
Daniel Alexander: Mereka Anak-anak Yang Terpilih
Dengan pendidikan berpola asrama, PESAT Nabire telah hadir di Papua selama 15 Tahun. Ada yang luar biasa dengan pelayanan mereka, dimana mendidik anak-anak asli Papua sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Bagi mereka, mendidik karakter seorang anak lebih penting, daripada hanya kepintaran dan kecerdasan saja.
POGAU- Pendidikan berpola asrama merupakan salah satu trik jitu yang dapat di gunakan untuk membangun Pendidikan di Papua, lebih khusus meningkatkan Sumber Daya Manusianya. Namum, tidak banyak juga yang menyadari hal ini, sehingga terkesan mengabaikan pendidikan pola asrama untuk anak-anak Papua yang membutuhkan pendidikan.
UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus sudah hampir 8 tahun hadir di Papua, namun tidak ada prestasi gemilang yang bisa Otsus torehkan untuk perubahan anak-anak Papua, khususnya di bidang pendidikan. Lihat saja hasil Study Univerisitas Indonesia yang di paparkan beberapa waktu lalu di Jakarta, yang menempatkan Provinsi Papua sebagai daerah buta huruf paling tinggi di Indonesia. Seharusnya tidak demikian, kenapa proposional dana Otsus untuk pendidikan yang milyaran rupiah belum bisa menjawab hal ini.
Hingga saat ini di Papua, hanya ada satu Yayasan yang mengembangkan pola pendidikan berasrama, yaitu Yayasan PESAT, mereka berdomisil di Kabupaten Nabire. Dan telah hadir di Papua hampir 12 Tahun lamanya. Sistem pendidikan berpola asrama yang mereka kembangkan, adalah dengan cara ber-asramakan anak-anak asli Papua dari TK-SMA, dan memiliki sekolah khusus yang tidak bisa dicampur baurkan dengan mereka yang ada di luar asrama.
Komentar Tentang Pelayanan Mereka
Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH telah banyak bercerita tentang kinerja luar biasa yang Yayasan ini tunjukan selama hadir di Papua, lebih khusus telah di paparkan panjang lebar dalam bukunya “Kami Yang Menanam, Kami Yang Menyiram dan Tuhanlah Yang Menumbuhkan. 
“saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Yayasan PESAT hadir di Papua, dan telah mendidik dan mengajari sekian banyak anak-anak Papua, khususnya mereka yang datang dari pedalaman untuk menjadi manusia. Mewakili pemerintah daerah, saya mengucapkan banyak terima kasih untuk Yayasan Pesat,’ ucap pak Bas saat melaksanakan kunjungan di Yayasan ini beberapa waktu lalu.
Yayasan PESAT berdiri bermula dari kerinduan besar seorang hamba Tuhan, Pdt Daniel Alexander namanya. Beliau sangat berkeinginan melihat anak-anak Papua yang pintar, cerdas, terampil, kreatif serta berkarakter kristus. Baginya mereka sudah pasti bisa membangun Papua setelah keluar dari arena pendidikan dasar (TK-SMA) ini. Dasar yang kuat, sudah tentu mengarahkan anak ini untuk memilih dan menentukan araha hidup yang lebih baik lagi.
“saya yakin, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Papua yang hebat dan luar biasa. Mereka imamat yang rajani, anak-anak yang terpilih untuk membangun dan merubah Papua. Nanti kita bisa lihat kinejer mereka dalam beberapa waktu mendatang setelah mereka menyelesaikan studi,” pungkas Daniel beberapa waktu lalu di Nabire.
Menurutnya, pendidikan pola asrama paling jitu di Papua, agar setiap anak-anak tersebut bisa didik sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang berlaku, serta mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menjadi modal dasar. Guru-guru yang mereka datangkan untuk melayani anak-anak ini sangat luar biasa. Bahkan ada yang bergelar Dr, tapi dimana harus tinggal serumah dengan anak-anak, luar biasa bukan? Baginya, tidak cukup seorang anak hanya pintar dan cerdas, tapi yang terpenting adalah memiliki aklhak dan karakter yang baik, ini baru orang yang hebat. Dan setiap guru-guru yang ada mengajarkan tentang hal itu, dimana membentuk karakter dan akhlak dari pada setiap anak-anak didik.
