OCTHO- Perang antar suku yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya perlu mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah Daerah, jika di biarkan, dampaknya sangat buruk untuk pembangunan di Kabupaten Intan Jaya kedepan. Hal ini di tegaskan salah satu Tokoh Intelektual Kabupaten Intan Jaya, Anton Mirip, SE kepada media ini Kamis (18/03) kemarin.
Menurutnya, masyarakat Intan Jaya membutuhkan pembangunan, jika terjadi lagi perang antar suku, maka cita-cita melihat Kabupaten Intan Jaya yang maju dan berkembang hanya mimpi belaka. “Kita sudah lama menantikan pembangunan di Kabupaten Intan Jaya, jangan ada kegiatan negative yang dapat menghambat pembangunan, salah satunya perang suku itu sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut menurut Anton, oknum-oknum yang menimbulkan perang suku di Kabupaten Intan Jaya harus segera di proses. “Perang suku bisa terjadi karena ulah oknum-oknum tertentu, oleh sebab itu pemerintah daerah bekerja sama dengan aparat keamanan harus menangkap mereka. Kalau tidak, dampaknya untuk masyarakat luas sangat berbahaya,” urainya.
Kami minta kebiasaan perang suku yang selalu terjadi di Timika sana jangan di bawah sampai di Kabupaten Intan Jaya. Karena masyarakat Intan Jaya saat ini sedang menantikan pembangunan. Dulunya Intan Jaya adalah daerah yang aman, namun sejak perang suku yang terjadi sekitar tahun 2007 lalu membuat daerah ini bisa konfliki terus.
“Di Tahun 2007 lalu saat konflik, memang Kabupaten belum masuk, sekarang bebeda, Kabupaten telah masuk, sehingga masyarakat Intan Jaya harus mengerti, dan menerima kehadiran pemekaran Kabupaten baru ini. Jika kita timbulkan konflik terus, sama saja kita tidak siap menerima pembangunan,” tegasnya.
Kata Anton, saat ini semua menantikan pembangunan, bukan hal-hal lain, termasuk perang suku. Ini zaman sudah modern, jika terjadi perang suku terus, otomatis kita akan di tertawakan daerah lain. “saya sebagai anak asli Intan Jaya rasa bersedih jika intan Jaya perang suku terus, padahal ada masyarakat lain yang menantikan pembangunan, Jangan ada lagi korban yang berjatuhan karena perang ini,” jelasnya.
Pemerintah Daerah Intan Jaya, bersama dengan aparat keamanan di minta memberikan perhatian yang serius terkait hal ini. “Pemda dan aparat keamanan perlu memberikan perhatian kepada persoalan ini, jika ada yang terbukti bersalah di proses hukum saja, karena sudah tentu mereka mengambat pembangunan di Kabupaten Intan Jaya,” tegas Anton mengakhiri komentarnya.
Sekedar di ketahui, perang antara suku kembali terjadi lagi di Kabupaten Intan Jaya, Distrik Agisiga dan Hitadipa, telah memakan korban I jiwa. Kabar yang beredar, perang suku tersebut di sebabkan oleh persoalan wanita. Hingga saat ini perang suku masih terus berlangsung. (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Thursday, March 18, 2010
Terjadi Lagi Perang Suku di Intan Jaya, Pemda Diminta Sikapi Serius
Tuesday, March 09, 2010
Ketika Harus Mengambil Keputusan
Tragedi Malam Sabtu di Pantai Maf
OCTHO- Mencintaimu dengan setulus hati, ungkapan dari segala ungkapan kata hati yang sebenarnya ingin aku sampaikan agar kau mengatahuinya. Aku ingin, agar kau selalu berada dalam bayang-bayang cinta dan kasih diriku. Betul-betul aku ingin mengatakan, bahwa kau memang tercipta untuk aku.
Ah, tapi semua sudah terlambat. Tidak mungkin waktu bisa di putar kembali. Waktu telah memberikan kita banyak pilihan, pilihan untuk memutuskan sesuatu, pilihan untuk “merubah” diri dan jalan hidup, serta waktu untuk hidup lebih baik lagi.
Sudah setahun lebih kita jalin hubungan, dan saat itu pula aku beranggapan kau salah satu dari sekian banyak “hati” yang pernah aku singgahi, yang akan memberikan ketenangan sepanjang hidupku. Memang berlebihan aku menilaimu, namun itu yang bisa aku simpulkan dari semua “pergulatan” batin ini.
