Friday, July 31, 2009

Paulus Japugau: Kami Bingung, Kabupaten Intan Jaya Untuk Siapa?

OCTHO- Ketika kabupaten Intan Jaya hadir, menyangkut segala kegiatan bahkan sampai pada pembentukan kepanitiaan suatu acara, haruslah melibatkan semua masyarakat di enam distrik, namun kenyataan yang bisa kita amati tidaklah demikian. Masyarakat di abaikan begitu saja, padahal pembentukan Kabupaten Intan Jaya ini untuk mereka, dimana mampu memberdayakan segala kekurangan mereka. Kami sangat bingung, sebenarnya pejabat terkait yang mengurus hal ini paham atau tidak dengan semua ini.

Saya sendiri sebagai tokoh masyarakat yang telah lama tinggal di Kabupaten Intan Jaya sangat kecewa dengan semua ini. Dimana masyarakat yang membutuhkan sentuhan di biarkan begitu saja. Inikah sangat aneh. Hal ini di kemukakan Tokoh masyarakat Distrik Sugapa, Paulus Japugau melalui telepon selulernya kepada Papua Post Nabire, Sabtu 02/09 lalu.

"Hal ini dapat kita lihat, ketika kegiatan Muspas, acara pelantikan, bahkan beberapa kegiatan lainnya yang telah berlangsung, dimana masyarakat asli sugapa tidak pernah di libatkan sama sekali. Dan yang lebih aneh, acara turkam gubernur Provinsi Papua serta upacara 17 Agustus yang akan berlangsung beberapa waktu kedepapun demikian, dimana kepantiaan, bahkan sampai pengurus intipun di ambil alih oleh semua mereka yang dari luar Intan Jaya," tandasnya.

Dengan cara seperti ini, tentu menimbulkan pertanyaan kepada kami, kira-kira kabupaten Intan Jaya di bentuk untuk masyarakat Intan Jaya yang ada di enam distrik, atau orang lain. Karena mengapa kami mengatakan demikian, dimana kepanitian suatu acara atau kegiatan selalu saja di bentuk di Enarotali, Timika, bahkan kadang juga di Nabire. Padahal tempat acara berlangsung itu di Intan Jaya.

Beberapa waktu kedepan, ketika Bupati Intan Jaya, Max Zonggonau hadir, saya akan mengerahkan masyarakat yang ada di sugapa, serta beberapa distrik lainnya untuk melakukan aksi demo. Dimana menuntut kejelasan persoalan ini. Kami ingin bupati bisa paham akan hal ini. Biar masyarakat tidak jadi korban di Kabupaten baru yang baru seumur biji jagung ini.

Setelah kami melakukan aksi demo ke bupati, apabila kedepannya hal yang sama terjadi lagi, kami dengan tegas mengatakan bahwa Bupati Intan Jaya di ganti saja. Karena menurut kami beliau tidak becus menangani persoalan yng ada di daerahnya. selain itu, kami juga dengan sangat tegas meminta supaya Bupati Intan Jaya beta untuk tinggal di honainya, jangan pulang pergi ke honai orang lain terus.

Dan satu lagi yang menimbulkan pertanyaan, kok sampai saat ini pejabat setempat baik eselon 2 dan 3 belum juga di lantik, apa yang menganjal semua ini? Kami sekali lagi menanyakan keseriusan Kabupaten Intan Jaya di bentuk. Karena hal seperti ini saja tidak pernah di perhatikan, apalagi beberapa persoalan lainnya yang akan terjadi di kemudian hari. Kami sangat memohon, untuk segera melantik mereka. Karena ini menyangkut masa depan dari masyarakat yang ada di Kabupaten Intan Jaya sendiri.

Sembari mengakhir teleponnya, beliau juga mengukapkan bahwa hal ini sanga penting untuk di perhatikan. "Saya sangat mengatakan hal ini sangat perlu untuk di perhatiakn, kalau saja tidak demikian, saya ragu Kabupaten Intan Jaya akan maju dan berkembang seperti kabupaten lainnya. (Madiba)

Sumber Gambar



headerr

Baca Selengkapnya......