“Lihat saja di Negara Indonesia, terlebih khusus di Papua, banyak orang pintar dan cerdas, semua mereka selalu korupsi terus, sehingga rakyat hanya menjadi korban. Tetapi beda, kalau pintar dan cerdas, di barengi dengan aklhak dan karakter yang baik seperti kristus, mereka akan menjadi lilin di tengah kegelapan, dan memang itu kerinduan terbesar saya membangun pendidikan berpola asrama di Papua,’ papar Daneil menjelaskan.
Selain itu Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire, A.H Sihombing pernah berkomentar tentang keberadaan Yayasan ini, ketika memberikan kata sambutan dalam acara yang di selenggakan oleh SMA Kristen Anak Panah, salah satu sekolah yang didirikan Yayasan ini.
“PESAT Nabire hadir telah membantu meringankan beban pemerintah daerah, dimana bisa mendidik dan membina anak-anak Papua untuk menjadi manusia. Saya sangat berterima kasih untuk kerja ini. Banyak Yayasan di Kabupaten Nabire, tetapi kerja mereka tidak becus, namun selalu minta aggaran pendidikan dari kami, tetapi berbeda dengan Yayasan PESAT, lebih banyak bekerja, dari pada meminta,’ tandas Sihombing.
Lebih lanjut menurutnya, PESAT telah menyatakan bahwa membangun Pendidikan di Kabupaten Nabire, uang bukan segalanya, tetapi kesungguhan dan motivasi untuk mendidik-lah yang harus di kedepankan. Ini harus menjadi contoh bagi yayasan-yayasan, serta sekolah-sekolah yang lain di Kabupaten Nabire.
Kendala Mendidik Anak-anak Papua
Selain itu, menurut Kepala salah satu asrama di Nabire, Gestinov Hutubesy S.T bahwa mendidik anak-anak Papua sangat susah, di perlukan pendekatan kasih sayang, agar mereka bisa berubah. “mendidikan anak-anak Papua yang datang dari berbagai tempat, serta berbagai latar belakang memang sangat susah, tetapi kami menggunakan pendekatan kasih sayang, sehingga bersyukur anak-anak kami bisa menerima ini, dan banyak dari antara mereka yang memilki karakterk sangat baik, sopan, ramah, serta bergaul dengan siapa saja,” pungkasnya.
Lebih lanjut pak Gestinov mengatakan bahwa mereka mendidik anak-anak Papua dengan kasih, sehingga kedepannya anak-anak ini bisa membawah terang kepada siapa saja, terutama keluarga mereka sendiri. Dan kami sangat berkeyakinan, bahwa orang tua mereka juga akan di senang, melihat perubahan sikap hidup anak-anak mereka.
Banyak prestasi yang anak-anak kami torehkan, seperti ada beberapa anak-anak yang selalu mewakili sekolahnya untuk ikut Olimpiade di Jayapura, bahkan ada beberapa yang sempat ke Jakarta, dan tinggal lama di sana. Ini merupakan kebanggaan tersendiri buat kami yang di Asrama maupun Yayasan, dimana keluh kesah kami mendidik tidak sia-sia.
“selain itu juga, anak-anak kami telah belajar menulis melalui bulletin AGAPE yang mereka terbitkan setiap bulannya secara berkala. Disini terlihat anak-anak kami memilki potensi-potensi yang sangat luar biasa. Dan mereka tetap belajar dan belajar untuk mengembangkan Bulletin Asrama yang mereka miliki, tetapi pesan saya untuk mereka, jangan sekali-kali mengabaikan tugas utama, yaitu sekolah,” pungkasnya.
Sekolah dan Asrama
Selama 12 Tahun hadir di Papua, terlebih khusus di Nabire, Pesat telah membangun sangat banyak asrama, dan mereka sempat berpindah-pindah tempat. Terdapat 4 asrama. Asrama Anugerah (untuk anak-anak laki-laki SMP hingga SMA), Asrama Agape (untuk anak-anak perempuan SD), asrama gilgal (untuk anak-anak laki-laki dan perempuan TK hingga SD), dan terakhir asrama Yudea (untuk anak-anak perempuan SMP hingga SMA).
Sedangkan sekolah, ada beberapa taman kanak-kanak. Seperti TK Agapae, TK Shekina, TK Samabusa, TK Wanggar, dan ada beberapa TK lainnya di pinggiran kota Nabire. Pada umumnya, taman kanak-kanak ini di kelolah oleh yayasan Pesat, dengan latar belakang para guru yang umumnya di datangkan dari daerah jawa.