Malam itu sepertinya sangat-sangat kelam, ketika kau dan beberapa temanmu harus menjebak aku, untuk menyatakan, untuk mengatakan, serta untuk menguji siapa diriku yang sebenarnya? Bagiku itu sangat baik, sangat-sangat baik, tapi cara itu sangat-sangat tidak manusiawi. Mungkin pantai Maf jadi saksi, siapa yang bersalah, dan siapa yang berdosa?
Ulah dari pada ketidakmanusiawi itu telah terbukti, aku harus mengambil keputusan, keputusan yang memang terlalu cepat. Aku menyesali, namun aku juga tidak menyesali karena itu setimpal dengan perbuataanmu, dan perbuataan teman-temanmu.
Kata-kata yang keluar dari mulut aku pada saat itu hanyalah lampiasaan amarah belaka, jangan di percayai, betul aku sekali lagi ingin katakan, jangan sekali-kali memercayai. Kalian semua adalah wanita-wanita Papua yang hebat, terbukti kalian cantik, baik, perhatian, serta sangat-sangat polos. Itu kelebihan kalian wanita Papua, dari pada wanita lain di dunia ini.
Waktu telah memberikan dirinya untuk aku memutuskan semua jalan itu, sukar, bahkan tidak akan bisa kembali lagi, walau bayang-bayang, serta kenangan masa lalu masih menghantui dirimu dan diriku. Kau mungkin telah memiliki banyak pria idola di luar sana, mungkin juga banyak pria yang telah mengidolakanmu, katakan, tegur, serta sapalah mereka, siapa tahu mereka orang terbaik, yang lebih baik dari diri aku.
Aku selalu bermimpi, dimana aku akan pergi, namun aku tidak tahu, dimana akan aku pergi. Pergi untuk masa depan, tanah Papua, serta pergi untuk “jalan hidup” yang lebih baik lagi. Dalam waktu rantauan itu, aku akan memutuskan, memilih serta menentukan arah dan jalan hidup yang baru lagi, termasuk memilih dan memutuskan siapa “kekasih” yang pantas menemani diriku.
Ulasan ini tidak bermaksud “membela diri”, tidak bermaksud ralat perkataan kotor yang keluar dari mulut aku saat itu, bahkan tidak bermaksud membuat ingat kembali semua kenangan-kenangan indah itu. Ini hanyalah bentuk apresiasi serta bentuk kepedulian diriku mengenal kau, dan kalian wanita-wanita Papua yang hebat.
Saya bukan pengecut, bahkan bukan penghianat. Tapi saya hanyalah manusia biasa, yang sedang hidup, untuk ikut, dengar, serta taat pada jalan hidup, bahkan serta suara kata hati. Takluk pada kata hati, takluk pada suara hati, keduanya untuk merubah hidup lebih baik lagi.
Ulasan ini saya tulis di larut malam, mengantuk, capek, bahkan jenuh itu sudah pasti. tapi rasanya telah terbebas, ketika unek-unek dari hati ini harus di salurkan, dimana tidak harus memikirkan serta tidak harus “menangisi” jalan hidup yang kadang tidak sesuai dengan ego dan mau kita.
Asrama Anugerah,
Pukul 22.30 Wit
Tuesday, March 02, 2010
Nicholas Messet Menghadirkan Konflik Baru di Papua
OCTHO- Konflik di Papua ada sejak tahun 1963, dan sejak itupula banyak orang Papua yang menjadi korban dari kepentingan penguasa. Otsus bukan akar konflik di Papua, melainkan salah satu akar konflik "yang sengaja di ciptakan." Jika ada orang yang berjuang seperti pahlawan dalam membela Otsus, patut di pertanyakan, punya kepentingan apa di Papua, dan punya kepentingan apa dengan Jakarta. Nick Messet salah satu orang Papua yang perlu di awasi, argumentasinya di berbagai media masa mengarah pada konflik internal sesama orang Papua.
Tidak begitu penting memberikan argumentasi di ruang yang begitu terbuka dan bebas begini, tapi saya rasa sangat-sangat penting, agar kita tidak memercayai, meyakini bahkan ikut termakan isu oleh salah satu manusia serakah (Nick Messet) yang menyamar jadi “malaikat” dengan argumentasinya terkait Otsus dan Papua.