Tanggapan Tulisan Tentang Dialog

OCTHO- Sangat menarik, tulisan saya yang berjudul "Menyelesaikan Konflik di Papua Dengan Model Dialog Yang Bagaimana?" mendapat tanggapan dari pembaca kompas. Pada intinya mereka menyikapi tulisan ini dengan konteks, bahwa Papua haruslah tetap berada dalam bingkai NKRI.

Mungkin bisa di pahami, karena mereka sendiri tidak pernah paham dan mengerti persoalan Papua yang sebenarnya. Mungkin ratusan nyawa orang Papua yang melayang tiap bulannya tidak pernah menjadi mimpi buruk untuk tidur mereka. Bisa di baca kedua tanggapan pembaca kompas di bahwa ini.


Tanggapan rosiy,

Secara pribadi saya mempunyai persepsi bahwa inti permasalahan di Papua adalah kekayaan alam Papua. Ada 3 pihak yang secara langsung mempunyai kepentingan pribadi di sini yaitu rakyat Papua, pemerintah Indonesia dan PT Freeport. Pihak yang tidak langsung juga banyak karena kekayaan alam Papua sangat menggiurkan sehingga banyak yang 'musang berbulu domba'.

Banyak rakyat papua yang menginginkan kemerdekaan karena mereka ingin mengelola SDA mereka sendiri dan menjadi decision maker tanpa harus berhubungan dengan Jakarta. Ada hal yang harus dipikirkan oleh rakyat Papua yaitu conflict of interests di antara suku-suku di Papua yang bisa menyebabkan perang saudara. Masih banyak suku bangsa Papua yang tinggal di pedalaman dan belum terpolusi pola pikir dan hidupnya. Lihatlah East Timor, kalau tidak ada pasukan perdamaian PBB apakah rakyat East Timor akan tetap bisa menjaga perdamaian? Lihat betapa dominannya unsur asing mengendalikan kehidupan rakyat East Timor. Kalau saya salah ya tolong dikoreksi.

Pemerintah Indonesia ada di posisi yang sulit. Ada unsur perebutan pembagian kue SDA Papua, ada unsur menjaga perdamaian dan kesatuan NKRI, ada unsur perjanjian -kontrak- dengan PT Freeport yg notabene adalah income untuk Amerika. Papua mengingatkan saya dengan kasus Aceh walaupun berbeda masalahnya karena Papua mungkin lebih kompleks. Saya berharap SBY bisa menawarkan alternatif dialog yang disesuaikan dengan kultur Papua.

PT Freeport juga harus transparan dengan isi kontrak yang ditanda tangani dengan pemerintah zaman Soeharto dulu. Tapi apakah mungkin isi kontrak itu dibuka untuk umum? Ini masalah memaksimalkan keuntungan pemegang saham so wajar saja rakyat Papua berontak.

Mohon maaf jika persepsi saya salah dan tolong dikoreksi. Saya berharap rakyat Papua tetap bersatu dengan Indonesia karena kita bersaudara sudah lama. Ayo SBY berikan keadilan untuk rakyat Papua.

Rosiy


Tanggapan tukul rewangsa,

Saudara Madibapogau yang terhormat. Uraian Anda rasional, menyuarakan nurani terdalam, isinya beragam kekecewaan. Supaya Anda tahu, bukan hanya masyarakat Papua yang berpikir begitu, banyak daerah lain berpikir serupa. Aceh, Riau, Maluku, telah lama menyuarakan hal demikian itu.

Sebabnya adalah, Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke tidak benar-benar merasakan manfaatnya berada dalam Ikatan Negara Kesatuan RI itu! Mengapa tidak terasa manfaatnya, karena pemerintah pusat dan daerah tidak serius menanganinya. Seandainya seluruh Bangsa Indonesia merasakan manfaat itu, maka persoalan disintegrasi sudah bisa kita lupakan, sama halnya di 50 negara bagian Amerika Serikat.

Inilah persoalan kita. Memberi manfaat bagi seluruh elemen bangsa akan nikmatnya dalam satu ikatan NKRI. Bukan hanya pemerintah pusat, tokoh-tokoh Papua juga harus ikut berusaha. Jangan merasa harus disantuni, kuga harus menyantuni!
Artinya, lupakan anggapan bahwa Anda bergabung dengan Indonesia, tapi Papua-lah yang membentuk sehingga ada Indonesia. Tanpa Papua, Indonesia ini tak pernah ada…….!
Untuk itulah sebenarnya kita butuh pemimpin yang memiliki jiwa melingkupi seluruh Indonesia. Kita pilih pemimpinnya bersama-sama. Supaya pemimpin itu adalah milik kita bersama.

