OCTHO- Senin, (09/09)lalu berlangsung upacara pelantikan ketua Organisasi Intra Sekolah (Osis) terpilih SMP dan SMA Kristen Anak Panah Terpadu, Nabire. Upacara pelantikan ini berlangsung sejak pukul 07.00 hingga selesai di halaman sekolah SMP dan SMA Kristen Anak Panah Terpadu, Nabire.
Dalam arahannya, kepala sekolah SMP Kristen Anak Panah terpadu, Peris Banjarnahor, S.Pd mengingatktan agar semua siswa dan guru memberikan dukungan penuh kepada ketua Osis baru yang telah terpilih “saya himbau kepada semua guru maupun siswa-siswi di SMP dan SMA Anak Panah, agar kita berikan dukungan penuh kepada mereka yang telah terpilih, agar sekolah menjadi tempat belajar yang menyenangkan”.
Selain itu, ketua Osis terpilih dengan perangkat kepengurusannya harus bekerja maksimal agar beberapa kegiatan sekolah yang belum berjalan tetap di jalankan. “saya salut keberanian, serta kesiapan kalian untuk menjadi pemimpin siswa di sekolah ini, dan kerjakan tanggung jawab serta kepercayaan yang siswa dan guru berikan kepada kalian” tandasnya.
Selain arahan dari kepala sekolah SMP, kepala sekolah SMA Kristen Anak Panah, Julius Andi, M.Pd juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan sambutannya. Dalam arahannya Julius mengajak siswa-siswi untuk lebih tekun belajar, serta memberikan semangat kepada ketua Osis terpilih yang nantinya menjalankan tugas.
“ketua Osis, baik SMP maupun SMA yang terpilih adalah suara setiap siswa di sekolah ini, jadi dukung, pacu serta topang mereka, agar mereka bias mengarahkan dan membawah sekolah dan siswanya menjadi yang unggul. Beberapa bidang dan seksi yang telah terbentuk, harus saling membantu dan saling menopang, agar program-program sekolah yang telah di tetapkan bisa berjalan dengan baik”.
Pemilihan ketua Osis SMP dan SMA Kristen Anak Panah Terpadu sendiri telah dilangsungkan pada Sabtu, (07/09) lalu. Dimana ketua Osis SMP terpilih adalah Kaleb Rawar, wakilnya Lazarus Samanui, sekertaris Emira Talenggen, serta bendarahnya Mira Sadriana. Sedangkan SMA Kristen Anak Panah sendiri, ketua Osis terpilih adalah Rimai Raharusun, wakil Daniel Sudjarwo, sekertaris Melianus Duwitau, serta bendarahanya Fanuel Dwi Arwam.
Guru pendamping SMP Kristen Anak Panah, Budi Santoso, S.Sos serta pendamping Osis SMA Kristen Anak Panah, Niko Rahanra, ST merasa sangat puas dengan pembentukan perangkat Osis yang baru ini. “harapan kami mereka dapat bekerja maksimal untuk mewujudkan sekolah yang mendidik dan mencerdaskan peserta didik,” pungkas Budi Santoso, S.Sos
Sejak terpilih, mereka akan menjalankan tugas serta tanggung jawab yang telah di berikan. Banyak seksi yang terbentuk dalam pemilihan kali ini, seksi minat dan bakat, seksi olahraga, seksi kebersihan, seksi keamanan, seksi kerohanian serta seksi seni dan budaya. Semua diharapakan bekerja maksimal untuk kemajuan SMA dan SMP Kristen Anak Panah Terpadu yang mandiri serta mencetak seorang pemimpin yang dapat membangun tanah Papua. (pogau)
Monday, August 31, 2009
Pelantikan Ketua Osis SMP dan SMA Kristen Anak Panah Terpadu Berlangsung
Tuesday, April 21, 2009
Penyelenggaraan UN Berlangsung Dengan Aman
OCTHO- Penyelenggaran Ujian Nasional (UN) di SMA Kristen Anak Panah pada hari pertama berlangsung dengan aman. Hal ini di kemukakan kepala sekolah SMA Kristen Anak Panah Dra. Hanna Widja, M.A di ruang kerja, Senin, 19 April, kemarin.