Beberapa hari belakangan ini saya amati terus komentar-komentar singkat yang di lontarkan oleh Nickolas Meset, salah satu orang Papua yang selalu klaim diri sebagai mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tanggapan dan komentarnya selalu menghiasi media local maupun media nasional. Seharusnya pers berimbang, tidak memberitakan tanggapannya secara sepihak, tapi entahlah, itu tugas dan peran pengabdian mereka.
Dalam beberapa penjelasan singkat yng diberikan secara resmi oleh TPN/OPM baca http://finance.groups.yahoo.com/group/media-intim/message/704 maupun PDP (dulu nick gabung disini) baca http://papua.startpagina.nl/prikbord/read.php?1432,5865782 mengatakan dengan jelas bahwa beliau bukanlah Menlu, hanyalah "simpatisan" biasa. posisinya sama dengan masyarakat awam dalam perjuangan Papua merdeka.
Sebutan atau klaim menlu OPM bagi Nick adalah daya tawar yang beliau "pajangkan" untuk "dibeli" dan "dilahap" oleh pemerintah Pusat (bahkan wakil Presiden kala itu, JK menjadi korban dari pengakuan nick yang sangat-sangat tidak berdasar). Memang terbukti menjadi lahapan mereka, untuk menjawab kepentingan mereka dan kepentingan pribadi nick sendiri, bukan masyarakat Papua seperti yang Nick selalu klaim.
Sudah sangat-sangat jelas, Jakarta saat ini memasang dua orang Papua, yaitu Nick Messet dan Albert Joku untuk menimbulkan konflik baru di tanah Papua. Konflik ini di munculkan dan akan terjadi sesama orang asli Papua, konflik antara pejabat Papua dan masyarakat Papua, konflik antara pemuda Papua dan pejabat Papua. Dan mereka juga memang “dipasang” untuk mengacaukan segala bentuk perjuangan rakyat Papua untuk melihat Papua yang bermartabat dan damai. contoh kongkrit, mereka sangat-sangat tidak sepaham jika menjadikan dialog sebagai proses untuk mencapai solusi.
Mereka dengan jelas mengatakan dalam berbagai media masa, bahwa rakyat Papua tidak pernah menginginkan dialog, namun hanya musyarawah biasa saja antara orang Papua sendiri. Rakyat Papua mana yang pernah sampaikan argumentasi ini pada mereka? Ini yang di sebut dengan “penjilat” yang selalu mengaku diri mempunyai masa dan rakyat. Apa ada rakyat yang percaya dan taat pada omongannya, patut di selidiki jika memang ada.
Dalam seminar buku "Integrasi Telah Selesai, tanggapan kritis atas buku Papua Road Map (PR)" yang di selenggarakan beberapa bulan lalu di Jogja memang menjadi saksi bisu. Bahwa Nick betul-betul menjadi kaki tangan pemerintah Indonesia, dan aparat di Indonesia untuk menimbulkan konflik baru, yang terstruktur, dan lebih jahat lagi di bumi Papua.
Dalam seminar tersebut Nick selalu mengatakan bahwa "Bodohlah rakyat, penjabat, hingga orang asli Papua yang tidak mau berusaha untuk hidup damai, tentram, bahkan aman" pernyataan yang sungguh sangat bodoh, dan pernyataaan yang memang bermotif kepentingan perut pribadi semata. Nick tidak menyadari, jika konflik di Papua, karena kepentingan yang sedang dia jalankan juga.
Tolol juga orang ini pikirku saat itu, menyalahkan orang Papua, rakyat Papua dan tanah Papua seakan-akan beranggapan bahwa Papua adalah sebuah negara kecil (walau suatu saat keinginan ini pasti akan tercapai). Beliau saat tidak menyadari, bahwa Jakarta, Militer, dan pengusaha memilki KEPENTINGAN yang sangat amat besar di bumi Papua, hingga terus menerus konflik bisa ada. Orang Papua tidak pernah menginginkan konflik, namun pengusa sengaja menghadirkannya, agar kepentingan mereka tetap terus terjawab. Ini yang nick (seorang doktor tolol dari Swedia) tidak pahami. Dan Nick juga harus paham, bahwa keputusan dan kebijakan tertinggi ada pada pemerintah pusat, Jakarta. Papua dan pemerintahannya hanyalah perpajangan tangan yang menjalankan kebijakan mereka semata.