Jadi saya sangat kecewa, pada Pilpres kemarin warga Papua telah menjatuhkan pilihannya, tapi baru saja pilpres usai Anda telah membuat tulisan seperti ini.
Lupakan pengkotak-kotakan. Kita beradsa dalam satu bingkai, itu lebih baik. Anda menolak Otsus, lalu ingin merdeka, itu sangat beresiko. Anda harus sadar bahwa ide ini akan mengundang pertumpahan darah, bahkan di antara masyarakat Papua sendiri. Tak semua seide dengan Anda. Percayalah, tidak semua! Kalau Anda sekarang merasa banyak pendukung, itu karena Anda bergerak de tengah kelompok Anda. Jika sudah mencuat, Anda harus siap menghadapi perang saudara yang keji dan kejam!

Saya tidak menolak pembicaraan terbuka seperti ini. Silahkan saja, dan masyarakat Papua harus tahu untuk apa dan apa keperluan mereka ikut membentuk NKRI. Masyarakat Papu bukanlah anak tiri, melainkan anak kandung, saudara kandung, tak ada bedanya dengan Sumatera, Sulawesi dan lain-lain.

Sebelum Anda bertindak lebih jauh, saya sarankan, terimalah rahmat karunia NKRI. Wadah kita bersama, pahit atau manis kehidupan ini. Putera Papua mesti bisa memimpin Indonesia, menjadi menteri-menteri atau bahkan menjadi Panglima TNI atau Kapolri, dengan tugas yang jauh melebihi batas-batas wilayah Papua.

Salam manis saudaraku. Kami di ujung Sumatera ada juga bicara begitu. Tapi semudah itukah kita patah semangat mengisi kemerdekaan ini? Melayani hasrat pahlawan negara kita? Bukankah itu kelemahan? Ingatlah, tak ada yang bisa kita capai kecuali dengan bekerja keras. Dengan bekerja keras!!!!

Baca disini

Sumber Gambar: Klik disini



headerr

Baca Selengkapnya......

Goresan Dari Hati

OCTHO- Siang itu matahari tampak muram, hujan-pun sangat deras, di tambah lagi dengan sayatan guntur, kilat serta petir yng semakin menjadi-jadi. mungkin alam telah paham, bahwa suasana hatiku sedemikian gentir, saat wanita yang selama ini menjadi tumpuhan hidupku, harus berbalik arah dengan alasan yng sangat tidak jelas.

Banyak pertanyaan muncul kala itu. apakah kau telah lupa dengan semua janji manismu? apakah Kau juga sudah tentu telah lupa dengan harapan, hayalan bahkan cita-cita konyol yang selalu kita pikirkan bersama ataukah yang kesemuanya itu hanya curahan kasih sayangmu yng sifatnya semua.

Mungkin hanya kau yng bisa menjawabnya, karena kau-pun tidak pernah berterus terang padaku tentang persoalan yng sebenarnya. Menyakitkan juga sih dengan semua caramu ini.

Dan Kadang juga yng menjadi pergulatan batinku, selalu menanyakan kenapa kau setega itu? melupakan, mengabaikan, bahkan berlagak tidak kenal padaku. apakah kau telah yakin betul-betul, bahwa lelaki yng sedang bersamamu saat ini, sangat-sangat sempurna dan tidak bercela dariku. Yah, mungkin demikian? Karena menambah dosa, apabila menilai dan menentukan baik buruknya seseorang, dalam hal ini pria yang menjadi dambaan hatimu, dan saya kira sangatlah tidak pantas menghakiminya.

Masih teringat, saat sumpah serapan kau keluarkan, agar aku mempercayai dan meyakinimu, bahwa memang betul, kau betul-betul menjadi milikku dan sangat-sangat mencintaiku. Kau berterus terang secara sungguh-sungguh, bahwa tidak ada seorang priapun di luar sana yng menjadi idolamu, walau ada, kau sering berterus terang dan cerita padaku, seakan-akan betul bahwa kau tidak pernah menaruh hati padanya.