Menurut Dra. Hanna Widjaya, UN ini berlangsung dengan aman, karena berkat kerja sama dari semua siswa dan para guru yang ikut bertugas menjadi pengawas UN. Lebih lanjut ibu tiga anak ini mengemukakan, bahwa masih ada 4 hari kedepan UN akan di berlangsungkan.
Karena itu, lanjutnya peran kerja sama yang baik dari para guru dan siswa masih tetap di harapkan. Jumlah siswa yang mengikuti UN di SMA Kristen Anak Panah sendiri sangat sedikit. Tidak seperti kebanyakan sekolah lain yang siswanya standar 50 siswa.
“kami memang dalam setiap tahun penerimaan siswa baru, menerima murid paling banyak 40 orang, hal ini karena ruang kelas yang tidak memadai. Dan rencananya akan menerima lagi banyak siswa, ketika bangungan yang sedang di selesaikan selesai” terang beliau.
Sembari mengakhiri obrolan, Dra. Hanna Widjaya mengemukakan bahwa harapannya dengan Ujian Nasional ini siswa-siswinya dapat lulus semua. “saya sebagai kepala sekolah, sangat berharap anak didik saya yang jumlahnya sedikit ini dapat lulus semua dengan hasil yang memuaskan” imbuhnya.
Tuesday, November 04, 2008
Menggali Bakat Siswa, SMA Anak Panah Menggelar Lagi Kegiatan PAS
NABIRE- Untuk menumbuh kembangkan bakat, minat serta talenta yang siswa miliki, maka kami sebagai pihak pendidik menyadari perlu adanya suatu ajang atau kegiatan rutin yang di lakukan untuk tetap konsisten dengan hal itu maka PAS ini adalah ajangnya, hal ini disampaikan Drs. Hana Wijaya dalam arahannya di depan ratusan siswa-siswi di halaman SMA Anak Panah, Nabire-Papua saat berlangsungnya acara pembukaan PAS senin (3/11) lalu.
“PAS sendiri kepanjangan dari, Pendidikan Anak Seutuhnya, dimana anak didik (siswa, red) diberikan kesempatan untuk lebih mengoptimalkan beberapa talenta dan bakat yang dimilki, karena ketika hal ini tidak di kembangkan, maka dengan sendiri bakat itu akan terkubur, ini yang sangat kami sayangkan sehingga kami tetap dan selalu konsisten untuk penyelenggaraan kegiatan ini.
“Dalam kegiatan ini, semua siswa-siswa yang bersekolah di SMA Anak Panah di wajibakan untuk ikut. Karena ini adalah agenda penting dari sekolah, dan juga telah tertera dalam Kurikulum Pendidikan Nasional. Kalaupun ada yang tidak ikut, kami dari sekolah mempunya sanki sendiri terhadap mereka, “terang wanita yang alumni dari Universitas Indonesia ini.
Ketua Panitia, Richard Winarti S.Th saat di konfrimasi juga membenarkan tujuan di adakannya PAS. Dimana terangnya, anak didik diberikan arahan dan bimbingan agar mengoptimalkan segala kelebihan yang telah di anugerahkan padanya. Lebih lanjut, guru Penjaskes di SMA Anak Panah ini mengukapkan, bahwa dengan adanya kegiatan ini kita ingin menyadarkan para siswa-siswi agar mereka menyadari dan mengenal dirinya, dimana letak kemampuan dan kelebihan yan Tuhan karuniakan kepada mereka.
“Yang sekaligus dalam kegiatan PAS ini, kami selaku Pembina dan pendidik ingin melatih Kecerdasan Emosional mereka, dimana mengarahkan mereka dalam menjaga dan menstabilkan emosi mereka, yang kadang kala tidak labil ketika menghadapi situasi yang tidak memungkinkan. Kita selalu mengasah kecerdasan Inteleqtual mereka di sekolah, nah ajang PAS ini adalah tempatnya untuk kami melatih kecerdasan emosional mereka, “terangnya dengan tersenyum lebar.
Adapun beberapa ajang perlombaan yang di adakan, yakni Pertandingan Futsal, Badminton, tennis meja, bola Volly, takrauw, cerdas Cermat antara kelas meliputi semua mata pelajaran dan yang terakhir adalah lomba memperindah ruang kelas.