Selain itu, ada SD Kristen Agape yang berdiri sejak Pesat masuk di Kabupaten Nabire, kemudian berikutnya di dirikan SMP Kristen Anak Panah, setelah itu secara bertahap didirikan lagi SMA Kristen Anak Panah. Sampai saat ini, SMA Anak panah telah menamatkan dua angkatana, dan semua lulusan memang betul-betul tinggal didik di asrama sejak taman kanak-kanak hingga mereka lulus.
Jumlah anak-anak asrama secara keseluruhan, hampir mencapai 300 anak. Sebagian besar, atau hampir seluruhnya anak asli Papua. dan berasal dari berbagai daerah di Papua, seperti dari Kabupaten Intan Jaya (suku moni), Kabupaten Paniai (suku mee), serui, biak, bahkan ada yang dari daerah pegunungan Papua (suku dani).
Mereka semua hidup sangat bersahabat, dan terlihat hubungan kekerabatan yang sangat besar. Mereka sepertinya telah menjadi satu keluarga dalam sebuah yayasan. Dan bagi mereka, moment penting saat tinggal di asrama, akan selalu di kenang saat kemana saja mereka berpergian.
Setiap lulusan yang menamatkan SMA akan dikirim ke luar Papua untuk kuliah sesuai dengan kemampuan anak-anak itu. “kami berharap setiap anak bisa berprestasi, supaya kita bisa sekolahkan sampai di perguruan tinggi” jelas Eliezer Edo Odo, Ketua Yayasan Pesat Nabire, dalam sebuah kesempatan ketika duduk memberikan kejelasan kepada anak-anak Asrama.
Pelayanan PESAT, selain di Kabupaten Nabire, ada 9 tempat lagi yang mereka layani, seperti telah membuka sekolah-sekolah di Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Timika bekerja sama dengan LPMAK, serta beberapa daerah kecil lainnya di Papua. PESAT lebih khususkan diri bergerak di bidang pendidikan dan Kesehatan untuk Papua.(madiba)
Wednesday, December 02, 2009
15 Tahun PESAT Membangun Pendidikan Berpola Asrama di Papua
Saturday, January 03, 2009
Sugapa, Kota Atas Awan
Udara pagi terasa dingin membeku, suasana hening sesekali diselingi gemuruh angin yang menghantam tebing dan menghilang setelah menyusuri lembah. Hangatnya kehidupan mulai terasa ketika terdengar suara anak-anak memuji Tuhan, pujian itu membawa harapan dan cerita akan masa depan bagi setiap orang yang tinggal jauh dibalik gunung berbalut awan dan hampir tak terjangkau . ( Oleh : F.W. Manshande)
Tulisan ini bisa di baca juga dalam www.anakindonesiamembangun.org Catatan kecil diatas sebetulnya sudah mewakili seluruh keberadaan Pelayanan Pesat di pedalaman Sugapa, melalui TK Cenderawasih. Sama seperti sekolah yang ada di Nabire, TK Cenderawasih mendidik anak-anak dengan pola Asrama.
Bedanya anak-anak yang dididik belum semua mengenal bahasa Indonesia, dan betul-betul masih membawa karakter khas pedalaman. Pendidikan utama ditempat seperti ini sebetulnya bukan terletak pada bidang akademis, namun lebih diutamakan pada impartasi kehidupan dari guru dan pengasuh kepada setiap murid. Mandi, gosok gigi, makan teratur, dan pola hidup sehat adalah bagian dari impartasi yang terjadi. Proses impartasi ini bisa berjalan dengan baik karena mereka hidup bersama dalam satu lingkungan kecil yang disebut Asrama. Apa yang dilakukan oleh guru atau pengasuh, itulah yang dilihat dan ditirukan oleh anak-anak, sebagai sebuah pelajaran kehidupan.
Semua itu berlangsung setiap hari selama satu tahun dengan tetap disertai pendidikan kerohanian dan akademis. Setelah usia masa satu tahun, anak-anak yang mengalami perkembangan, dikirim ke Nabire untuk melanjutkan pendidikannya, dan tanpa terasa anak-anak yang pertama kami didik sekarang sudah lulus SMP dan akan masuk SMA di Nabire.
