OCTHO- Cengeng,
Itulah sebutan aku pada diriku.
Menangis kadang menjadi solusi,
Tangisan juga menjadi obat penenang.
Ujian ini terlalu berat,
Sangat berat.
Kepergiaan ayah ibu sejak kecil,
Sudah semakin memberatkan langkah hidup ini.
Mereka pergi,
Pergi tanpa sepata kata pada putra kesayangan mereka.
Tak ada pesan,
Tak ada degungan semangat
Tak ada ciuman kasih sayang.
Berjalan sendiri,
Sendiri berjalan tanpa siap-siapa.
Seorang kakak laki-laki di Timika, Papua.
Kedua kakak perempuan di kampung halaman.
Rindu pada mereka hanya bisa terbayar dengan air mata.
Sudah hampir dua minggu berobat di tanah orang.
Kalian pasti tak tau pergumulan batinku,
Ayah ibu juga pasti tak tahu.
Dan memang mereka tak mungkin tahu.
Aku harap kalian baik-baik saja,
Kalian juga pasti berharap pada diriku demikian.
Kemarin dokter membatalkan rencana operasi,
Ini kabar gembira,
namun kalian pasti tak melompat kegirangan,
Karena memang kalian tak tau tentang keadaanku.
Kalian tak bersalah, akupun demikian
Dan TUHAN tak bersalah juga,
Kita jangan mencari siapa yng benar dan salah.
Yang pasti ini pelajaran penting dalam hidupku.
Dokter menyarankan untuk minum obat program,
Dan akan berlangsung selama 6 bulan lamanya.
Berharap kalian bisa tetap mendoakanku supaya tetap tegar.
Aku akan terus menangis,
Menangis untuk menjawab cinta dan rindu pada kalian.
Menangis dan bangkit
Untuk menatap hari esok yang lebih baik.
Hari esok,
Aku akan pulang,
Pulang dengan hasil jerih payah,
Semua itu untuk membayar semua rindu, air mata, dan harapan kalian.
Aku mencintai kalian,
Mencintai kalian,
Sangat cinta pada kalian,
Sangat-sangat cinta pada kalian.
Catatan dari Asrama Kamasan Papua, Surabaya
Rabu, 07 Juli 2010, Pukul 06:44
Ket Gambar:
Saya foto bersama Kedua kakak perempuan dan seorang adik angkat.
Tuesday, July 06, 2010
Tangisan dan Ujian
Thursday, December 24, 2009
YESUS, MENGAPA KAU TIDAK LAHIR DI PAPUA?
OCTHO-
Yesus, mengapa Kau harus lahir di Betlehem?
Di kandang domba?
Mengapa Kau tidak lahir di negeriku Papua?
Lihatlah, tataplah negeriku.
Negeri yang penuh pesona
Manusia menamai bumi cenderawasih
Aku dan teman kanak-kanakku menyebut Negeri Emas
Yesus, mengapa Kau harus lahir di Betlehem, tidak di negeriku?
Negeriku kini berdarah-darah
Tetesan air mata, bau anyir kekerasan
Terdengar nyaring ditelingaku
Di Wamena, teriakan Allaah Akbar, pekikan Alleluya, itu artinya kematian
Sahabatku yusak di Timika,
Bapaknya menggelepar diterjang peluru
Damian, anak wasior tak tahu mau kemana.
Bapaknya tewas digampar milisi milik militer
Ibu diperkosa "serigala" dan lebih baik mati memeluk laut
Yesus mengapa Kau tidak lahir dinegeriku Papua?
Birokrat negeriku. Aparat negeriku. Politisi negeriku.
Mereka badut dan bandit
Atas nama rakyat, mereka mencongkel uang rakyat
Demi rakyat, mereka menipu rakyat
Untuk rakyat, mereka menindas rakyat.
Yesus Kau memang tidak lahir di negeriku Papua?
Negeriku memang berdarah-darah
Negeriku memang negeri para pencoleng
Tapi aku mencintai negeriku
Seperti aku mencintai diri-Mu.
Yesus, ditengah kepedihan, disela kekejaman, diantara kekerasan
Aku masih tetap bisa bernyanyi. Dengar suara parauku
"Silent night.....Holy night......."