Semua itu agaknya telah meyakinkanku, bahwa memang betul, kau begitu sangat cinta kepadaku. Dan kadang dari segala yang kau korbankan, termasuk waktu, materi bahkan diri sendiri, kadang telah meyakinkanku. Namun harus kuakui, itu salah dan dosaku, dimana memercayaimu begitu cepat. setelah ini berpikir juga, kenapa sebodoh itu diriku?

Kau tida paham, bertapa berkeping-keping hati ini, memikirkan, bahkan mengharapkanmu. Kau mungkin sedang bahagia, kau juga mungkin sedang tawa canda kegembiraan, karena pria yng selama ini menjadi lelaki idolamu, walau saat itu masih bersama-sama dengan aku telah ada di pelukanmu.

Saat membuka notes pribadiku yang sudah kusam, hati selalu menangis. saat melihat waktu-waktu saat kau dan aku duduk bahagia bersama. Saat kau dan aku duduk suka duka bersama. hanya humor, dan obrolan singkat yang sering melunakan hatiku dan hatimu saat kita sedang bergulat mencari sebuah kesempurnaan.

Semakin banyak membuka notes, semakin banyak pula harus menahan kekecewaan. Apalagi, di barengi dengan pikiran akan waktu saat kita bahagia, saat-saat kita saling mengharapkan, dan saat-saat waktu kita saling tegur sapa.

05 April 09 lalu, saat itu hatiku tidak karuan memikirkanmu. hari ulang tahunku yng telah kau tunggu-tunggu harus di rayakan tanpa kehadiran, bahkan sapaanmu. Jujur, hati sangat-sangat risau memikirkanku, hati selalu berbisik, seandainya dia ada, sudah mungkin telah menjadi malaikat sempurna yng memberi senyuman manis, sebagai kado terindah saat aku berulang tahun.

Deringan telepon dari jarak yang cukup jauh, sudah tentu telah menjadi sedikit obat penenang, dalam menemani tidur-ku. Sempat bertanya juga sama Tuhan, apa benar dia tulang rusukku?

Mungkin saya tidak ingin bicara banyak dengan coretan ini, karena hatimu mungkin sedikit paham dengan suasana hatiku saat ini. Terlanjur hati ini kecewa, dan sudah terlanjut pula hati ini di sakiti, dan tidak mungkin saya harus menelan semua muntah dengan dalih menerima dirimu kembali, apabila suatu waktu kau menginginkan demikian.

Tidak ada tempat, hati telah diisi dengan pikiran lain yng mungkin berguna buat masa depan. Dan mungkin, saya akan menjadi orang pertama yang akan mengucapkan selamat, apabila melihatmu menjadi seorang wanita yng sukses dengan segala cita-citamu. Kita mungkin akan menjadi saksi pada kehidupan, orang lain akan menjadi saksi untuk kita berdua, Antara kau dan aku, harus punya tujuan yang satu, yaitu; bahu membahu bangun tanah Papua.

*Catatan di Tengah Bisingnya Hati Nurani


Sumber Gambar: http://media.photobucket.com/image/love%20heart/funkbutter/graphics/Showing_Love/8_showing_love_heart_dancer.gif



headerr

Baca Selengkapnya......

Tuesday, July 28, 2009

Menyelesaikan Konflik di Papua Dengan Model Dialog Yang Bagaimana?


OCTHO- Mungkinkah dialog yang dimaksudkan banyak pengamat, akan menyelesaikan persoalan di Papua?. Karena perlu untuk diingat, aspirasi merdeka yang didengungkan rakyat Papua dari waktu ke waktu bukan meminta untuk tetap ikut dengan negara Indonesia , tetapi berdiri, bebas serta berdaulat sendiri sebagai sebuah negara yang telah merdeka. Tapi dalam prospeknya dialog yang ditawarkan adalah dialog damai untuk tetap ikut dengan negara ini.


Banyak pengamat mulai mendiskusikan bahkan sampai menyimpulkan bahwa penyelesaian konflik yang sedang terjadi dan berkembang di Papua harus diselesaikan dengan sebuah jalan dialog. Dalam artian, Jakarta dan orang Papua duduk satu meja, berbicara dari hati ke hati. Dengan tujuan yang sama, yaitu menyelesaikan konflik di Papua secara damai.