Di gelarnya kegiatan PAS sendiri mendapat apresiasi yang serius dari para siswa-siwa, misalnya Kristian Sondegau Siswa Kelas X mengkupkan bahwa dengan adanya PAS ini, lebih mendorong dan memberi kita semangat dalam belajar, karena kita selalu dapat pelajaran teori dari sekolah, dan kami rasa PAS ini adalah ajangnya untuk kami praktekan semua itu, dan saya sangat senang kalau sekolah-sekolah lain yang ada di Nabire ini bisa menggelar kegiatan seperti ini lagi, supaya siswa-siswa yang ada di sekolahnya tidak jenuh dan bosan, “ucapnya mantap.
Thursday, October 23, 2008
Tidak Mempergunakan Waktu Dengan baik
KEMARIN seharusnya saya posting tulisan ini, karena ini berita hari kemarin, tapi dasar pemalas dan suka tunda-tunda pekerjaan jadi nggak sempat ku posting, lagian saya juga sempat ngajarin beberaa teman untuk belajar buat fs, kan malu, curhat kok dilihat teman, kalau diliha teman dunia maya, iyah nggak papa.
Saya lanjutkan lagi yah, Upacara selesai. Saya dan beberapa teMan saya yang terlambat di panggil ama guru saya. Secara mengenjutkan guru kami memberikan hukuman, yang rasanya hukuma itu saya pribadi tidak pantas tuk trima
Ngaak papalah, saya sebagai siswa harus menerima semua itu. Kami disuruh untuk Push Up, suatu olahraga yang disering dilakuk an oleh beberaa olahragawan, padahal saya bukan olahragwan lho, (dasar anak malas). Seraya meletakan kaki dan tangai di tehel sekolah yang pada saat itu tidak terlalu bersih, maka sayapun harus push up di saksikan beberapa pasang mata yang agak menghina dan mengejek saya, yah...trima aja.
Belum selesai beban dan kesusahan saya,setelah hukuma di lakukan saya harus langsung memasuki ruang kelas dan memulai pelajaran (ulangan) yang kiranya akan diberlangsungkan sebentar lagi. Guru yang kami tunggu akhirnya datang juga. Dengan membawah kertas hasil copyan, maka ulanganpun siap diberlangsungkan.
Pusing keliling, karena belum belajar satupun, menyesali dan menyalahkan diri tidak ada gunanaya, kuberpikir sejenak, coba aja waktu itu saya memutuskan tuk belajar, dan tidak habis begitu banyak waktu untuk didepan Laptop, palingan sayapun bisa mengeisi soal yang dikasih sama seperti teman2 saya yang bisa mengisi soal2 itu.
Untungnya ada beberapa soal yang agak mudah, jadi tanpa belajarpun saya sedikit bisa mengerjakan itu. Nggak apalah, yang penting bisa mengikuti dan mengerkan soal. daripada nggak ikut sama sekali kan malu juga, heheeheheheh.
Ulangan dikumpulkan dengan begitu santainya, nggak tahun dapat nilai berapa besok saat ulangan di bagikan, dapat berapapun hasilnya itu adalah suatu kenyataan yang saya harus terima dengan lapang dada. Bukan berarti menyerah dengan keadaan lho, tapi sadar akan kesalahan dan kebrutalan yang saya lakukan.
Dan ini juga menjadi renungan panjang yang harus saya renungkan, bagaimana harus menghargai dan memaknai waktu dengan begitu baik. Supya dikemudian hari tidak membawah kekesalan dan kerugian pada diri kita.
"HARGAILAH WAKTU YANG ADA, KARENA WAKTU TIDAK BISA BERPUTAR KEMBALI"
Hal Paling Memalukan dI Hari Senin
BERTOBAT dan sadarlah, kapan mau maju dan berkembang kalau begini-begini terus. Hal itu yang keluar dari mulut saya ketika saya sedang menyetrika baju yang kotor dan kusaM di pagi hari.
Baju lupa cuci, celana juga demikian, lainnya halnya dengan beberapa pelajaran sekolah, sama sekali ku hiraukan begitu saja, :D padahal semua itu sangat penting untuk perkembangan karir dan kesuksesan saya.