Beberapa anak Sugapa yang melanjutkan sekolah di Nabire memiliki prestasi yang sangat bagus. Hal ini sangat membanggakan kami, dan ini adalah bukti bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam mengutus dan menempatkan setiap pelayanan.
Sebelumnya kami tidak pernah mengetahui bahwa di pedalaman seperti Sugapa ada anak-anak yang hebat, dengan ini kami semakin yakin bahwa Papua memiliki putra-putri terbaik yang siap memberkati dunia. Kami juga melihat, bahwa bahwa pelayanan kami harus ditingkatkan lagi, karena kami menemukan anak-anak yang sudah lulus TK Cenderawasih namun tetap tinggal atau tidak dilanjutkan ke Nabire, mereka kembali lagi pada kehidupan semula.
Asrama Agape, (oktopogau.com) Sebetulnya kami terbeban untuk lebih maksimal lagi di Sugapa, termasuk bisa menjangkau dan terus melayani anak-anak yang tidak melanjutkan ke Nabire. Tetapi semua harus direncanakan dengan matang, karena untuk menjangkau Sugapa diperlukan biaya yang cukup besar. Salah satu kendalanya adalah sarana transportasi, Sugapa hanya dapat dijangkau dengan pesawat terbang. Sehingga semua kebutuhan menjadi sangat mahal, untuk itu kami membuka diri untuk bekerjasama dengan mereka yang memiliki hati untuk kemajuan Pendidikan Papua.
Tahun lalu, kami telah membangun gedung TK berkat dukungan dari Yayasan Patmos, tahun ini kami masih punya beban untuk membangun kembali Asrama, karena sejak pertama dibangun belum pernah diperbaiki.
Biarlah Tuhan memberkati kerinduan anak-anak Sugapa untuk membangun kota atas awan, sehingga pujian itu membawa harapan dan cerita akan masa depan bagi setiap orang yang tinggal jauh dibalik gunung berbalut awan dan hampir tak terjangkau, menjadi nyata.
Thursday, October 23, 2008
Wajah Nabire Yang Semakin Kusam
NABIRE- pogauokto.blogspot.com Perselisihan dan perdebatan yang terjadi antara Pemerintah Daerah, KPUD, DPRD dan beberapa Aliansi yang ada di Nabire tak kunjung selesai. Malahan dari hari ke hari semakin menggenaskan. Bahkan bisa di simpulkan telah terjadi perpecahan yang diluar dugaan semua masyarakt Nabire.
Media adalah Senjata utama untuk menyelesaikan perdebatan itu. Baik media masa maupun media elektronik. Nyaris yang menjadi korban adalah rakyat jelata, atau masyarakat Kabupaten Nabire. Dimana masyarakat hanya bisa menyaksikan dan mendengar perdebatan yang kadang kala keuntungannya hanya untuk segelintir orang tertentu, bukan memihak kepada kepentingan rakyat
Secara tidak langsung, sebetulnya masyarakat Kabupaten Nabire kalau saja diberikan kesempatan untuk berbicara maka dengan tegas mereka akan bilang, bahwa kami bosan dan jenuh dengan perdebatan yang selalu di nyanyikan oleh kalian para petinggi di daerah ini. Dan kami sadar nyanyian itu kalian nyayikan untuk kepentingan perut kalian.
Karena menjelang Pilkada, dimana pun apalagi di Negara Indonesia yang namanya perdebatan menjelang Pilkada selalu saja dipertontonkan. Bukan tidak mungkin juga, dengan perdebatan itu beberapa pasangan cari nama “cari muka” suapya rakyat bisa tahu, seakan-akan dirinya menjadi dewi dalam pelindung dan pengayom masyarakat.
Sekarang rakyat telah begitu sadar dan mengerti. Percuma berdebat dan berbicara panjang lebar di berbagai media masa, masyarakat juga sudah bisa menilai kualitas dan kuantatif kalian. Masyarakat yang hidup di zaman dulu dengan zaman sekarang berbeda. Kalau dulu, boleh diputar balik dengan berbagai iming-iming tertentu.
Persoalan utama dalam beberapa perdebatan itu seperti; status Perda 22 Tahun 2007 yang dinilai merugikan beberapa pihak di Kabupaten Nabire, beberapa anggota KPUD yang di tuntut oleh DPRD sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam Pilkada Nabire untuk di PAW-kan, kemudian hasil keputusan KPU Provinsi yang di nilai telah merugikan banyak pihak dengan menetapkan verifikasi ulang para kandidat.