MERRY CHRISTMAS 25 DESEMBER 2009
Thursday, December 17, 2009
PR Untuk Tuhan
OCTHO- Menjadi pikiran,
Ketika ada yang harus politisi,
Merasa bersalah,
Ketika merasa,
Kepentingan rakyat kecil di abaikan
Menyalahkan siapa???
Mereka hanya manusia biasa,
Mereka ciptaan-Nya yang ada salah dan dosa
Mereka bukan malaikat
Harus berubah,
Kadang waktu tidak menjawab,
Kadang waktu mengabaikan segala tangisan mereka
Dan kadang waktu menjawab,
Apa yang menjadi sebuah kebutuhan,
Dan tidak mungkin,
Dan tidak mungkin,
Menyalahkan waktu,
Menyalahkan perputaran poros bumi
Semua bukan takdir,
Tapi semua pilihan,
Semua keputusan,
Yang menentukan apa dan bagaimana jadinya
Rakyat yang kecil yang saat ini,
Merasa di abaikan dan di tindas
Semoga ada yang insaf,
Bahwa TUHAN tidak tutup mata,
Terhadap perbuatan, tingkah laku,
Serta pilihan hidup mereka yang tidak terpuji.
KM Labobar, 12 Des 2009
Pukul 19.27 wit
Harga Diri Yang Tak Ternilai
OCTHO- Seberapa harga dirimu,
Tidak akan kubeli
Percuma saja memercayai Tuhan,
Jika aku menjadikanmu barang dagangan
Aku bukan tak mampu,
Aku bukan tak sanggup,
Akau sangat-sangat mampu dan sanggup membeli kau,
Tapi bagiku,
Kau dan aku sama nilainya,
Kau dan aku bukan barang dagannnya,
Bahkan,
Kau dan aku tak ternilai,
Bukan berarti tidak ada harga,
Namun hanya DIA yang mampu membeli kau dan aku
Bukan bermaksud jadi pendeta, ulama, biksu, dll.
Namun saya hanya sedang berusaha,
Menahan gejolak batin,
Untuk tetap tidak “membelimu”
Seraya tetap mengamalkan ibadah yang sesungguhnya,
Yakni berpengang teguh pada perintah-Nya
KM Labobar, 14 Des 2009
Pukul 17.00 wit
Monday, November 16, 2009
SAkit sehhh......
OCTHO- Dua dokter sudah saya datangi,
Dengan keluhan yang sama pula
Obat yang mereka berikan berlainan pula,
Dokter pertama mengatakan,
“kau hanya sakit malaria biasa” setelah itu
Dianjur untuk saya minum obat yang telah di berikan,
Sepulangnya, saya bertanya-tanya,
Apa benar saya hanya sakit biasa
Hari demi hari ku lalui,
Tempat tidur yng kumal sudah tentu menemaniku
Hampir seminggu sudahg saya minum obat,
Dan seminggu itu pula harapan untuk sembuh belum tampak
Setelah obat betul-betul abis
Saya datangi pula dokter yang berikutnya,
Sama jawabnya, tapi kali ini ada dua penyakit katanya
“kau sakit malaria tropika sekaligus tersiana” sama anjuran,
Agar saya minum obat
Sebelum dokter mempersilakan saya pulang,
Dengan berani saya menawarkan untuk di suntik,
“dok, saya ingin di suntuk, bisa kha??
Dengan senang hati dokter menjawab,
“ohh, tentu bisa”
Dua jarum suntik, dengan cairan yang berbeda pula telah mendarat di tubuhku
Gembira, karena telah di suntik,
Dimana keadaan badanku lebih enak daripada sebelumnya,
Agak bimbang, “apa obat yang telah di berikan ini bisa menyembuhkanku”
Ini jadi pergulatan dalam batinku
Ternyata benar, obat yang telah di berikan oleh dokter kedua ini tidak mujur pula
Hampir tiga minggu, tidak ada perubahan sama sekali,
Malahan dadaku, semakin sakit,
Nyeri pada lambung-pun semakin meningkat,
Dan yang lebih aneh lagi,
Batuk berdahak yang tidak pernah saya rasakan datang lagi,
Jujur, batuk berdahak itu hampir saja mengeluarkan seluruh isi perut,
Telah kupesan dimana-mana obat untuk batuk berdahak,
Namun tak ada yang kunjung menghantarkan obat ini,
Pagi ini obat dari dokter kedua telah abis,
Sedang mikir, kemana lagi aku akan melangkah,
Nabire, 31 Oktober 2009, 08;40 wit
?????