Dan memang betul, penyelesaian konflik yang berkembang dan sedang terjadi di Papua harus diselesaikan dengan jalan dialog dan damai. Karena bagaimanapun, penyelesaian konflik di Papua dengan cara-cara kekerasan, yang mana selalu mengerahkan TNI/POLRI tidak akan pernah menyelesaikan sebuah persoalan. Malahan, bukan tidak mungkin mereka akan menimbulkan persoalan baru lagi panjang prosesnya.

Karena itu, saya pribadi sendiri sebagai orang asli Papua yang sedang mencari keadilan di tanah ini, sangat sepakat, bahkan sangat gembira, kalau dialog ditawarkan berbagai pihak adalah jalan akhir untuk rakyat Papua.

Gagasan pertama tentang penyelesaian masalah Papua dengan jalan dialog, telah dipaparkan panjang lebar oleh DR. Neles Kebadabi Tebay, Pr dalam bukunya “Dialog Jakarta - Papua, Sebuah Perspektif Papua”. Buku tersebut diterbitkan baru-baru ini oleh Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Jayapura.

Perlu diacungkana jempol, dimana sangat berani membuat sebuah konsep dialog yang harapannya bisa diterima oleh Jakarat. Konsep dialog yang diulas dalam buku itu juga telah memberi pertanyaan kepada Jakarta , kira-kira dimana letak keseriusan untuk menyelesaikan masalah di Papua, kalau saja tidak terpenuhi konsep yang ditawarkan dalam buku itu patut diragukan keseriusan pemerintah Indonesia menyelesaikan masalah Papua.

Sangat jelas dalam buku itu, disimpulkan proses penyelesaian konflik di Papua dengan dialog damai. Dan sudah tentu, itikiad baik dari orang Papua untuk meminta dialog yang tidak bersifat anarkis, bahkan brutal perlu diterima dan ditanggapai serius oleh Jakarta (pemerintah pusat). Karena ini juga sudah bagian dari junjung demokrasi, yang sudah termasuk ideologi terpenting dari negara ini.

Dalam buku itu, Pater Neles juga mengemukakan bahwa Otsus bukan solusi untuk orang Papua, tetapi hanya menjadi bumerang untuk menutup aspirasi “M” yang selalu orang Papua lontarkan. Otsus dibuat dengan berbagai kajian yang kiranya akan mengangkat harkat, derajat, dan martabat orang asli Papua, namun nyatanya tidak demikian.

Dengan demikian, perlu untuk bercermin diri, apa benar Otsus diberikan untuk kesejahteraan bagi masyarakat Papua? Apakah Otsus diberikan untuk penyelesaian konflik yang terjadi di Papua? Atau Otsus diberikan untuk memanjakan pejabat lokal? Entahlah, mungkin Jakarta telah mengetahui semua itu, namun sengaja berlagak tidak tahu persoalan yang terjadi di Tanah Papua.

“Saya kira orang Papua akan tenang dan bahagia, apabila Jakarta bersedia membuka diri untuk menyelesaikan masalah Papua dengan jalan dialog. Karena jalan ini adalah jalan terakhir, bukan Otsus, karena memang betul bahwa Otsus tidak membuat masyarakat Papua berkembang dan bertumbuh. Saya bisa simpulkan, Otsus malah memperbudak orang asli Papua,” demikian tanggapan seorang bapak menyikapi diluncurkannya buku karya Pater Neles Kebadabi Tebay yang dirasa akan memberikan “angin segar” bagi rakyat Papua.

Selain itu, gagasan berikut yang juga sangat berpengaruh dan tampaknya telah mengetuk hati para petinggi pusat adalah kajian ilmiah yang dibuat oleh DR. Muridan S. Widjojo, M.Si dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan judul bukunya “Papua Road Map (PRM), yang diterbitkan beberapa waktu lalu.

Sebenarnya kajian LIPI telah lebih dulu mengidentifikasikan konflik yang terjadi di Papua serta solusi penyelesaiannya. Namun peluncuran bukunya agak terlambat. Sehingga saya bisa katakan bahwa gagasan Pater Neles telah lebih dulu muncul ke publik, daripada gagasan LIPI.