Salah satu Calon Wakil Bupati Nabire, Joko Susilo dalam Koran Papua Post beberapa edisi yang lalu mengukapkan dengan jelas, bahwa pemerintah daerah dan DPRD yang telah mengecewakan dan meresahkan masyarakat Kabupaten Nabire. Yang sekaligus mengukapkan dengan jelas, bahwa Perda 22 tidak perlu di pakai lagi di daerah ini.
Tentunya banyak alasan yang dipakai untuk memperkuat pendapat itu. Mungkin karena beberapa warga pendatang telah turut ikut membangun daerah ini, beberapa jabatan penting di daerah ini pernah mereka embani, kemudian jumlah warga pendatang yang sangat banyak jumlahnya, melebihi orang asli Papua.
Tetapi bukankah Otonomi Khusus yang di berikan oleh pemerinah pusat tujuh tahun lalu menjadi senjata untuk membuat Perda itu. Dengan jelas dalam undang- undang Otonomi Khusus diamanatkan orang asli Papua menjadi tuan di atas tanah sendiri. Tidak lain, keluarnya amanat otsus itu supaya masyarakat asli Papua lebih diberdayakan lagi dalam mengendalikan dan mengolah seluruh kekayaan alamnya.
Contoh paling simpel, adakah orang Papua menjadi Camat, Kepala Lurah, Kepala Dinas, Dandim dan beberapa jabatan sturuktural lainnya di sekian banyak Kabupaten yang ada di luar pulau Papua. Sampai ayam tumbuh gigipun orang Papua tidak akan pernah mengembani jabatan itu. Sebagaimana orang Papua menghargai dan sadar betul kondisi, situasi dan posisi mereka. Tidak pernah berpikir panjang untuk mengembani jabatan penting di daerah orang lain. Apalagi sampai berambisi begitu tinggi.
Dengan demikian sudah sangat jelas, Perda 22 Tahun 2007 harus diberlakukan. Karena Perda 22 Tahun 2007 ini menunjukan jati diri, kualitas dan kuantitas orang asli Papua. Nah, kalau perda 22 Tahun 2007 tidak diberlakukan ,hukum mana lagi yang mau dipakai untuk memberdayakan orang asli Papua ditanah kelahirannya sendiri. Menyakitkan bukan? Menjadi babu ditanahnya sendiiri.
Papua Post Edisi 20 September lalu, Ketua Fraksi Parta Persatuan Demokrasi Indonesia, Fransiskus Tekege mengancam akan menuntut KPUD Nabire dan KPU Provinsi apabila dilakukan tahapan verifikasi ulang. Dengan berbagai alasan yang kiranya sangat masuk akal dan perlu untuk di perbincangkan.
Bahkan Frans juga menyatakan mereka telah menyiapkan beberapa pengacara handal dari Jayapura untuk mengajukan banding terhadap pengadilan, jika saja keputusan yang mereka buat beberapa hari lalu tetap dilaksanakan dan di tindaklanjuti.
Memang menyakitkan kalau saja kita berada di posisi yang dirugikan. Dan saya sendiri yakin posisi pak Fransiskus Tekege pada saat itu bukan oknum yang dirugikan dengan keputusan itu. Karena dirinya tidak pernah diikutkan dan tidak berada di oknum kandidat siapapun. Mungkin yang terlintas dalam pikirannya ingin membantu beberapa kandidat yang telah dirugikan dengan ulah KPUD Nabire dan KPU Provinsi pada saat keputusan itu diambil.
Lantas yang menjadi pertanyaan, factor apa yang dirugikan? Pada saat KPUD Nabire memutuskan untuk menarik nomor undian dalam tahapan kampanye, maka dengan sesegera mungkin beberapa kandidat yang tidak ingin diam dengan secepatnya telah membelanjakan beberapa barang dan alat untuk berkampanye. Bahkan kemarin saya juga sempat mendapatkan brosur milki salah satu kandidat bupati dan wakil bupati Nabire, disertai dengan nomor urut mereka. Padahal kepastiannya belum begitu jelas.