OCTHO- Hanya terbaring
Bertanya kepada pencipta
Sudah cukupkah kerja saya
Sudah cukupkha pengabdian saya,
Kau tau sendiri
Belum banyak yng saya buat
Belum banyak perubahan yang saya lakukan
Moment-moment terpenting telah terlewatkan
Moment untuk merubah
Moment untuk belajar
Sa tidak sanggup,
Dan sa juga tidak mampu
Dan kalau ini jalanku
Kenapa kau tidak berterus dari awal
Bahwa usiaku akan segini aja
Aku bingung
Lihat,
Mereka di luar sana masih membuhkan saya
Mereka butuh suara saya
Mereka butuh ucapana saya
Tapi ini semua tak mungkin ku lakukan,
Aku hanya manusia biasa
Yang terkapar tak berdaya
Melarat di atas ketidakmampuanku,
Terpasung di atas kelemahanku,
TUHAN sehhh, ko saja yang andalan….
29 Oktober 2009, 12.00 wit
Sumber Foto: http://meyori30.files.wordpress.com/2009/04/harapan.jpg
Friday, October 02, 2009
Terikat………
OCTHO- Sa bukan-----
Tra mau,
Tra mampu,
Serta
Tra peduli
Sa juga bukan---
Tra kecewa,
Tra berduka
Serta
Tra nangis
JUJUR...
Hati pedih,
Luluh,
Tercabik-cabik
Serta
Terseok-seok
Sa hanya jadi korban daripada
Sistem,
Kepentingan,
Serta
Keserakaan penguasa
Sa hanya sedang
Terikat,
Terantai,
Serta terbelenggu
Yang membelengguku
Namanya,
PENDIDIKAN,
Sebuah label alias embel-embel,
Tabahlah hatiku.
Jumat, 02 Oktober 2009
Renungan dari Villa Pemikiran
Wednesday, September 23, 2009
Otsus.....
OCTHO- Kata mereka,
Dia adalah malaikat terang,
Ratu adil
Serta
Bulan purnama
Kata mereka,
Dia adalah obat tidur,
Pelepas dahaga,
Serta
Pelita di kegelapan
Dan kata mereka lagi,
Dia adalah emas permata,
Berlian bernilai tinggi,
Serta
Mutiara hitam yang berkilau
Tetapi,
Tidak!! Kataku,
Dia adalah racun,
Duri dalam daging,
Serta peluru dalam sum-sum
Tidak!! Kataku,
Dia ingin mencuri,
Membunuh,
Memusnahkan,
Bahkan melenyapkan,
Dan memang itu terbukti,
Berlangsung,
Berjalan,
Serta bergerilya tanpa kata-kata
Ahhh, OTSUS sehhh… …
Nabire, 24 September 2009
Villa Pemikiran Sebuah Perubahan
Friday, September 18, 2009
Siapa Yang Bersalah?
OCTHO-Kadang aku bertanya,
Siapa yang bersalah,
Siapa yang berdosa,
Serta,
Siapa yang biadab
Ketika
Melihat penduduk asli Papua
Terkapar menggenaskan,
tak berdaya, penuh
penuh lumuran darah,
Tidur di alam tak sadar
Bangkainya tak terurus
Menjadi santapan "binantang buas"
Semua
Ulah bedil, ulah perluru,
Ulah gegabah sepatu laras MILITER,
Serta ulah kaum migrant
Yang membiarkan,
Terlantarkan
Serta menyingkirkan penduduk asli Papua
Tujuan tidak lain,
Menjajah, menguasai, membunuh serta
Memusnahkan penduduk asli Papua
Semua berlalu tanpa kata-kata,
Teguran, Jawaban,
bahkan menjelaskan bahwa itu
Sebuah Hukuman
Salahkan Tuhan?
Salahkan aku?
Salahkan generasiku?
Ataukah
Salahkan kaum tak berdosa?
Kudapatkan jawaban
Kudapatkan bisikan
Serta kudapatkan sebuah kepastian
PENCIPTALAH yang salah
Membiarkan,
Menciptkan
Serta menjadikan
Papua sebagai negeri emas
Sarang imprealisme dan kapitalisme
ahhh, pencipta seh, tega juga ehhh......!!!
sampai kapan semua ini akan berakhir,
mungkin sebuah misteri,
yang bisa di jawab oleh
PENCIPTA sendiri....