Mengamati buku yang diluncurkan LIPI, saya kira ini merupakan sebuah kajian yang sangat luar biasa. Dimana secara tegas, dan berani secara gamblang mengemukakan segala persolan, konflik hingga problematika yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Papua. Salah satunya dalam bingkai Otsus yang tidak kunjung membaik.

Bisa disimpulkan, Muridan dan LIPI juga secara tidak langsung telah menyatakan bahwa Otsus yang selama ini menjadi panji kebesaran Jakarta telah gagal. Dan mereka juga telah sedikit menyepakati bahwa Otsus gagal karena Jakarta dan pejabat Papua tidak serius menjalankan amanat Otsus itu sendiri.

Jakarta “main mata” dengan pejabat Papua untuk tidak menjalankan Otsus. Buktinya, Majelis Rakyat Papua (MRP) hadir empat tahun setelah Otsus dilucurkan. Padahal semestinya Otsus dan MRP diluncurkan bersamaan. Karena jalan Otsus, berkembangnya Papua, semua dikerahkan MRP, yang mana dikatakan sebagai lembaga representatif kultural orang asli Papua.

Untuk itu, tawaran dialog versi Muridan (LIPI) dan Pater Neles kepada Jakarta , agaknya sudah menjadi kesepakatan seluruh orang asli Papua. Karena sangat tidak mungkin, orang Papua menawarkan jalan fight untuk penyelesaiannya. Sebab bagaimana pun, orang Papua tetap menginginkan Papua sebagai tanah damai, yang walau realitasnya Tanah Papua tidak sedamai slogan yang selalu diteriakan.

Dialog Yang Bagaimana?

Tidak ada seseorang pun yang dapat membendung aspiras merdeka yang terus disuarakan rakyat Papua. Karena merdeka dan berdaulat sendiri sebagai sebuah negara merdeka adalah tujuan utama rakyat Papua semenjak dulu. Bukan sebuah perjuangan baru yang masih eksis diperjuangkan hingga kini.

Awal mula munculnya konflik antara orang Papua dan Jakarta, terjadi sejak Indonesia menguasai Papua tanggal 1 Mei 1963, serta intregrasi Papua kedalam wilayah Indonesia yang tidak sah. Kedua masalah ini memang perlu diselesaikan secara komprehensif dan menyeluruh. Dan bisa ditarik kesimpulan bahwa kedua persoalan ini menjadikan sumber konflik yang pertama di Tanah Papua antara orang asli Papua dan Jakarta .

Nah, yang jadi pertanyaan: model dialog bagaimana yang selalu para pengamat tawarkan, baik dari Pater Neles maupun kajian LIPI dalam Papua Road Map (PRM)?. Karena keterbukaan semua pihak, baik dari orang Papua maupun Jakarta tergambarkan secara penuh, jika saja format dialog dan tujuan akhir dari proses dialog itu jelas.

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa orang Papua tidak akan pernah mau lagi untuk tetap ikut dengan negara Indonesia . Dan saya kira, format dialognya harus mengarah kesana, dalam arti menjawab ketidakpuasan rakyat Papua untuk tetap ikut dengan Negara ini.

Menurut hemat saya, kajian dari LIPI dalam PRM bukanlah model dialog yang diinginkan rakyat Papua. Sebab kebanyakan orang Papua bahkan menilai PRM adalah Otsus era baru. Dalam arti PRM tidak akan membawa Papua keluar dari ketertinggalan, bahkan sampai menyelesaikan konflik yang terjadi di Tanah Papua.
Karena sudah pasti dialog yang di tawarkan LIPI dalam PRM hanya mengarah kepada pembenahan diri menuju Papua yang aman dan terntram dalan bingkai Otsus. Padahal hal ini tidak akan pernah mungkin tercapai, karena Jakarta selalu tidak konsisten dengan segala aturan yang telah mereka tetapkan sendiri.(***)

Catatan di tengah pertanyaan


Sumber Foto:http://www.kabarindonesia.com/fotoberita/Resize%20of%20demo8.jpg


headerr

Baca Selengkapnya......