Hari itu hari senin, seperti biasa selalu diadakan upacara bendera di sekolah. Berharap tidak terlambat sayapun bergegas mandi, walaupun mengenakan baju yang agak kotor dan kusam karena keburu setrika sayapun bersiap untuk berangkat sekolah :)
Jarak sekolah dengan rumahku (asrama) tidak bergitu jauh, hanya 10 meter. Dan tentunya kapanpun saya bisa mendengarka bel sekolah yang di bunyikan. dan tentunya ini sangat membantu saya.
Namun yang menyedihkan dan menyakitkan adalah saya terlambat juga berangkat sekolah, sehingga sayapun tidak di ijinkan untuk mengikuti upacara bendera oleh guru saya.
Aneh dan aneh, rumah dekat, bel bisa kudengarkan ketika dibunyikan dan makan telah tersedia oleh pengasuh-pengasuh asrama yang sangat rajin, apa girangan sehingga semua itu bisa terjadi.
Tentunya tanda tanya yang harus di jawab, telinga saya tuli?? tentunya tidak saya diciptakan oleh Tuhan secara normal. Mata saya buta tidak juga, saya diciptakan dengan penglihatan yang normal.
Kalau begitu APA GIRANGAN YANG MEMBUAT SAYA TERLAMBAT SEKOLAH????
Wajah Nabire Yang Semakin Kusam
NABIRE- pogauokto.blogspot.com Perselisihan dan perdebatan yang terjadi antara Pemerintah Daerah, KPUD, DPRD dan beberapa Aliansi yang ada di Nabire tak kunjung selesai. Malahan dari hari ke hari semakin menggenaskan. Bahkan bisa di simpulkan telah terjadi perpecahan yang diluar dugaan semua masyarakt Nabire.
Media adalah Senjata utama untuk menyelesaikan perdebatan itu. Baik media masa maupun media elektronik. Nyaris yang menjadi korban adalah rakyat jelata, atau masyarakat Kabupaten Nabire. Dimana masyarakat hanya bisa menyaksikan dan mendengar perdebatan yang kadang kala keuntungannya hanya untuk segelintir orang tertentu, bukan memihak kepada kepentingan rakyat
Secara tidak langsung, sebetulnya masyarakat Kabupaten Nabire kalau saja diberikan kesempatan untuk berbicara maka dengan tegas mereka akan bilang, bahwa kami bosan dan jenuh dengan perdebatan yang selalu di nyanyikan oleh kalian para petinggi di daerah ini. Dan kami sadar nyanyian itu kalian nyayikan untuk kepentingan perut kalian.
Karena menjelang Pilkada, dimana pun apalagi di Negara Indonesia yang namanya perdebatan menjelang Pilkada selalu saja dipertontonkan. Bukan tidak mungkin juga, dengan perdebatan itu beberapa pasangan cari nama “cari muka” suapya rakyat bisa tahu, seakan-akan dirinya menjadi dewi dalam pelindung dan pengayom masyarakat.
Sekarang rakyat telah begitu sadar dan mengerti. Percuma berdebat dan berbicara panjang lebar di berbagai media masa, masyarakat juga sudah bisa menilai kualitas dan kuantatif kalian. Masyarakat yang hidup di zaman dulu dengan zaman sekarang berbeda. Kalau dulu, boleh diputar balik dengan berbagai iming-iming tertentu.
Persoalan utama dalam beberapa perdebatan itu seperti; status Perda 22 Tahun 2007 yang dinilai merugikan beberapa pihak di Kabupaten Nabire, beberapa anggota KPUD yang di tuntut oleh DPRD sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam Pilkada Nabire untuk di PAW-kan, kemudian hasil keputusan KPU Provinsi yang di nilai telah merugikan banyak pihak dengan menetapkan verifikasi ulang para kandidat.
Salah satu Calon Wakil Bupati Nabire, Joko Susilo dalam Koran Papua Post beberapa edisi yang lalu mengukapkan dengan jelas, bahwa pemerintah daerah dan DPRD yang telah mengecewakan dan meresahkan masyarakat Kabupaten Nabire. Yang sekaligus mengukapkan dengan jelas, bahwa Perda 22 tidak perlu di pakai lagi di daerah ini.