Saya tidak tahu, sengaja di buat tidak paham atau memang tidak paham betul. yang pasti pilihan pertama, dimana sengaja di buat tidak paham, semua untuk kepentingan pribadi (perut, ketenaran, dan nama baik, mungkin juga jabatan). Ironis, membunuh sesamanya untuk kepentingan pribadi semata. Jahat bukan????
Selain itu, nick selalu mengatakan bahwa “saya datang dari Swedia ke Papua untuk membuat rakyat sejahtera di era Otsus” pikirku saat itu lebih tolol lagi orang ini. Jakarta sengaja menghambur-hamburkan uang di Papua, agar konflik terus menerus terjadi. Jakarta ingin orang Papua tidak maju, tidak berkembang, berharap ke mereka saja, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa bekerja.
Ingat, Firman Tuhan dengan jelas-jelas mengatakan bahwa “UANG ADALAH AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN” berarti Jakarta sengaja kasi orang Papua uang banyak, berarti sama saja dengan mereka kasih KEJAHATAN terus ada di Papua. sekali lagi sa mau katakan, tolol benar, nick messet seorang dokter kanak-kanak dari Swedia, tidak bisa analisa persoalan secara baik dan mendalam. Ini memang betul-betul di buat “bodoh dan tolol” oleh Jakarta untuk kepentingan semua mereka.
Dan yang lebih aneh lagi, Nick mengatakan dengan jelas bahwa soal Integrasi telah selesai, dan tidak perlu di bicarakan lagi, bahkan katanya PEPERA 69 sah secara hukum. Saya bingung, harus memberi label apa lagi pada orang ini, ketika kebenaran di putarbalikan menjadi kesalahan. Awalanya beranggapan bahwa Indonesia setan sekarang menyatakan Indonesia adalah TUHAN. Menjual harga diri juga tidak sekejam dan sekeji orang ini. Jahat, terkutuk, dan memalukan kata batinku.
Persoalan integrasi adalah persoalan paling urgent yang belum di selesaikan sampai saat ini. PEPERA 69 sudah jelas-jelas melanggar hukum, baik hukum intenasional maupun nasional sendiri. Dan karena soal integrasi yang “di kebiri” itupula yang bisa membuat konflik ada di Papua, bukan persoalan Otsus, Uang, Korupsi dan lain sebagainya. Semua kita harus memahami itu.
Mengakhiri tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan sebuah pesan pendek, bahwa jangan pernah percaya dengan Nicholas Messet, Alberth Jocku dan mendiang Nicolas Jouwe, mereka hanya perpanjangan tangan dari Jakarta untuk mengamankan kepentingan Jakarta dan kepentinga mereka di tanah Papua.
Selain itu, buat teman-teman media yang sering meliput atau sering menuliskan komentar-komentar mereka terkait Otsus dan Papua, agar berlaku imbang, layaknya seorang wartawan yang memang betul-betul memahami kode etik jurnalistik. Konfrimasi dengan beberapa pihak yang bisa menjawab argumentasi yang mengarah kepada perpecahan rakyat Papua dan tanah Papua adalah hal yang paling penting. Tulisan ini tidak ada maksud lain, selain menjawab "tuntutan batin" untuk bicara yang benar bagi rakyat Papua. Salam.
Oktovianus Pogau adalah seorang Jurnalis Muda, saat ini tinggal dan menetap di pinggiran Kota Nabire. Dapat di hubungi melalui E-mail: oktovianus_pogau@yahoo.co.id
Saturday, February 27, 2010
Bupati Intan Jaya Diminta Memberikan Kepastian Terkait Nasib CPNS Yang Tidak Lolos
Max Zonggonau: Saya Akan Perjuangkan Nasib Mereka
OCTHO- Penjabat Bupati Kabupaten Intan Jaya diminta memberikan kepastian kepada anak-anak asli Intan Jaya, khususnya lulusan SMA/SMK dan sederajat lainnya yang tidak diterima pada formasi tahun 2009 kemarin. Hal ini di sampaikan John JR Belau, salah satu perwakilan masa saat memberikan keterangan kepada media ini, Minggu (28/02) kemarin.
Menurut John beberapa kali telah diadakan pertemuan, namun Penjabat Bupati dan Sekda belum memberikan kepastian soal nasib mereka pada penerimaan CPNS pada formasi berikutnya. “kami sudah ketemu dengan Bupati dan Sekda terkait tuntutan ini, namun sampai saat ini mereka belum memberikan respon positif. Kami menyampaikan tuntutan itu, karena memang itu menjadi hak kami sebagai anak putra daerah” tegas John.
