus ada solusi yang di ambil.
Sudah tentu tidak mungkin saya harus pisah dari internet. Karena apa sebab, internet juga telah membantu saya banyak hal. Terutama dalam dunia infomrasi dan pengetahuan yang saya dapatkan setiap detik, setiap waktu. Dan sudah tentu ini akan menjadikan saya orang yang sedikit jenius.
Apa yang harus saya lakuka? Saya masih bingung. Hal ini harus terjawab. Karena dalam waktu dekat saya akan hadapi ulangan semester. Dan kalau tidak selesaikan segala tugas saya sebelum ulangan, bukan tidak mungkin akan membuat saya semakin sudah menghadapi ulangan nanti.
Mungkin ada yang bisa memberi masukan terkati hal ini.. karena saya butuh siapapun yang bisa memberikan masukan dan pendapat, untuk membuat saya tidak menjadi korban dari internet. Seharusnya internet yang menjadi korban dari saya. Kalau ada tanggapan terkati hal ini, sangat diharapkan untuk membantu saya. Salah, Tuhan Yesus Memberkati.
Wednesday, May 13, 2009
Tuesday, May 05, 2009
Mengenal Sosok OCTHO (1)

OCTHO- Menyebalkan dengan pekerjaan yang menguras tenaga, terutama otot. Senang dengan pekerjaan yang menguras pikiran, terutama otak. Tidak senang pada orang yang suka memaksakan kehendakanya, walau itu benar. Tidak senang pula dengan orang yang berlagak sok malaikat, walau memang dia menyerupai seorang malaikat.
Kadang tidak berjalan pada prinsip, walau prinsip itu telah ada. Prinsip yang telah ada, kadang kala mencelakakan diri sendiri. Kalau maen internet, kadang lupa segalanya, termasuk lupa ama someone.
Internetan sukanya sendirian. Nggak mau di temani ama teman, apalagi ama pacar. Kalau dengan teman atau pacar, nggak sukanya mereka kadang kala sering celometan, menyebalkan tau. Senang dengan mereka yang penurut, apalagi dengan tabah mau belajar sama-sama dengan saya.
Saya, kalau internetan kadang lupa waktu. Pernah lho, 48 jam depan internet. Untungya saat itu nggak sakit. Hanya rada-rada pucat. Kalau lagi internetan, paling suka utak-atik dunia teknologi dan dunia informasi, terutama informasi seputar tokoh politik.
Kurang suka dengan istrahat siang, walau beberapa kali telah drop out di rumah sakit, karena malaria. Tapi karena jarang istrhat siang, sering lho minum air putih, tapi kadang juga minum minuman dingin seperti Mizone, poccari sweet n sprite biar tambah energi.
Paling nggak senang dengan olahraga, terutama olaragah yang menguras tenaga. Apa sebab? Karena kalau capek karena olahraga, segalanya akan di lupakan, termasuk belajar. Saya tuh dulunya jago lho maen sepak bola, saat itu masih di bangku SMP. Sempat jadi bintang juga, dengan menyabet beberapa gelar. Posisi saya pada saat itu playmakaer.
Saya kurang suka dengan pelajaran sekolah. Beberapa hari bahkan di habisin di rumah memikirkan nasib malang maupun baik. Kadang saya mikir, lebih mending baca buku dan internatan di rumah, dari pada ke sekolah ketemu ama guru-guru yang ngajarnya kadang kurang konsisten, apalagi sampai menyebalkan.
Bagi saya, masa muda adalah masa untuk menentukan, baik masa depan, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Masa muda tidak selalu identik dengan pacaran, walau saya sendiri kadang pacaran. Pacaran bagi saya, hanya habisin waktu. Kalau pacaran, saya yang harus bisa atur cewek, bukan si cewek yang mengatur saya. OK.
Tipe cewek yang disukai. Perhatian, nggak sombong n baek hati ajalah. Satu lagi, suka dengan cewe yang sering senyum. Senang dengan smile neh. Nggak senang tu kalau cewek jadi penguasa. Segala hidupku di atur, mangnya loe yang punya hidupku apa? Kadang sering tanya gitu ama cewek yang berlagak ingin jadi penguasa.
Senang bergaul ama teman yang bisa membangun. Benci dengan hal-hal yang merusak hidup, seperti merokok, minum-minuman keras, bahkan sampai narkoba. Kalau ada teman yang seperti ini, bisa di terima jadi teman sih, tapi harus tau diri dan bisa menguasai diri agar tetap bisa menjaga persahabatan. Nggak suka juga ama teman yang nggak bisa nyimpan rahasia pribadi, apalagi mulutnya suka luber kayak ember. Lebih baek bubar temanan aja, kalau ada yang seperti ini. Karena berbahaya dalam persahabatan kedepannya.
Suka belajar bahasa inggris. Walau nggak tau ama sekali. Senang juga dengan mereka yang bisa mengajari saya dalam bahasa inggris. Aku tuh sering chat ama beberapa teman di luar negeri yang sudah jauh paham dengan bahasa inggris. Salah satu kesenanganku di Internet adalah chat dalam bahasa inggris dengan teman-teman di luar negeri.
Friendster, facebook, blog, n e-mail adalah ketiga situs yang nggak mungkin nggak di buka. Kewajiban utama, adalah ngeblog dan e-mail. Senang juga dengan ngeblog, walau kadang menyebalkan dan menguras banyak duit tapi semua di jalani dengan happy. Senang koment di facebook dan friendster ama teman-teman lama yang udah jarang ketemu, disitu masa-masa menyenangkan di masa kecil di ceritakan lagi.
Setamat SMA, saya pingin lanjut kuliah. Pinginnya, keluar negeri kalau bahasa inggrisnya bagus. Makanya sedang boro-boro belajar bahasa inggris. Kalau soal duit, papa jc punya segalanya. Berdoa n berharap aja ama dia, pasti jalan akan di buka. Kedua jurusan yang akan saya geluti, kalau nggak Hubungan Internasional, Hukum Internasional ajalah. Biar paham akan dunia yang luas nih.
Senang makan nasi goreng. Apalagi kalau banyak telur gorengnya. Pernah waktu sakit, semua makanan yang di makan nggak mempan, muntah melulu, eits, giliran nasi goreng yang di cobai, nggak muntah deh. Teruji kan, kalau itu makanan fave saya. Kalau ke warung makan, sukanya hanya ke warung makan yang ada nasi goreng, n kalau kantong mencukupi sering juga minum jus alpukat, biar tambah vitamin gitu.
Bersambung………….!!!!




.jpg)