Villa Perenungan, Nabire 20 Oktober 2009
Thursday, September 17, 2009
Mubazirnya Cinta…......
OCTHO- Hanya kau dan aku di malam itu
Tawa candamu sedikit meyakinkanku
Omongan gombalmu sedikiit berbisik,
Bahwa memang kau tercipta untuku
Tiupan angin malan
Pancaran rembulan, serta
Hajatan bulan bintang semakin
Menjadi-jadi, seraya
Lebih memastikan lagi,
Bahwa memang kau dan aku
Akan menjadi Satu
Namun kadang
Hatiku tidak sepaham dengan
Segala arah pikiran,
Dan omongan gombalmu
Karena hati kecil selalu mengatakan
Bahwa kau, cinta, serta hazratmu
Sungguh sangat MUBAZIR…..
Tembok Berlin, Kabupaten Sorong 27 Juli 2009
Tuesday, September 08, 2009
Sa akan Terus Berziarah
Sa hanya sungguh2 kagum,
Melihat tawa canda, senyum manis
Serta kegembiraan
Walau hatinya begitu sakit
Sa hanya sungguh2 bangga
Melihat tegar berjalan, kuat berdiri
Serta bahagia hidup
Walau getir memikirkan masa depannya,
Sa sungguh2 tersipu malu,
Melihat hukum di perkosa, UU di kebiri,
Serta ideologi jadi pajangan
Walau membenci, namun tetap mengampuni…..
Sa sungguh2 berdosa,
Melihat perjuangan jalan di tempat,
Kegagalan terus menerpa
Perpecahan terus tumbuh subur,
Walau kadang berjalan atas nama tanah dan rakyat
Sa sungguh2 bukan manusia,
Menyaksikan penderitaan,
Mendengar kelamnya masa lalu,
Serta merekam sebuah genocida
Walau tak mampu, ku korbankan diri jadi pahlawan….
Sa sungguh2 telah tiada
Ketika melupakan, menggelapkan,
Bahkan meniadakan perjuangan
Sa sungguh2 telah jadi bangkai,
Ketika acuh tak acuh dengan perjuangan,
Melupakan pusara tak bernama
Mengejek revolusioner sejati,
Menyepelekan segala usaha,
Mengkebiri omongan, pernyataan serta dambaan
Sungguh, sungguh, dan sungguh
Hidupku untuk perjuangan
Hidupku untuk kebebebasan
Hidupku untuk pengembalian kedaulatan
Melihat, mendengar, bahkan merekam
Tanah dan rakyat Papua BEBAS
Tanah dan rakyat Papua gembira
Tanah ran takyat Papua tertawa
Serta tanah dan rakyat Papua menyatakan
Bahwa ini kehidupan kita,
Kehidupan akhir
Kehidupan yang di janjikan
Kehidupan yang harus dan seharusnya
Menjadi bagian terpenting dari ziara batin kita
Pasti,
Tra ada yang mustahil
Yang mustahil,
Hanya ketika kita mundur
Menyerah, berhenti dan
Ketika kita merasa kuat.
Serta berjalan sendiri
Asrama Anugerah, 08 September 2009
Sunday, August 16, 2009
Hati Yang Mengampuni.......
OCTHO- Hati yng mengampuni walau di sakiti
hati yng mengampuni walau di kecewakan
hati yng mengampuni walau disudutkan
DAN......
Hati yng menerima, walau kadang KAU tidak adil
hati yng menerima walau kadang KAU bisu
hati yng menerima walau kadang KAU tuli
hati yng menerima walau kadang KAU berlagak tak tau
SERTA.....
hati yng memberontak ketika keadilan tetap di lacuri
hati yng memberontak ketika kebenaran tetap di sembuyikan
hati yng memberontak ketika hukum di lacuri terus-menerus
MUNGKIN semua ini akan menjadi gulatan di batin, dan menjadi suratan untuk pencipta yng telah, dan sedang menciptkan bangsa PAPUA yng menginginkan sebuah kebebeasan.
Renungan Minggu Pagi.....
Tuesday, August 11, 2009
Noor Din M Top, Reaksimu Dinantikan…..