Selain itu, lanjut John kami yakin Penjabat Bupati sebagai penanggung jawab politik dan Kepala Dearah di Kabupaten Intan Jaya dapat memberikan kepastian atau jawaban terkait tuntutan dan harapan ini. “Bupati dan Sekda tentu sangat mengerti, munculkan konflik di Kabupaten Intan Jaya saat pembangunan baru mau di jalankan itu suatu hal yang tidak baik, kami yakin mereka dapat mengakomodir hal ini” imbuhnya.
Kabupaten Intan Jaya di mekarkan telah menjawab tangisan masyarakat Intan Jaya yang ada di enam distrik (Sugapa, Biandoga, Agisiga, Hitadipa, Wandai, Homeo), jangan sampai penerimaan hasil CPNS yang tidak berpihak pada mereka ini melahirkan bentuk konflik di Kabupaten Intan Jaya sendiri.
“dulu saat Intan Jaya belum di mekarkan, kami selalu pergi ke Paniai, Timika bahkan di Nabire untuk tes PNS, karena kami juga ingin makan. Namun kamu selalu di tolak bagai anak tiri yang tidak punya ibu. Sekarang Kabupaten Intan Jaya hadir telah menjadi ibu kami, beri kesempatan kepada kami untuk cari makan di daerah kami sendiri” tegasnya.
Selain itu menurutnya, dalam aksi demo beberapa waktu lalu telah di sepakati memilih 5 (lima) orang perwakilan aksi masa untuk bertemu dengan bapak Bupati. Kelima orang itu adalah Jeri Duwitau, John Belau, Jhon Sani, Markus Sondegau, dan Sakarias Yarinap. “kami lima saat itu telah bertemu dengan bapak Bupati dan Sekda, namun kami tidak menemukan jaminan yang pasti tentang nasib teman-teman. Kami saat itu betul-betul berjuang untuk nasib teman-teman, kami tidak memilki kepentingan sama sekali” pungkasnya.
Sembari mengakhiri komentarnya, John mengatakan mereka patuh dan taat kepada amanat UU Otsus yang ada, dimana menjadi tuan di atas tanah kelahirannya sendiri. “kami patuh pada amanat Otsus, karena Intan Jaya memang tempat kami di lahirkan” tegasnya.
Sementara itu Penjabat Bupati Kabupaten Intan Jaya, Max Zonggonau ketika di hubungi media ini via telepon selulurnya membenarkan adanya tuntutan tersebut. Dan menurutnya soal anak-anak asli Intan Jaya lulusan SMA/SMK dan sederajat lainnya yang tidak lolos pada penerimaan Formasi tahun 2009 lalu, akan di perjuangkan pada penerimaan berikutnya.
“saya akan perjuangkan nasib mereka pada penerimaan CPNS berikutnya, jadi adik-adik yang tidak lolos pada formasi tahun 2009 kemarin di mohon bersabar. Kita sama-sama ciptakan suasana yang baik dan kondusif di Kabupaten Intan Jaya, agar pemekaran dapat memberikan manfaat kepada masyarakat umum” tegasnya singkat.
Menurut sumber media ini, tes seleksi CPNS untuk Formasi tahun 2010 akan di laksanakan pada bulan Juni secara serentak di beberapa daerah, termasuk Kabupaten-kabupaten yang baru di mekarkan, salah satunya Kabupaten Intan Jaya sendiri. (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Friday, February 26, 2010
Penetapan Kursi DPRD Kabupaten Intan Jaya, Salah
OCTHO Ketua Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang sekaligus anggota DPRD Kabupaten Intan Jaya, Yulius Yapugau kepada JUBI Jumat (26/2) menegaskan, bahwa telah terjadi penyelewengan kursi anggota dewan untuk Kabupaten Intan Jaya oleh KPUD Kabupaten Paniai.
Menurutnya ada beberapa partai politik yang seharusnya mendapatkan kursi lebih, malah di alihkan oleh KPUD Kabupaten Paniai kepada partai lain. “Banyak masalah yang KPUD Kabupaten Paniai buat dalam penetapan dewan, diantaranya tidak sesuai dengan angka BPP yang ada,” imbuhnya.