Friday, July 24, 2009

Ideologi Jangan Pernah Pudar

OCTHO- Sangat tepat mengatakan bahwa DIALOG adalah solusi penyelesaian konflik yang sedang terjadi dan sedang berlangsung di Papua saat-saat ini. Dan sudah tentu tulisan ini sepaham dengan gagasan Muridan bersama LIPI dalam Papua Road Map (PRM)

tetapi nampaknya perlu sekali di bedakan antara TPN dan OPM. Banyak orang mengaitkan bahkan memberi kesamaan antara kedua organ perjuangan ini, padahal keduanya kalau mau dipahami secara seksama mempunyai pengertian dan pemahanam yang berbeda sekali.

TPN dengan perpanjangan T-nya adalah TENTARA. Dimana tentara mempunyai tugas dan fungsi sendiri sesuai tugas seorang ksatria. Jadi jangan sekali-kali kita gabungkan tugas kstarian dengan tugas-tugas yang lain seperti; Dialog, diplomasi, bahkan beberapa kerja lainnya, saya kira tidak terlalu penting libatkan TPN dalam sebuah dialog.

Kasarnya tugas mereka di lapangan, nanti bersuara saat ada perlawanan. Kalau ada TPN di kota yang ikut-ikutan dialog, bahkan pertemuan dengan petinggi2 negara Indo, saya meragukan dirinya. Atau bisa jadi dia adalah TPN bayaran atau TPN cangkokan yang anda sempat singgung dalam uraian di bawah.

Sedangkan OPM, dengan perpanjangan O-nya adalah organisasi. Organisasi sendiri bertujuan untuk menampung segala aspirasi, usulan, bahkan segala tangisan, dalam konteks ini OPM sendiri. Dan mempunya tugas utama juga menyampaikan segala masukan itu kepada pihak penguasa yang di rasa sedang menjajah.

Tetapi sesuai realita yang terjadi di Papua dan Negara ini, apakah OPM yang memang betul2 menjadi musuh bubuyutan RI sering mendapatkan tempat untuk mengadakan sebuah dialog. Saya kira sebuah hal yang mustahil, karena keberadaan OPM saat ini nampaknya sudah seperti momok yang menakutkan bagi negara ini.

Jadi, alangkah baiknya tidak kita libatkan TPN serta OPM dalam dialog yang nantinya bisa menentukan masa depan bangsa Papua yang masih dan sedang kita rilis bersama saat2 ini.

Coba bayangkan apakah Gus Dur akan bersedia menerima team 100 di bawah pimpinan Tom Beanal saat itu, apabila mereka menggunakan nama TPN ataupun OPM untuk melakukan dialog dengan jakarta. Saya kira sebuah harapan yang sangat sukar di capai. Mungkin kala itu menggunakan nama TPN ataupun OPM untuk berdialog, negara ini dengan kekuatan Militernya telah membumi hanguskan team 100 kala itu.

Dengan demikian, perlu kita pahami, bahwa masing-masing organ-organ perjuangan memiliki tugas dan wewenang yang berbeda. Biarkan mereka yang di tugaskan oleh tanah ini untuk berdiplomasi melanjutkan aksinya. Karena kesemuanya itu mempunya tujuan yang satu, yaitu membebaskan bangsa Papua dari penjajahan.

Mungkin dialog akan tercapai, mungkin dialog akan terlaksana, bahkan mungkin juga dialog akan membuahkan sebuah hasil yang menggembirakan, apabila semua pejuang di PB dan LN sadar dan insaf dengan tugas dan wewenang pribadinya. Yang penting ideologi tentang sebuah kebebasan tanah ini tidak akan pernah pudar dari sanubari hati kita.

Mungkin begitu dulu.
Menanggapi tulisan seorang sahabat di Milist Komunitas Papua.

Sumber Gambar:



headerr

Baca Selengkapnya......

Wednesday, July 15, 2009

Papua Sudah Merdeka, Kedaulatan Yang Perlu Diakui

OCTHO – Mungkin tidak banyak yang mengetahui, namun memang demikian bahwa Tentara Pembebasan Papua (TPN) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak pernah mengklaim bahwa yang mereka inginkan adalah Papua Merdeka, tetapi kedaulatan yang telah “diperkosa” oleh Amerika, Belanda dan Indonesia itulah yang dikembalikan.

Beberapa saat lalu, dalam perbincangan dengan beberapa orang tua, khususnya mereka yang menjadi pelaku sejarah memang mengatakan demikian. Bahwa mereka tidak menginginkan proses panjang untuk memerdekakan Papua. Tetapi hanya sebatas pengakuan yang mereka butuhkan.