OCTHO- Media telah berkampanye,
“Luar biasa, Ini wajah Noor Din M Top”
Gembong teroris yang selama ini meresahkan masyarakat Indonesia,
Tapi kataku tidak,
“tidak, ini bukan Noor Din M Top”
seraya meyakinkan mereka dgn suara hati yang tertatih-tatih
Anonim yang memberikan kesaksian,
Wartawan yang mengumpulkan data
Media yang cetak yang memaparkan hasil liputan
Media elektronik yang menjelaskan gambar
SERTA
MABES Polri yang jadi korban permainan petak umpet,
Nampaknya telah sepaham untuk berkampanye…….
MABES Polri dan Indonesia hebat,
MABES Polri dan Indonesia kerja bagus,
MABES Polri dan Indonesia musuh teroris
MABES Polri dan Indonesia TUHAN bagi rakyatnya,
Pujian ini yang ingin di dapatkan dari dunia Internasional,
PADAHAL
Indonesia Negara bejat,
Yang kadang hokum jadi bahan komoditas jual beli,
Indonesia Negara jahat
Yang kadang atas nama kemanusiaan, HAM itu di langgar
Indonesia Negara Pembunuh
Yang kadang nyawa manusia, menjadi korban permainan
Indonesia Negara Pendusta
Yang rakyatnya di kelabuhi dengan sejuta janji kesejahteraan palsu
Bahkan
Indonesia Negara Atheis
Yang kadang Ideologinya di jual atas kepentingan semata
GOMBAL……
Ideologi Negaranya
Pejabat Negaranya
Tatananan hukumnya
Serta
Rakyatnya
Semoga kegombalan itu
Tidak menjadi boomerang
Yang terus-menerus menghadirkan bencana,
Bagi Negara ini,
Negara adil, makmur, serta damai secara hayalan,
Wah, payah juga Negara ini,
Payah juga rakyatnya,
Nantikan reaksi Noor Din M Top,
Serta jaringannya,
Kalau saja kegombalan,
Menjadikan Negara ini, Negara bodoh,
Serta Negara tidak ber-TUHAN
Yng rakyatnya kecilnya tetap di tindas demi HAM..…..
Nabire, Villa Pemikiran Sebuah Kebebasan
09 August 2009
Saturday, July 11, 2009
Berjuang Sampai Menang
OCTHO- Mungkin kau telah lupa,
Bahwa perjuangan ini masih panjang
Mungkin kau telah lupa juga,
Bahwa perjuangan itu butuh pengorbanan
Bahkan mungkin kau lupa juga,
kalau tujuan perjuangan untuk kita bersama
kan kuyakini,
kau akan insaf
kau akan sadar,
dan kau akan tangisi
bahwa,
harga diri, martabat sampai jati diri,
jangan pernah di rebut bangsa lain,
kita harus rebut kembali,
nyatakan sikap,
bahwa kau dan kami sangat-sangat berbeda
Numbay, 11 April 09
Sunday, June 14, 2009
Kami Ingin Bebas Selamanya
OCTHO- Intaian penjilat meresahkan batin,
Murkanya hati, tak dapat tersalurkan,
Kelamnya malam, menjadi bunga tidur
Gigitan nyamuk, menjadi sahabat sejati
Kami katakan, tidak ada kata nyerah
Tatapan bulan, memberi semangat,
Walau pengintai hampir serupa dengannya
Nyawa menjadi taruhan,
Singa-singa lapar selalu meronta
Kami tetap dengan tekad bulat katakan,
mereka hanyalah singa yang bergigi ompong
Kami ingin hidup bebas,
Kami ingin menikmati alam Papua
Kami ingin, dan ingin menjadi tuan di tanah ini
Satu agenda di tahun 2009
BOIKOT PEMILU DAN PILPRES
Satu hati, satu jiwa untuk mendukung semua ini
Kita harus mengakihi segalanya,
Gigitan nyamuk, tatapan bulan, intaian singa lapar
Hanyalah penderitaan sementara.
Kami ingin bebas SELAMANYA.
Minggu Malam, Pukul 22.00 Wit, 13 April 2009
Distrik Sentani Barat, Kertosari
Monday, May 04, 2009
Kepegianmu…....