Tentunya banyak alasan yang dipakai untuk memperkuat pendapat itu. Mungkin karena beberapa warga pendatang telah turut ikut membangun daerah ini, beberapa jabatan penting di daerah ini pernah mereka embani, kemudian jumlah warga pendatang yang sangat banyak jumlahnya, melebihi orang asli Papua.
Tetapi bukankah Otonomi Khusus yang di berikan oleh pemerinah pusat tujuh tahun lalu menjadi senjata untuk membuat Perda itu. Dengan jelas dalam undang- undang Otonomi Khusus diamanatkan orang asli Papua menjadi tuan di atas tanah sendiri. Tidak lain, keluarnya amanat otsus itu supaya masyarakat asli Papua lebih diberdayakan lagi dalam mengendalikan dan mengolah seluruh kekayaan alamnya.
Contoh paling simpel, adakah orang Papua menjadi Camat, Kepala Lurah, Kepala Dinas, Dandim dan beberapa jabatan sturuktural lainnya di sekian banyak Kabupaten yang ada di luar pulau Papua. Sampai ayam tumbuh gigipun orang Papua tidak akan pernah mengembani jabatan itu. Sebagaimana orang Papua menghargai dan sadar betul kondisi, situasi dan posisi mereka. Tidak pernah berpikir panjang untuk mengembani jabatan penting di daerah orang lain. Apalagi sampai berambisi begitu tinggi.
Dengan demikian sudah sangat jelas, Perda 22 Tahun 2007 harus diberlakukan. Karena Perda 22 Tahun 2007 ini menunjukan jati diri, kualitas dan kuantitas orang asli Papua. Nah, kalau perda 22 Tahun 2007 tidak diberlakukan ,hukum mana lagi yang mau dipakai untuk memberdayakan orang asli Papua ditanah kelahirannya sendiri. Menyakitkan bukan? Menjadi babu ditanahnya sendiiri.
Papua Post Edisi 20 September lalu, Ketua Fraksi Parta Persatuan Demokrasi Indonesia, Fransiskus Tekege mengancam akan menuntut KPUD Nabire dan KPU Provinsi apabila dilakukan tahapan verifikasi ulang. Dengan berbagai alasan yang kiranya sangat masuk akal dan perlu untuk di perbincangkan.
Bahkan Frans juga menyatakan mereka telah menyiapkan beberapa pengacara handal dari Jayapura untuk mengajukan banding terhadap pengadilan, jika saja keputusan yang mereka buat beberapa hari lalu tetap dilaksanakan dan di tindaklanjuti.
Memang menyakitkan kalau saja kita berada di posisi yang dirugikan. Dan saya sendiri yakin posisi pak Fransiskus Tekege pada saat itu bukan oknum yang dirugikan dengan keputusan itu. Karena dirinya tidak pernah diikutkan dan tidak berada di oknum kandidat siapapun. Mungkin yang terlintas dalam pikirannya ingin membantu beberapa kandidat yang telah dirugikan dengan ulah KPUD Nabire dan KPU Provinsi pada saat keputusan itu diambil.
Lantas yang menjadi pertanyaan, factor apa yang dirugikan? Pada saat KPUD Nabire memutuskan untuk menarik nomor undian dalam tahapan kampanye, maka dengan sesegera mungkin beberapa kandidat yang tidak ingin diam dengan secepatnya telah membelanjakan beberapa barang dan alat untuk berkampanye. Bahkan kemarin saya juga sempat mendapatkan brosur milki salah satu kandidat bupati dan wakil bupati Nabire, disertai dengan nomor urut mereka. Padahal kepastiannya belum begitu jelas.
Jadi pada intinya, beberapa kandidat telah membelanjakan barang dan alat untuk kampanye, dengan mengeluarkan sekian banyak uang. Bukan daun yang mereka keluarkan tetapi uang, nah yang jadi pertimbangan bagaimana nanti kalau-kalau verifikasi ulang sehingga nomor urutpun tidak sedemikian keputusan awal, dirugikan bukan? Dan bukan tidak mungkin ketika mereka tidak lolos tahapan verifikasi berikutnya maka dengan geram dan amarahnya mereka akan mengancam dan menuntut KPUD Nabire dan KPU Porvinsi. Bahkan bukan tidak mungkin juga kalau masa mereka akan bertindak anarkis di kota ini.