“Adik, kalau bicara Papua Merdeka lebih baik tidak usah bicara di sini. Karena kami tau Papua telah merdeka, dan kedaulatan itu yang dunia internasional dan Indonesia perlu akui. Bukti besar Papua telah diakui Negara Indonesia telah merdeka dimana pernyataan Preside Soekarno kala itu yang memberi julukan Papua dengan Negara Boneka,” kata seorang bapak dalam perbincangannya.

Bagi orang tua dan pelaku sejarah, membicarakan kemerdekaan untuk Papua, sama saja dengan sedang berandai-andai untuk manusia menginjakkan kakinya di planet Mars. Bagi mereka, kalau membicarakan lagi masalah kemerdekaan Papua, sama saja dengan sedang membuka lembaran baru, yang bisa jadi akan melemahkan semangat perjuangan mereka.


Bahkan mereka juga menyatakan bahwa Papua bukan bagian dari NKRI. Mungkin banyak soal yang menjadi alasan akan hal itu. Mulai dari rumpun yang berbeda, soal letak wilayah teritorial, bahkan pula letak daerah yang berbeda dengan daerah yang lain.
Memang benar, Papua telah merdeka sejak 1 Desember 1961. Bendera Papua Barat “Bintang Kejora” pernah berkibar berdampingan dengan Bendera Kerajaan Belanda selama hampir satu tahun (1 Desember 1961 s/d 1 Oktober 1962) sebagai negara yang berdaulat penuh yang sejajar kedudukannya dengan negeri kerajaan Belanda.

Dan jangan heran, jika banyak orang-orang tua, khususnya para pelaku sejarah yang tidak suka dengan mereka yang hanya bicara doang tanpa paham akar persoalan Papua yang sebenarnya. Nyaring berbunyi soal keinginan Papua Merdeka, padahal tidak paham kalau Papua telah merdeka sejak dahulu kala.

Lantas yang mengherankan, kenapa sampai saai ini masih banyak orang Papua yang minta supaya Papua Merdeka? Padahal secara de facto, Papua telah merdeka. Yang perlu diminta dan dituntut adalah kedaulatan Papua (de yure). Sudah tentu kedaulatan yang harus diminta, karena berkaitan dengan jati diri orang Papua.

Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka kurang pahami ataukah memang sama sekali tidak tau akan hal ini? Atau memang sudah mengetahuinya, namun berpura-pura melupakannya?

Mungkin sudah menjadi tugas kita untuk memberitahukan kepada segenap generasi Papua, baik yang sekarang maupun yang akan datang selagi Papua belum bebas dan kedaulatannya belum diakui, bahwa Papua telah merdeka, tetapi saat ini kedaulatan kitalah yang telah dilacuri atau kasarnya telah diperkosa.

Tugas kita juga merangkul kaum muda yang sungguh peduli dengan Papua, dimana tidak menyebar isu-isu negatif yang imbasnya hanya memakan korban yang tidak tahu tentang menahu akar persoalan yang sebenarnya.

Semoga kedaulatan Papua, dan keinginan Papua untuk mewujudkan sebuah kebebasan yang menjadi harapan generasi Papua akan dan tetap menjadi kenyataan. Karena berbicara tentang kebebasan, berarti berbicara juga mengenai hak hidup yang perlu mendapatkan tempat paling utama dari segala sektor.

*Refleksi di tengah baying-bayang pengharapan.




headerr

Baca Selengkapnya......

Saturday, July 11, 2009

Berjuang Sampai Menang

OCTHO- Mungkin kau telah lupa,
Bahwa perjuangan ini masih panjang

Mungkin kau telah lupa juga,
Bahwa perjuangan itu butuh pengorbanan

Bahkan mungkin kau lupa juga,
kalau tujuan perjuangan untuk kita bersama

kan kuyakini,
kau akan insaf

kau akan sadar,
dan kau akan tangisi

bahwa,
harga diri, martabat sampai jati diri,
jangan pernah di rebut bangsa lain,

kita harus rebut kembali,
nyatakan sikap,
bahwa kau dan kami sangat-sangat berbeda


Numbay, 11 April 09






headerr

Baca Selengkapnya......