OCTHO- Mungkin ajal akan menjemputku,
Itu pikirku
Di temani selimut kusam,
Bantal yang kumal
Aku terbaring,
Kapan teguran dan pendertiaan ini akan berakhir
Hayatan sakit semakin parah,
kecemasan batin semakin mencekam
Saat semakin memikirkanmu,
Mengenang beberapa masa saat itu
Saat pertikaian dan semua memori itu,
Walau kau dan aku tak begitu lama kenal
Namun tawa, canda dan senyum sudah sangat akrap denganku
Mungkin kau seperti malaikat
Kau selalu meyakinkanku,
Bahwa aku akan sembuh
Namun kadang itu jadi perdebatan dengan nadiku
Aku selalu menggelak
Tidak…..
Aku ingin mati saja…..
Namun kuakui,
Bapa dan kau sepaham
Ku harap…..
Kepergianmu menjadi semangatku
Tawa canda di alammu
Menjadi ketenanganku
Akut tak tau
Kapan kau akan kembali
Kau kembalipun
Aku mungkin tak akan pernah bertemu denganmu lagi
Karena batin ini sedang merencanakan hal besar
Hal besar untuk perubahan tanah ini
Tanah ini butuh kau dan aku
Kau dengan senjatmu
Aku juga dengan akan senjatku
Salam untukmu
Sukses untuk perjuanganmu
Makasih buat semuanya
Tapi segalanya belum berakhir
Kau masih memiliki hutang padaku
Aku tak pernah melupakan semua itu.
Kenangan di Rumah Sakit Umum Daerah Nabire-Papua
Nabire, 02 Mei 2009.
Sunday, April 12, 2009
SAng p3juAng
Bertahun-tahun Qu berjuang
Sampai kapan penderitaan ini harus berakhir
Perjuangan Qu taNpa batas waktu
Tenaga dan pikiran Qu luangkan tanpa akhir
Setiap saat Qu hanya menanti
Suatu keajaiban, namun kapan???
Doa ku aturkan…
Puasa ku amalkan…
Dimanakah Kau TUHAN
Dimanakah keadilan itu
aQ ingin hidup bebas seperti burung Nazar
yang terbang kian – kemari
menari dialam bebas
tanpa harus membayar sewa!!!
Namun ku hargai itu perjuangan Qu
aQ harus tetap berjuang
demi mencapai kebebasan Qu
karena aQ tahu TUHAN ada disana untuk Qu
terimakasih TUHAN……….!!!!!!
By…Rossa.imo3t.
Port Numbay, 1 Maret 2009
Malaikat Untuk Moe
Yang tersirat hanyalah amarah
aQ tak tahu, maksud apa dibalik semua itu
mungkin salah atau dosa Qu
tapi aneh…
semua itu tak pernah Qu jelaskan
aQ hanya terpaku, mungkin dirinya terpanah
berharap diri Qu menjadi malaikat baginya
entahlah…
Tuhan tahu semuanya
Alam pun jadi saksi
Bahwa yang Qu inginkan
Ia hanya menjadi malaikat baginya
Yang dapat menyinari jahat dan gelapnya dunia
Termasuk dunia kita berdua
Dengan ocehan hati ini
Semoga kau paham dengan realita hidup ini
aQ akan tetap jadi malaikat untuk moe
Port Numbay, 31 maret 2009.
Tuesday, January 27, 2009
Pahamilah Aku “Bintang-Ku”
Kutau, dirimu memang tak pernah paham dengan Q
Mungkin, bagi-mu diriku hanya sampah
Diriku hanya gulma yang mengganggu pertumbuhan-mu
Diri-ku hanyalah bencana besar bagi masa depan-mu
Ketika diri-ku menatapmu penuh dengan harapan
Sumpah serapan akan kau keluarkan
Sebagai pemanis keyakinanku
Supaya aku-pun mempercayai
Bahwa diri-mu memang betul2 mencintai-ku
Tetapi kau perlu pahami
Aku tak pintar sepintar dirimu
Aku taklah pandai sepandai dirimu
Aka taklah bodoh, dari pada orang bodoh
Aku hanyalah, satu dari sekian banyak orang
Yang bisa sedikit membaca gelagat suara hati-mu
Dimana memang betul
Bahwa diri-mu tak mencintaku dengan setulus hati
Entahlah….Tuhan tahu, semua “kecelakaan” ini
Semua belum terlambat.
Asrama Anugerah, Nabire 24 Januari 2009.