Selain kedua topic yang diperdebatkan diatas, ada satu topic lagi yang tentunya tidak kalah menarik untuk dibahas. Status beberapa anggota KPUD Nabire yang masih simpang siur, antara dipecat dan tetap dipertahankan.
Dengan jelas beberapa saat lalu Penias Pigay, sebagai wakil rakyat yang duduk di dewan legislative yang mempunya tanggung jawab dalam Pilkada Kabupaten Nabire meminta supaya beberapa anggota KPUD Nabire di PAW-kan. Banyak alasan yang dikemukakannya. Diantaranya, perbuatan tidak terpuji yang mereka lakukan terhadap public (berbohong) dengan berbagai pemberitaan manis.
Kenyataan yang terjadi harus di kuak kebenarannya. Tetapi bertolak belakang dari usulan DPRD Nabire, karena surat KPU Provinsi Papua No. 219/P/VI/Z-KPU/2008 19 Januari 2008 pada huruf “e” dan “t” sudah sangat jelas mengatakan bahwa KPUD Nabire tetap melaksanakan tugasnya dengan menyelenggarakan Pilkada di Kabupaten Nabire hal ini dikemukan oleh Hendrik Andoi pada Papus Post Nabire, Jumat 26 September lalu.
Keluar dari pada tulisan pak Hendrik Andoi beberapa hari kemarin, sedikit ditinjau, bukankah Keputusan KPUD Provinsi itu dikelurkan sebelum adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak KPUD Nabire. Kita mengharapkan Pilkada yang bersih, jujur dan adil kalau saja pihak penyelenggaranya masih bermasalah. Dan bukan tidak mungkin, seperti yang di ungkapkan oleh Dianus Youw beberapa saat lalu bahwa KPUD jangan sampai mencetak pimpinan daerah yang rusak.
Nah, yang jadi persoalan bagaimana mau mencetak pimpinan daerah yang bermartabat dan bermoral, sedangkan pihak penyelenggara dalam hal ini KPUD Nabire saja telah bersalah dan cacat hokum. Kalau tetap KPUD Nabire tetap dipertahankan, jangan sesali kalau pada masa pemerintahannya nanti sang pimpinan daerah tersebut keluar dari jalur-jalur hokum yang ada.
Jadi sudah begitu jelas, bahwa masyarakat pantai maupun gunung tidak mengharapkan pimpinan daerah yang rusak dan ambruk moralitasnya. Dengan demikian suatu keharusan kalau beberapa anggota KPUD yang bermasalah harus di PAW-kan. Ini merupkan suatu keharusan. Karena masyarakat Nabire tidak menginginkan pimpinan daerah yang rusak moral dan mentalnya seperti beberapa anggota KPUD saat ini. Sudah jelaskan alasannya?
Saya bukan orang yang pandai berpolitik, lagian menyakitkan dan menyebalkan kalau berbicara politik terus. Dan goresan tulisan ini hanya di ungkapkan atas dasar kebenaran fakta yang sedang terjadi dan sudah terjadi. Dan tulisan ini dibuatpun bukan untuk mengelompok-kelompokan pihak atau oknum tertentu, melainkan di buat supaya adanya kesadaran beberapa pihak yang telah disebut diatas untuk kembali ke Rel-nya.
Ingat masyarakat Kabupaten Nabire bukan warga masyarakat yang sungguh sangat primitive, mereka bisa menilai mana yang layak, mana yang mampu dan mana yang memilki beban untuk mengubah mereka. Sehingga percuma saja mempopulerkan diri dengan berbagai media yang ada, karena hanya buang-buang uang saja, alangkah baiknya gunakan itu tiba saatnya untuk kampanye!
(Penulis adalah Siswa SMA Kristen Anak Panah Nabire, tinggal di Asrama Pesat Kalibobo. Kunjungi webblog: www.pogaufree.blogspot.com