Jadi pada intinya, beberapa kandidat telah membelanjakan barang dan alat untuk kampanye, dengan mengeluarkan sekian banyak uang. Bukan daun yang mereka keluarkan tetapi uang, nah yang jadi pertimbangan bagaimana nanti kalau-kalau verifikasi ulang sehingga nomor urutpun tidak sedemikian keputusan awal, dirugikan bukan? Dan bukan tidak mungkin ketika mereka tidak lolos tahapan verifikasi berikutnya maka dengan geram dan amarahnya mereka akan mengancam dan menuntut KPUD Nabire dan KPU Porvinsi. Bahkan bukan tidak mungkin juga kalau masa mereka akan bertindak anarkis di kota ini.
Selain kedua topic yang diperdebatkan diatas, ada satu topic lagi yang tentunya tidak kalah menarik untuk dibahas. Status beberapa anggota KPUD Nabire yang masih simpang siur, antara dipecat dan tetap dipertahankan.
Dengan jelas beberapa saat lalu Penias Pigay, sebagai wakil rakyat yang duduk di dewan legislative yang mempunya tanggung jawab dalam Pilkada Kabupaten Nabire meminta supaya beberapa anggota KPUD Nabire di PAW-kan. Banyak alasan yang dikemukakannya. Diantaranya, perbuatan tidak terpuji yang mereka lakukan terhadap public (berbohong) dengan berbagai pemberitaan manis.
Kenyataan yang terjadi harus di kuak kebenarannya. Tetapi bertolak belakang dari usulan DPRD Nabire, karena surat KPU Provinsi Papua No. 219/P/VI/Z-KPU/2008 19 Januari 2008 pada huruf “e” dan “t” sudah sangat jelas mengatakan bahwa KPUD Nabire tetap melaksanakan tugasnya dengan menyelenggarakan Pilkada di Kabupaten Nabire hal ini dikemukan oleh Hendrik Andoi pada Papus Post Nabire, Jumat 26 September lalu.
Keluar dari pada tulisan pak Hendrik Andoi beberapa hari kemarin, sedikit ditinjau, bukankah Keputusan KPUD Provinsi itu dikelurkan sebelum adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak KPUD Nabire. Kita mengharapkan Pilkada yang bersih, jujur dan adil kalau saja pihak penyelenggaranya masih bermasalah. Dan bukan tidak mungkin, seperti yang di ungkapkan oleh Dianus Youw beberapa saat lalu bahwa KPUD jangan sampai mencetak pimpinan daerah yang rusak.
Nah, yang jadi persoalan bagaimana mau mencetak pimpinan daerah yang bermartabat dan bermoral, sedangkan pihak penyelenggara dalam hal ini KPUD Nabire saja telah bersalah dan cacat hokum. Kalau tetap KPUD Nabire tetap dipertahankan, jangan sesali kalau pada masa pemerintahannya nanti sang pimpinan daerah tersebut keluar dari jalur-jalur hokum yang ada.
Jadi sudah begitu jelas, bahwa masyarakat pantai maupun gunung tidak mengharapkan pimpinan daerah yang rusak dan ambruk moralitasnya. Dengan demikian suatu keharusan kalau beberapa anggota KPUD yang bermasalah harus di PAW-kan. Ini merupkan suatu keharusan. Karena masyarakat Nabire tidak menginginkan pimpinan daerah yang rusak moral dan mentalnya seperti beberapa anggota KPUD saat ini. Sudah jelaskan alasannya?
Saya bukan orang yang pandai berpolitik, lagian menyakitkan dan menyebalkan kalau berbicara politik terus. Dan goresan tulisan ini hanya di ungkapkan atas dasar kebenaran fakta yang sedang terjadi dan sudah terjadi. Dan tulisan ini dibuatpun bukan untuk mengelompok-kelompokan pihak atau oknum tertentu, melainkan di buat supaya adanya kesadaran beberapa pihak yang telah disebut diatas untuk kembali ke Rel-nya.
Ingat masyarakat Kabupaten Nabire bukan warga masyarakat yang sungguh sangat primitive, mereka bisa menilai mana yang layak, mana yang mampu dan mana yang memilki beban untuk mengubah mereka. Sehingga percuma saja mempopulerkan diri dengan berbagai media yang ada, karena hanya buang-buang uang saja, alangkah baiknya gunakan itu tiba saatnya untuk kampanye!
(Penulis adalah Siswa SMA Kristen Anak Panah Nabire, tinggal di Asrama Pesat Kalibobo. Kunjungi webblog: www.pogaufree.blogspot.com