Yulius memberi contoh misalnya partai PKPB seharusnya mendapat 2 kursi karena memperoleh 30 persen suara, bukan 1 kursi, Partai PKPI seharusny 4 kursi, bukan 3 dan Partai Demokrat, harus 4 kursi karena memperoleh 30 persen suara, bukan 3. “Semua data lengkap dan prosentase baginya ada pada kami, namun KPUD memilki data sendiri yang di manipulasi,” jelasnya.
“Kami memang menduga dari awal, bahwa ini permainan KPUD Kabupaten Paniai atau oknum tertentu yang juga memiliki kepentingan. Data-data yang kami punya semua bersumber pada pleno awal tanggal 21 April 2009 lalu” pungkasnya.
Lebih lanjut menurutnya, karena telah terjadi permainan oleh KPUD Kabupaten Paniai, maka pihaknya akan tetap mencari berbagai jalan membuktikan kebenaran itu.
“Kami akan membuktikan sebenarnya siapa yang bersalah dan memilki kepentingan, KPUD Kabupaten Paniai, atau Partai Politik.”
Yulius juga menegaskan bahwa pemilu tidak bisa di ulang, tetapi kalau soal meninjau kembali penetapan yang telah di lakukan bisa saja.
“Kami sangat berharap KPUD Kabupaten Paniai dapat meninjau kembali penetapan yang tidak sesuai atau sepihak ini,” tandasnya. (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Wednesday, February 24, 2010
Kepala BKD Kabupaten Intan Jaya Diminta Mundur
Drs. David Setiawan: Semua Ada Prosedurnya
OCHTO- Kepala Badan Kepegawain Daerah (BKD) Kabupaten Intan Jaya di minta mundur oleh masyarakat Intan Jaya terkait pengumuman hasil tes CPNS Formasi tahun 2009 yang di nilai tidak memihak kepada masyarakat asli Papua, hal ini di sampaikan oleh Tokoh Intelektual Masyarakat Moni, John JR Belau kepada media ini, Rabu (24/02) kemarin.
Menurutnya, Kepala BKD harus orang asli Papua, agar bisa mengakomodir pegawai yang memang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. “kalau orang asli Papua dia pasti tau kebutuhan masyarakat setempat, sehingga pengakatannya bisa sesuai dan tidak menimbulkan konflik” jelasnya.
Lebih lanjut menurut Jhon, bahwa penerimaan CPNS formasi tahun 2009 sangat tidak memuaskan. Karena banyak orang asli Papua, khususnya masyarakat asli Intan Jaya yang tidak di akomodir, sehingga ini perlu menjadi perhatian yang serius.
“membangun Papua harus sesuai dengan roh dan amanat Otsus, demikian halnya dengan penerimaan CPNS di Kabupaten Intan Jaya. Kalau yang di terima dalam penerimaan kali ini banyak non-Papua bukan anak asli Intan Jaya, bagaimana mungkin kita terima” urainya.
Tuntuan agar Kepala BKD Intan Jaya mengundurkan diri bukan muncul dari kalangan muda saja, tapi banyak tokoh adat dan tokoh masyarakat di kampung juga mengehendaki demikian. "mereka butuh seorang pimpinan yang bisa menjawab kerinduan mereka, bukan malah membuat mereka kecewa. Dan kami kira ini adalah solusinya jika Kepala BKD mengundurkan diri.
Sebelum pindah ke Kabupaten Intan Jaya, kepala BKD harus mengundurkan diri dulu. Kami juga sudah pernah menyampaikan tuntutan dan keberataan ini kepada penjabat Bupati dan Sekda, namun sampai saat ini belum ada tanggapan serius” imbuhnya.
Sementara itu Sekda Kabupaten Intan Jaya, Drs. David Setiawan saat di hubungi media ini via telepon selulernya berkomentar lain terkait tuntutan ini, yang menurutnya semua ada mekanismenya. “kita tidak bisa memecat seorang pejabat daerah begitu saja, semua ada prosedur dan mekanisme yang perlu kita patuhi bersama. Bapak Bupati pernah berkomentar saat pertemuan di Aula Maranatha, jika memang beliau melakukan kesalahan yang fatal, sudah tentu akan di proses” terangnya.
