Tuesday, July 06, 2010

Tangisan dan Ujian

OCTHO- Cengeng,
Itulah sebutan aku pada diriku.
Menangis kadang menjadi solusi,
Tangisan juga menjadi obat penenang.

Ujian ini terlalu berat,
Sangat berat.
Kepergiaan ayah ibu sejak kecil,
Sudah semakin memberatkan langkah hidup ini.

Mereka pergi,
Pergi tanpa sepata kata pada putra kesayangan mereka.
Tak ada pesan,
Tak ada degungan semangat
Tak ada ciuman kasih sayang.

Berjalan sendiri,
Sendiri berjalan tanpa siap-siapa.
Seorang kakak laki-laki di Timika, Papua.
Kedua kakak perempuan di kampung halaman.
Rindu pada mereka hanya bisa terbayar dengan air mata.

Sudah hampir dua minggu berobat di tanah orang.
Kalian pasti tak tau pergumulan batinku,
Ayah ibu juga pasti tak tahu.
Dan memang mereka tak mungkin tahu.

Aku harap kalian baik-baik saja,
Kalian juga pasti berharap pada diriku demikian.

Kemarin dokter membatalkan rencana operasi,
Ini kabar gembira,
namun kalian pasti tak melompat kegirangan,
Karena memang kalian tak tau tentang keadaanku.

Kalian tak bersalah, akupun demikian
Dan TUHAN tak bersalah juga,
Kita jangan mencari siapa yng benar dan salah.
Yang pasti ini pelajaran penting dalam hidupku.

Dokter menyarankan untuk minum obat program,
Dan akan berlangsung selama 6 bulan lamanya.
Berharap kalian bisa tetap mendoakanku supaya tetap tegar.

Aku akan terus menangis,
Menangis untuk menjawab cinta dan rindu pada kalian.
Menangis dan bangkit
Untuk menatap hari esok yang lebih baik.

Hari esok,
Aku akan pulang,
Pulang dengan hasil jerih payah,
Semua itu untuk membayar semua rindu, air mata, dan harapan kalian.

Aku mencintai kalian,
Mencintai kalian,
Sangat cinta pada kalian,
Sangat-sangat cinta pada kalian.

Catatan dari Asrama Kamasan Papua, Surabaya
Rabu, 07 Juli 2010, Pukul 06:44


Ket Gambar:
Saya foto bersama Kedua kakak perempuan dan seorang adik angkat.

Artikel Yang Berhubungan



3 comments:

  1. Meski langkah ini, tidak bersama-mu, tetapi kami semua bersama-mu.

    Kami, yang membaca tulisan ini, atau yang tidak membaca-nya. Baik kami yang ada di tanah Papua atau yang ada di luar Papua. Engkau meliki keluarga yang lebih luas dari suku-mu, karena engkau adalah bagian dari kami, yakni sebuah bangsa yang bernama Papua.

    Karena engkau adalah bagian dari hidup kami. Bagian yang tidak mungkin kami tinggalkan, dengan semua kekurangan dan kelebihanmu.

    Kami bangga, punya seorang anggota komunitas, seperti diri-mu. Seorang tidak malu untuk jujur terhadap dirinya sendiri, di depan publik melalui tulisan. Kejujuran, yang terkadang, membuat merah berbagai pihak lain yang berkepentingan. Pada berbagai tulisan yang anda tulis, sudah tercermin, bahwa anda sudah menemukan seorang guru, dan teman curhat, yang tepat, yaitu kegiatan tulisan - menulis itu sendiri.

    Harapan kami, jadikan sakit ini sebagai jalan sunyi, waktu di mana kita merenung. Sehingga ke depan, pada 6 bulan ke depan, sewaktu engkau melangkah, dan berucap serta bekerja, sudah semakin masak. Ada banyak contoh sejarah, manusia yang dibentuk, justru pada waktu sakit-nya. St.Ignatius Loloya, menemukan Tuhan di sebuah rumah sakit, pada waktu dia sakit. Jadikanlah sakit ini, sebagai sebuah episode terindah dalam hidup, waktu di mana anda melakukan kontemplasi.

    ReplyDelete
  2. makasih untuk komentarnya, Tuhan berkati

    ReplyDelete

Komentar anda...