Lebih lanjut menurutnya semua perlu bukti. “Jika memang terbukti, yah kita akan proses sebagaimana seorang penjabat. Untuk sampai pada proses pemberhentian ada langkah-langkah yang panjang, pertama; perlu teguran secara lisan, berikutnya teguran secara tertulis, jika tidak di indahkan lagi pemberhentian gaji, dan untuk sampai pada tahap pemberhentian masih panjang” jelasnya.
Sementara itu Penjabat Bupati Intan Jaya, Max Zonggonau pernah berkomentar terkait tuntutan untuk meminta mundur kepala BKD Intan Jaya, saat pertemuan di Aula Maranatha, Sabtu (20/02) lalu. “Jika kepala BKD melakukan kesalahan yang fatal kita bisa melakukannya,” tegas Bupati saat itu di hadapan ratusan masa yang menyampaikan tuntutan. (op)
Sumber: Koran Harian Papua Post Nabire
Tuesday, February 23, 2010
Pesan Che dan Anak Muda Papua?
OCTHO- Ketika berada dalam bayang-bayang tak pasti, hanya satu kegiatan yang sering membuat saya kuat, yaitu ketika membaca penggal-penggal surat yang di tulis oleh seorang kawan dari Bolivia yang telah pergi mendului kita, Ernesto Guevara Lynch de la Serna namanya. Biasanya dia di panggil Che. Seorang revolusioner sejati yang berjuang untuk kemanusiaan di Kuba.
Banyak hal yang Che ajarkan, mulai dari yang baik, bahkan sampai pada hal buruk sekalipun. Bicara baik untuk membela kebenaran, bicara buruk juga untuk membela kebenaran. Che menjadikan hidupnya serba “kekurangan” atas dasar peduli terhadap kemanusian.
Che mengajarkan saya agar tidak percaya pada penguasa yang sering membual. Penguasa yang sering manipulasi data untuk mempertahankan kekuasan. Penguasa yang sering bicara manis untuk sebuah kepentingan terselubung. Penguasa yang hanya mengandalkan kekuasaan dan uang untuk balik menjajah. Che bilang bahwa kekuasaan hanya bisa di runtuhkan ketika ada perlawanan, selagi tidak, kita sedang bermimpi untuk perubahan.
Che juga mengajarkan, bahwa keberaniaan adalah harga diri. Jika kau tidak ada keberaniaan, sama saja kau tidak memunyai harga diri. Keberaniaan menuntut kita untuk bicara benar. Keberaniaan memupuk semangat kita untuk memperjuangkan hak-hak kaum tertindas. Keberaniaan menyatakan tekad kita untuk memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Kalau kau tidak berani, jangan sekali-kali pernah bicarakan perubahan, karena sama saja kau sedang berencana untuk korbankan teman-teman lain.
Che juga mengatakan, bahwa racun segala perubahan adalah ketika anak muda merasa nyaman. Kadang ada anak muda bicara perubahan untuk kepentingan pribadi semata. Kadang ada anak muda yang bicara kemanusian, jika kebutuhannya tidak terpenuhi. Bahkan ada anak muda juga yang bicara untuk mencari posisi, jabatan, kedudukan, bahkan uang sekalipun. Ketika semua telah di dapatkannya, sudah pasti akan melupakan semua yang menjadi idealisme awal. Che bilang kita harus menjauhi mereka, karena bisa saja kita di terkam.
Che juga bilang, bahwa perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal. Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Che mengajarkan bahwa komitmen, kerja keras, serta kerja sama menjadi landasan utama dalam memperjuangkan sebuah perubahan.
Perubahan hanya bisa terjadi jika ada kemauan, jika tidak ada kemauan, sama saja kita sedang bermimpi untuk jatuhnya bulan. Perjuangan memang sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.
Pesan terakhir Che dalam surat untuk anak muda yang selalu menemani saya, adalah pertama; anak muda harus bekerja untuk melawan penindasan. Kedua; melatih dirinya untuk melawan kemapanan. Mungkin kedua hal ini menjadi pesan dari segala pesan dalam suratnya.
Bagaimana dengan anak muda dari Papua? Bicara untuk perubahan, bicara untuk kepentingan pribadi atau justru bicara untuk kedua-duanya. Pilihan ada pada kita, pilihan itu pula yang akan menentukan apa dan bagaimana jadinya diri kita di masa depan nanti. Semoga tidak salah memilih.
Catatan dari Ruang Kelas,
Nabire, 22 February 2010
Pukul 09:46 wit